Cantik

Jika ada predikat untuk orang paling bahagia di sabtu sore yang cerah ini, jelas Bubu-lah pemenangnya. Selama perjalanan menuju Ranca Upas pun lelaki itu tiada hentinya bersenandung riang seraya tersenyum, bertanya hal-hal random kepada Cynthia yang memang berada di sampingnya, seperti ketika mobil mereka melewati jalan menanjak yang banyak tikungannya Bubu akan bertanya.
“Cin, kenapa setiap jalan yang nanjak banyak tikungannya? Kenapa gak lurus aja? Kan gampang gak usah bulak-belok.”
Atau ketika ia melihat Maurine yang mabuk perjalanan.
“Cin, kenapa kalo naik mobil lama-lama kita suka mabok? Padahal kan gak minum alkohol.”
Dan di saat ia melihat langit yang cerah di sore hari itu.
“Cin, awan ada rasanya gak sih kalo dimakan? Kalo iya, awan yang putih pasti rasa vanilla, yang oren rasa jeruk, tapi kalo awan abu-abu rasa apa ya?”
“Rasa yang pernah ada, Bu.” jawab Cynthia asal tapi berhasil membuat lelaki itu tertawa.
Ya, itulah Bubu dengan segala rasa penasaran yang tiada habisnya. Juga Cynthia dan kesabarannya yang seluas samudera jika dihadapkan dengan Bubu, tentu ia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan senang hati. Karena terciptanya obrolan di antara keduanya, perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam itu jadi terasa lebih menyenangkan.
Tak terasa, mobil yang ditumpangi mereka pun sampai tujuan sekitar pukul lima sore, agak terlambat sebab tadi mereka sempat berhenti karena Jeffrey yang mengemudikan mobil mengantuk. Setelahnya Johnny mengambil alih hingga mereka sampai di tujuan kala mentari sudah tidak terlalu terik dan gurat senja sudah mulai terlukis apik.
Kini keenam anak manusia itu tengah mengatur nafas, duduk berselonjor di dataran rumput hijau disertai peluh yang mengucur dari pelipis mereka. Berjalan dari parkiran sampai ke area camping ground ternyata cukup menguras tenaga.
“Cepet pasang tendanya, Jeff. Keburu gelap entar susah.” titah Cynthia kepada saudara kembarnya.
Tanpa menghiraukan titahan itu, Jeffrey justru semakin asyik menatap bukit hijau yang dihiasi warna langit jingga di depan sana. Lelaki itu seperti terhipnotis oleh pesona senja sore itu, ditambah siluet Shitta yang sedang berswafoto turut memanjakan indra penghilatannya.
“Jeff! Lo congean? Denger nggak sih apa yang gue omongin barusan?” Cynthia sedikit menyentak kalimatnya guna menyadarkan Jeffrey.
“Et dah, lo enggak bisa lihat gue nyantai dikit apa? Bentar dong, gue masih capek nih.” keluh lelaki itu mengundang decakkan keluar dari mulut Cynthia.
“Capek apaan? Lo daritadi tidur ya anjir.”
“Lima menit lagi dong, gue lagi menikmati pemandangan nih. Kapan lagi kan gue cuci mata?”
Cynthia hendak menghampiri Jeffrey dan berniat menjewernya agar segera memasang tenda untuk tempat hunian mereka selama berkemah di sini, tapi sebuah suara membuatnya urung. Beruntungnya Jeffrey karena tidak jadi kena damprat.
“Cicin, kalo Bubu ikut pasang tenda boleh?” Pertanyaan penuh harap itu diajukan Bubu begitu saja.
“Ya boleh dong.” respon Cynthia disertai senyuman, air mukanya berubah 180 derajat dibandingkan saat ia berbicara dengan Jeffrey.
“Eum tapi Bubu belum pernah pasang tenda sebelumnya, gimana dong? Apa tetep boleh?”
“Ya bolehlah, nanti sambil belajar aja. Minta ajarin tuh sama Jepri, somplak-somplak begitu juga dia pernah ikutan Pramuka pas SMP. Pasti khatamlah soal masang-masang tenda mah.”
Bubu hanya merespon penuturan gadis di hadapannya dengan anggukan samar. Entah hanya perasaan Cynthia atau tidak, raut wajah lelaki itu mendadak murung.
“Lho, Bubu kenapa? Kok mukanya nekuk gitu? Perkataan aku ada yang salah ya?” Cynthia bertanya penuh inisiatif, khawatir kalau perubahan ekspresi Bubu disebabkan oleh dirinya.
“Enggak kok, bukan salah Cicin.” Lelaki itu menggeleng cepat, “Bubu cuma tiba-tiba kepikiran, rasanya belajar di sekolah umum itu gimana ya? Apa seru Cin?”
“Emang kamu nggak pernah belajar di sekolah umum?” tanya gadis itu hati-hati.
“Belum pernah, soalnya dari kecil Bubu belajar di rumah. Jadi gurunya yang dateng ke rumah gitu, duh namanya apa ya Bubu lupa.”
“Homeschooling?”
“Nah iya itu, karena dulu Bubu sakit-sakitan jadi Papa dan Mama enggak izinin Bubu masuk sekolah umum.” tutur Bubu.
Usai mendengar penuturan lelaki di hadapannya, sepercik rasa iba muncul dalam benak Cynthia. Ternyata kehidupan Bubu sedari dulu memang sudah terlampau berat, tekadnya untuk menorehkan bahagia di hidup lelaki itu pun semakin besar. Ia ingin menjadi salah satu alasan tawa lelaki itu tercipta.
“Ih enak dong homeschooling, aku malah pengen banget homeschooling dari dulu. Sekolah umum tuh gak ada enak-enaknya, belajarnya lama mana tetep dikasih setumpuk tugas buat dikerjain di rumah lagi. Aku aja sampe pernah nangis tau Bu gara-gara kebanyakan tugas.” keluh Cynthia yang sebenarnya bertujuan untuk menghibur Bubu.
“Ih beneran? Cicin kasian banget sampe nangis gitu. Tugasnya susah banget ya?” Cynthia mengangguk sebagai jawaban. “Berarti Bubu beruntung dong bisa homeschooling?”
“Iyalah beruntung banget, pasti dulu kamu jarang dikasih tugas kan? Seiyanya dikasih juga pasti cuma sedikit.” tanya Cynthia yang dibalas anggukan mantap oleh Bubu.
“Tuh kan, selain jarang dikasih tugas kamu juga enggak perlu ketemu temen-temen yang bawa pengaruh buruk buat kamu. Enggak heran kamu tumbuh jadi orang baik kayak sekarang.”
Cynthia mengusap puncak kepala Bubu lembut, sentuhan itu seolah memiliki kekuatan magis sebab dalam sekejap ujung bibir lelaki itu terangkat naik. Jarak keduanya sangat dekat sampai Bubu khawatir detak jantung kacaunya akan didengar Cynthia, perasaan sedih yang sempat merundungnya pun kini telah lenyap karena rasa gugup lebih mendominasi.
Tatapan mereka bertemu tepat saat Bubu mendongakkan wajah, seandainya bisa dirinya ingin menghentikan waktu detik itu juga. Supaya ia bisa lebih lama memandangi rupa elok gadis di hadapannya dengan leluasa.
“Cantik.” gumamnya samar.
“Barusan kamu ngomong apa? Aku gak denger.” Gumaman singkat Bubu ternyata sedikit tertangkap pendengaran Cynthia.
“Tadi Bubu bilang cantik, maksudnya Cicin cantik.”
Cynthia gelagapan dibuatnya, ia segera menyesali sifat keingintahuan yang berujung petaka untuk hatinya sendiri.
'Astaga hati gue. Bubu kalo ngomong kenapa licin banget sih, gue kan jadi nyesel nanya.' sesalnya dalam hati.
Keduanya terhanyut dalam suasana, sampai tanpa sadar wajah masing-masing mereka mulai mengikis jarak. Cynthia menutup matanya perlahan, namun sebuah jitakan mendarat di atas kepalanya.
“Heh!” Suara berat yang dikenali sebagai suara Jeffrey itu menggema, berhasil merusak suasana romantis yang semula tercipta. Baik Cynthia maupun Bubu sama-sama berpaling, wajah masing-masing mereka kini sudah serupa kepiting rebus, merah padam.
“Hayo, lo berdua mau ngapain tadi?” tanya Jeffrey dengan nada mengejek.
“A-apaan? Orang kita gak ngapa-ngapain kok, iya kan Bu?” Cynthia menyenggol lengan Bubu.
“Iya Je, nggak ngapa-ngapain kok kita.”
“Gila ya Bu, gak nyangka gue sama lo. Polos-polos berhadiah.” Senyum jahil Jeffrey makin tercetak jelas, membuat Cynthia naik pitam dan mendorong lelaki itu agar menjauh.
“Dah sono lu masang tenda, usil banget sih idup lu. Awas aja kalo sampe maghrib tendanya masih belum jadi, gue pites ubun-ubun lo.” usirnya.
“Aw, saltingnya bikin takut deh. Ayo Bu kita pasang tendanya, jangan dulu deket-deket orang salting nanti kena pukul.”
Jeffrey tertawa kencang dan segera menarik Bubu, lelaki itu polos itu nurut-nurut saja saat diajak Jeffrey berlari. Sementara Jeffrey semakin menaikkan kecepatan berlarinya karena takut terkena amukan Cynthia yang kini mungkin sudah bertanduk sebab ulahnya.
apa yang kalian harapkan dari sebuah keromantisan kalo ada Jepri di sekitar BuCin? wkwk
©dotaedict