<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>cheenoire</title>
    <link>https://cheenoire.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 02:54:22 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Paper Rings</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings-hhf7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.&#xA;&#xA;Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.&#xA;&#xA;“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”&#xA;&#xA;“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”&#xA;&#xA;“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.&#xA;&#xA;Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.&#xA;&#xA;“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsal rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.&#xA;&#xA;“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.&#xA;&#xA;“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.&#xA;&#xA;“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.&#xA;&#xA;“Lo nggak ngerti, Jeff.”&#xA;&#xA;“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”&#xA;&#xA;“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.&#xA;&#xA;Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.&#xA;&#xA;“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh. &#xA;&#xA;“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa kan? Batu sih lo.” Jeffrey berujar sebal. &#xA;&#xA;“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Ia merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.&#xA;&#xA;“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.&#xA;&#xA;“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.&#xA;&#xA;“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”&#xA;&#xA;Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.&#xA;&#xA;“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”&#xA;&#xA;Jeffrey kemudian mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”&#xA;&#xA;“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”&#xA;&#xA;“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.&#xA;&#xA;“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”&#xA;&#xA;“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.&#xA;&#xA;“Bukan salah kamu.”&#xA;&#xA;“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.&#xA;&#xA;“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Dan berhenti minta maaf.”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.&#xA;&#xA;“Oke.”&#xA;&#xA;Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.&#xA;&#xA;Prok ... Prok ... Prok ...&#xA;&#xA;“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.&#xA;&#xA;Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.&#xA;&#xA;“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi. Emang lo berdua doang yang bisa temu kangen,” sindir Jeffrey. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!” pamitnya secara menyebalkan.&#xA;&#xA;Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?&#xA;&#xA;“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.&#xA;&#xA;“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.&#xA;&#xA;“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo.&#xA;&#xA;‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu.&#xA;&#xA;Ia menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter dan terkesan ambigu sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung bukan main. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.&#xA;&#xA;Ketika tengah memikirkan sesuatu, pandangan Theo tak sengaja tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil menarik atensinya.&#xA;&#xA;“Struk belanja?” monolog Theo pelan sesaat setelah meraih benda tersebut ke genggamannya.&#xA;&#xA;“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.&#xA;&#xA;“Ini struk belanja siapa?”&#xA;&#xA;“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”&#xA;&#xA;“Oh, iya?”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Jadi nggak dipake kan, ya?”&#xA;&#xA;“Mungkin? Lagian cuma struk belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”&#xA;&#xA;“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.&#xA;&#xA;“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.&#xA;&#xA;“Ke toilet dulu bentar.”&#xA;&#xA;“Struknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang tak bertanggungjawab yang tentu kalian tahu siapa.&#xA;&#xA;Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”&#xA;&#xA;Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”&#xA;&#xA;“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”&#xA;&#xA;“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”&#xA;&#xA;“Ciciiiiin.”&#xA;&#xA;“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”&#xA;&#xA;Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.&#xA;&#xA;“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.&#xA;&#xA;“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.&#xA;&#xA;“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?&#xA;&#xA;“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya. &#xA;&#xA;Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam. &#xA;&#xA;“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.&#xA;&#xA;“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini tiba-tiba.&#xA;&#xA;“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”&#xA;&#xA;Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.&#xA;&#xA;“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima tanggapan yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.&#xA;&#xA;“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”&#xA;&#xA;“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.” Theo menunduk dalam.&#xA;&#xA;Cynthia mengangkat dagu lelaki itu oleh sebelah tangannya. “Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong,&#34; pintanya.&#xA;&#xA;“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.” Cynthia mengusap puncak kepala Theo di akhir kalimat.&#xA;&#xA;“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”&#xA;&#xA;“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible,” ujarnya mantap.&#xA;&#xA;“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.&#xA;&#xA;Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.&#xA;&#xA;“Bukan kreatif itu, tapi urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struk belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”&#xA;&#xA;Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ucap Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.&#xA;&#xA;“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.&#xA;&#xA;Candaan itu justru Cynthia tanggapi serius. “Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?” usul Cynthia penuh antusias.&#xA;&#xA;Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap dari bibir Cynthia. &#xA;&#xA;“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.&#xA;&#xA;Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.&#xA;&#xA;— THE END —&#xA;&#xA;---&#xA;Written by C.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.</p>

<p>Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.</p>

<p>“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”</p>

<p>“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”</p>

<p>“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.</p>

<p>Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.</p>

<p>“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsal rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.</p>

<p>“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.</p>

<p>“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.</p>

<p>“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.</p>

<p>“Lo nggak ngerti, Jeff.”</p>

<p>“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”</p>

<p>“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.</p>

<p>Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.</p>

<p>“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh.</p>

<p>“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa kan? Batu sih lo.” Jeffrey berujar sebal.</p>

<p>“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Ia merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.</p>

<p>“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.</p>

<p>“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.</p>

<p>“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”</p>

<p>Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.</p>

<p>“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”</p>

<p>Jeffrey kemudian mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”</p>

<p>“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”</p>

<p>“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.</p>

<p>“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”</p>

<p>“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.</p>

<p>“Bukan salah kamu.”</p>

<p>“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.</p>

<p>“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Dan berhenti minta maaf.”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.</p>

<p>Prok ... Prok ... Prok ...</p>

<p>“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.</p>

<p>Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.</p>

<p>“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi. Emang lo berdua doang yang bisa temu kangen,” sindir Jeffrey. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!” pamitnya secara menyebalkan.</p>

<p>Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?</p>

<p>“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.</p>

<p>“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.</p>

<p>“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo.</p>

<p>‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu.</p>

<p>Ia menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter dan terkesan ambigu sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung bukan main. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.</p>

<p>Ketika tengah memikirkan sesuatu, pandangan Theo tak sengaja tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil menarik atensinya.</p>

<p>“Struk belanja?” monolog Theo pelan sesaat setelah meraih benda tersebut ke genggamannya.</p>

<p>“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.</p>

<p>“Ini struk belanja siapa?”</p>

<p>“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”</p>

<p>“Oh, iya?”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Jadi nggak dipake kan, ya?”</p>

<p>“Mungkin? Lagian cuma struk belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”</p>

<p>“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.</p>

<p>“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.</p>

<p>“Ke toilet dulu bentar.”</p>

<p>“Struknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang tak bertanggungjawab yang tentu kalian tahu siapa.</p>

<p>Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”</p>

<p>Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”</p>

<p>“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”</p>

<p>“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”</p>

<p>“Ciciiiiin.”</p>

<p>“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”</p>

<p>Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.</p>

<p>“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.</p>

<p>“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.</p>

<p>“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?</p>

<p>“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya.</p>

<p>Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam.</p>

<p>“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.</p>

<p>“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini tiba-tiba.</p>

<p>“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”</p>

<p>Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.</p>

<p>“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima tanggapan yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.</p>

<p>“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”</p>

<p>“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.” Theo menunduk dalam.</p>

<p>Cynthia mengangkat dagu lelaki itu oleh sebelah tangannya. “Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong,” pintanya.</p>

<p>“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.” Cynthia mengusap puncak kepala Theo di akhir kalimat.</p>

<p>“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”</p>

<p>“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible,” ujarnya mantap.</p>

<p>“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.</p>

<p>Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.</p>

<p>“Bukan kreatif itu, tapi urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struk belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”</p>

<p>Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ucap Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.</p>

<p>“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.</p>

<p>Candaan itu justru Cynthia tanggapi serius. “Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?” usul Cynthia penuh antusias.</p>

<p>Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap dari bibir Cynthia.</p>

<p>“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.</p>

<p>Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.</p>

<p><strong>— THE END —</strong></p>

<hr/>

<p><strong>Written by C.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings-hhf7</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 15:33:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Paper Rings</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings-246x?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.&#xA;&#xA;Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.&#xA;&#xA;“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”&#xA;&#xA;“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”&#xA;&#xA;“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.&#xA;&#xA;Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.&#xA;&#xA;“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsal rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.&#xA;&#xA;“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.&#xA;&#xA;“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.&#xA;&#xA;“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.&#xA;&#xA;“Lo nggak ngerti, Jeff.”&#xA;&#xA;“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”&#xA;&#xA;“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.&#xA;&#xA;Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.&#xA;&#xA;“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh. &#xA;&#xA;“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa kan? Batu sih lo.” Jeffrey berujar sebal. &#xA;&#xA;“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Ia merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.&#xA;&#xA;“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.&#xA;&#xA;“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.&#xA;&#xA;“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”&#xA;&#xA;Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.&#xA;&#xA;“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”&#xA;&#xA;Jeffrey kemudian mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”&#xA;&#xA;“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”&#xA;&#xA;“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.&#xA;&#xA;“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”&#xA;&#xA;“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.&#xA;&#xA;“Bukan salah kamu.”&#xA;&#xA;“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.&#xA;&#xA;“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Dan berhenti minta maaf.”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.&#xA;&#xA;“Oke.”&#xA;&#xA;Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.&#xA;&#xA;Prok ... Prok ... Prok ...&#xA;&#xA;“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.&#xA;&#xA;Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.&#xA;&#xA;“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi. Emang lo berdua doang yang bisa temu kangen,” sindir Jeffrey. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!” pamitnya secara menyebalkan.&#xA;&#xA;Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?&#xA;&#xA;“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.&#xA;&#xA;“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.&#xA;&#xA;“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo.&#xA;&#xA;‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu.&#xA;&#xA;Ia menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter dan terkesan ambigu sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung bukan main. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.&#xA;&#xA;Ketika tengah memikirkan sesuatu, pandangan Theo tak sengaja tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil menarik atensinya.&#xA;&#xA;“Struck belanja?” monolog Theo pelan sesaat setelah meraih benda tersebut ke genggamannya.&#xA;&#xA;“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.&#xA;&#xA;“Ini struck belanja siapa?”&#xA;&#xA;“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”&#xA;&#xA;“Oh, iya?”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Jadi nggak dipake kan, ya?”&#xA;&#xA;“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”&#xA;&#xA;“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.&#xA;&#xA;“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.&#xA;&#xA;“Ke toilet dulu bentar.”&#xA;&#xA;“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang tak bertanggungjawab yang tentu kalian tahu siapa.&#xA;&#xA;Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”&#xA;&#xA;Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”&#xA;&#xA;“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”&#xA;&#xA;“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”&#xA;&#xA;“Ciciiiiin.”&#xA;&#xA;“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”&#xA;&#xA;Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.&#xA;&#xA;“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.&#xA;&#xA;“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.&#xA;&#xA;“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?&#xA;&#xA;“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya. &#xA;&#xA;Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam. &#xA;&#xA;“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.&#xA;&#xA;“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini tiba-tiba.&#xA;&#xA;“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”&#xA;&#xA;Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.&#xA;&#xA;“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima tanggapan yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.&#xA;&#xA;“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”&#xA;&#xA;“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.” Theo menunduk dalam.&#xA;&#xA;Cynthia mengangkat dagu lelaki itu oleh sebelah tangannya. “Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong,&#34; pintanya.&#xA;&#xA;“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.” Cynthia mengusap puncak kepala Theo di akhir kalimat.&#xA;&#xA;“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”&#xA;&#xA;“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible,” ujarnya mantap.&#xA;&#xA;“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.&#xA;&#xA;Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.&#xA;&#xA;“Bukan kreatif itu, tapi urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”&#xA;&#xA;Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ucap Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.&#xA;&#xA;“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.&#xA;&#xA;Candaan itu justru Cynthia tanggapi serius. “Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?” usul Cynthia penuh antusias.&#xA;&#xA;Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap dari bibir Cynthia. &#xA;&#xA;“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.&#xA;&#xA;Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.&#xA;&#xA;— THE END —&#xA;&#xA;---&#xA;Written by C.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.</p>

<p>Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.</p>

<p>“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”</p>

<p>“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”</p>

<p>“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.</p>

<p>Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.</p>

<p>“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsal rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.</p>

<p>“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.</p>

<p>“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.</p>

<p>“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.</p>

<p>“Lo nggak ngerti, Jeff.”</p>

<p>“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”</p>

<p>“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.</p>

<p>Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.</p>

<p>“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh.</p>

<p>“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa kan? Batu sih lo.” Jeffrey berujar sebal.</p>

<p>“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Ia merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.</p>

<p>“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.</p>

<p>“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.</p>

<p>“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”</p>

<p>Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.</p>

<p>“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”</p>

<p>Jeffrey kemudian mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”</p>

<p>“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”</p>

<p>“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.</p>

<p>“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”</p>

<p>“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.</p>

<p>“Bukan salah kamu.”</p>

<p>“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.</p>

<p>“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Dan berhenti minta maaf.”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.</p>

<p>Prok ... Prok ... Prok ...</p>

<p>“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.</p>

<p>Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.</p>

<p>“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi. Emang lo berdua doang yang bisa temu kangen,” sindir Jeffrey. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!” pamitnya secara menyebalkan.</p>

<p>Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?</p>

<p>“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.</p>

<p>“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.</p>

<p>“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo.</p>

<p>‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu.</p>

<p>Ia menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter dan terkesan ambigu sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung bukan main. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.</p>

<p>Ketika tengah memikirkan sesuatu, pandangan Theo tak sengaja tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil menarik atensinya.</p>

<p>“Struck belanja?” monolog Theo pelan sesaat setelah meraih benda tersebut ke genggamannya.</p>

<p>“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.</p>

<p>“Ini struck belanja siapa?”</p>

<p>“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”</p>

<p>“Oh, iya?”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Jadi nggak dipake kan, ya?”</p>

<p>“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”</p>

<p>“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.</p>

<p>“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.</p>

<p>“Ke toilet dulu bentar.”</p>

<p>“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang tak bertanggungjawab yang tentu kalian tahu siapa.</p>

<p>Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”</p>

<p>Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”</p>

<p>“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”</p>

<p>“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”</p>

<p>“Ciciiiiin.”</p>

<p>“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”</p>

<p>Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.</p>

<p>“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.</p>

<p>“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.</p>

<p>“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?</p>

<p>“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya.</p>

<p>Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam.</p>

<p>“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.</p>

<p>“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini tiba-tiba.</p>

<p>“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”</p>

<p>Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.</p>

<p>“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima tanggapan yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.</p>

<p>“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”</p>

<p>“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.” Theo menunduk dalam.</p>

<p>Cynthia mengangkat dagu lelaki itu oleh sebelah tangannya. “Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong,” pintanya.</p>

<p>“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.” Cynthia mengusap puncak kepala Theo di akhir kalimat.</p>

<p>“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”</p>

<p>“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible,” ujarnya mantap.</p>

<p>“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.</p>

<p>Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.</p>

<p>“Bukan kreatif itu, tapi urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”</p>

<p>Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ucap Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.</p>

<p>“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.</p>

<p>Candaan itu justru Cynthia tanggapi serius. “Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?” usul Cynthia penuh antusias.</p>

<p>Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap dari bibir Cynthia.</p>

<p>“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.</p>

<p>Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.</p>

<p><strong>— THE END —</strong></p>

<hr/>

<p><strong>Written by C.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings-246x</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 14:03:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Paper Rings</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings-l5v2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.&#xA;&#xA;Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.&#xA;&#xA;“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”&#xA;&#xA;“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”&#xA;&#xA;“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.&#xA;&#xA;Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.&#xA;&#xA;“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsat rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.&#xA;&#xA;“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.&#xA;&#xA;“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.&#xA;&#xA;“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.&#xA;&#xA;“Lo nggak ngerti, Jeff.”&#xA;&#xA;“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”&#xA;&#xA;“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.&#xA;&#xA;Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.&#xA;&#xA;“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh. &#xA;&#xA;“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa. Batu.” Jeffrey berujar sebal. &#xA;&#xA;“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.&#xA;&#xA;“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.&#xA;&#xA;“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.&#xA;&#xA;“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”&#xA;&#xA;Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.&#xA;&#xA;“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”&#xA;&#xA;Jeffrey mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”&#xA;&#xA;“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”&#xA;&#xA;“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.&#xA;&#xA;“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”&#xA;&#xA;“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.&#xA;&#xA;“Bukan salah kamu.”&#xA;&#xA;“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.&#xA;&#xA;“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Dan berhenti minta maaf.”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.&#xA;&#xA;“Oke.”&#xA;&#xA;Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.&#xA;&#xA;Prok ... Prok ... Prok ...&#xA;&#xA;“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.&#xA;&#xA;Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.&#xA;&#xA;“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi.” pamitnya. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!”&#xA;&#xA;Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?&#xA;&#xA;“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.&#xA;&#xA;“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.&#xA;&#xA;“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo. ‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu, menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.&#xA;&#xA;Pandangan Theo tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil.&#xA;&#xA;“Struck belanja?” monolog Theo pelan.&#xA;&#xA;“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.&#xA;&#xA;“Ini struck belanja siapa?”&#xA;&#xA;“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”&#xA;&#xA;“Oh, iya?”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Jadi nggak dipake kan, ya?”&#xA;&#xA;“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”&#xA;&#xA;“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.&#xA;&#xA;“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.&#xA;&#xA;“Ke toilet dulu bentar.”&#xA;&#xA;“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang yang tak bertanggungjawab.&#xA;&#xA;Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”&#xA;&#xA;Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”&#xA;&#xA;“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”&#xA;&#xA;“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”&#xA;&#xA;“Ciciiiiin.”&#xA;&#xA;“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”&#xA;&#xA;Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.&#xA;&#xA;“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.&#xA;&#xA;“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.&#xA;&#xA;“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?&#xA;&#xA;“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya. &#xA;&#xA;Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam. &#xA;&#xA;“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.&#xA;&#xA;“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini.&#xA;&#xA;“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”&#xA;&#xA;Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.&#xA;&#xA;“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima fakta yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.&#xA;&#xA;“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”&#xA;&#xA;“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.”&#xA;&#xA;“Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong.”&#xA;&#xA;“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.”&#xA;&#xA;“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”&#xA;&#xA;“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible.”&#xA;&#xA;“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.&#xA;&#xA;Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.&#xA;&#xA;“Bukan kreatif itu, urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”&#xA;&#xA;Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ujar Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.&#xA;&#xA;“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.&#xA;&#xA;“Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?”&#xA;&#xA;Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap di bibir Cynthia. &#xA;&#xA;“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.&#xA;&#xA;Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.&#xA;&#xA;— THE END —&#xA;&#xA;---&#xA;Written by C.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.</p>

<p>Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.</p>

<p>“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”</p>

<p>“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”</p>

<p>“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.</p>

<p>Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.</p>

<p>“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsat rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.</p>

<p>“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.</p>

<p>“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.</p>

<p>“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.</p>

<p>“Lo nggak ngerti, Jeff.”</p>

<p>“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”</p>

<p>“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.</p>

<p>Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.</p>

<p>“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh.</p>

<p>“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa. Batu.” Jeffrey berujar sebal.</p>

<p>“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.</p>

<p>“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.</p>

<p>“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.</p>

<p>“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”</p>

<p>Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.</p>

<p>“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”</p>

<p>Jeffrey mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”</p>

<p>“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”</p>

<p>“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.</p>

<p>“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”</p>

<p>“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.</p>

<p>“Bukan salah kamu.”</p>

<p>“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.</p>

<p>“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Dan berhenti minta maaf.”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.</p>

<p>Prok ... Prok ... Prok ...</p>

<p>“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.</p>

<p>Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.</p>

<p>“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi.” pamitnya. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!”</p>

<p>Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?</p>

<p>“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.</p>

<p>“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.</p>

<p>“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo. ‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu, menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.</p>

<p>Pandangan Theo tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil.</p>

<p>“Struck belanja?” monolog Theo pelan.</p>

<p>“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.</p>

<p>“Ini struck belanja siapa?”</p>

<p>“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”</p>

<p>“Oh, iya?”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Jadi nggak dipake kan, ya?”</p>

<p>“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”</p>

<p>“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.</p>

<p>“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.</p>

<p>“Ke toilet dulu bentar.”</p>

<p>“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang yang tak bertanggungjawab.</p>

<p>Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”</p>

<p>Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”</p>

<p>“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”</p>

<p>“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”</p>

<p>“Ciciiiiin.”</p>

<p>“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”</p>

<p>Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.</p>

<p>“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.</p>

<p>“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.</p>

<p>“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?</p>

<p>“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya.</p>

<p>Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam.</p>

<p>“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.</p>

<p>“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini.</p>

<p>“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”</p>

<p>Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.</p>

<p>“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima fakta yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.</p>

<p>“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”</p>

<p>“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.”</p>

<p>“Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong.”</p>

<p>“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.”</p>

<p>“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”</p>

<p>“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible.”</p>

<p>“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.</p>

<p>Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.</p>

<p>“Bukan kreatif itu, urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”</p>

<p>Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ujar Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.</p>

<p>“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.</p>

<p>“Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?”</p>

<p>Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap di bibir Cynthia.</p>

<p>“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.</p>

<p>Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.</p>

<p><strong>— THE END —</strong></p>

<hr/>

<p><strong>Written by C.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings-l5v2</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 13:39:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Paper Rings</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.&#xA;&#xA;Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.&#xA;&#xA;“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”&#xA;&#xA;“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”&#xA;&#xA;“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.&#xA;&#xA;Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.&#xA;&#xA;“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsat rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.&#xA;&#xA;“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.&#xA;&#xA;“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.&#xA;&#xA;“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.&#xA;&#xA;“Lo nggak ngerti, Jeff.”&#xA;&#xA;“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”&#xA;&#xA;“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.&#xA;&#xA;Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.&#xA;&#xA;“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh. &#xA;&#xA;“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa. Batu.” Jeffrey berujar sebal. &#xA;&#xA;“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.&#xA;&#xA;“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.&#xA;&#xA;“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.&#xA;&#xA;“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”&#xA;&#xA;Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.&#xA;&#xA;“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”&#xA;&#xA;Jeffrey mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”&#xA;&#xA;“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”&#xA;&#xA;“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.&#xA;&#xA;“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”&#xA;&#xA;“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.&#xA;&#xA;“Bukan salah kamu.”&#xA;&#xA;“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.&#xA;&#xA;“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Dan berhenti minta maaf.”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.&#xA;&#xA;“Oke.”&#xA;&#xA;Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.&#xA;&#xA;Prok ... Prok ... Prok ...&#xA;&#xA;“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.&#xA;&#xA;Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.&#xA;&#xA;“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi.” pamitnya. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!”&#xA;&#xA;Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?&#xA;&#xA;“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.&#xA;&#xA;“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.&#xA;&#xA;“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo. ‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu, menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.&#xA;&#xA;Pandangan Theo tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil.&#xA;&#xA;“Struck belanja?” monolog Theo pelan.&#xA;&#xA;“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.&#xA;&#xA;“Ini struck belanja siapa?”&#xA;&#xA;“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”&#xA;&#xA;“Oh, iya?”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;“Jadi nggak dipake kan, ya?”&#xA;&#xA;“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”&#xA;&#xA;“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.&#xA;&#xA;“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.&#xA;&#xA;“Ke toilet dulu bentar.”&#xA;&#xA;“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang yang tak bertanggungjawab.&#xA;&#xA;Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”&#xA;&#xA;Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”&#xA;&#xA;“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”&#xA;&#xA;“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”&#xA;&#xA;“Ciciiiiin.”&#xA;&#xA;“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”&#xA;&#xA;Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.&#xA;&#xA;“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.&#xA;&#xA;“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.&#xA;&#xA;“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?&#xA;&#xA;“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya. &#xA;&#xA;Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam. &#xA;&#xA;“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.&#xA;&#xA;“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini.&#xA;&#xA;“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”&#xA;&#xA;Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.&#xA;&#xA;“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima fakta yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.&#xA;&#xA;“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”&#xA;&#xA;“Maaf.”&#xA;&#xA;“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”&#xA;&#xA;“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.”&#xA;&#xA;“Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong.”&#xA;&#xA;“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.”&#xA;&#xA;“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”&#xA;&#xA;“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible.”&#xA;&#xA;“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.&#xA;&#xA;Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.&#xA;&#xA;“Bukan kreatif itu, urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”&#xA;&#xA;Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ujar Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.&#xA;&#xA;“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.&#xA;&#xA;“Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?”&#xA;&#xA;Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap di bibir Cynthia. &#xA;&#xA;“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.&#xA;&#xA;Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.&#xA;&#xA;— THE END —&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Written by C.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.</p>

<p>Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.</p>

<p>“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”</p>

<p>“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”</p>

<p>“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.</p>

<p>Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.</p>

<p>“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsat rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.</p>

<p>“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.</p>

<p>“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.</p>

<p>“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.</p>

<p>“Lo nggak ngerti, Jeff.”</p>

<p>“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”</p>

<p>“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.</p>

<p>Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.</p>

<p>“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh.</p>

<p>“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa. Batu.” Jeffrey berujar sebal.</p>

<p>“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.</p>

<p>“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.</p>

<p>“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.</p>

<p>“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”</p>

<p>Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.</p>

<p>“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”</p>

<p>Jeffrey mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”</p>

<p>“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”</p>

<p>“I&#39;m totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.</p>

<p>“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”</p>

<p>“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.</p>

<p>“Bukan salah kamu.”</p>

<p>“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.</p>

<p>“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Dan berhenti minta maaf.”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.</p>

<p>Prok ... Prok ... Prok ...</p>

<p>“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.</p>

<p>Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.</p>

<p>“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi.” pamitnya. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!”</p>

<p>Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?</p>

<p>“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.</p>

<p>“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.</p>

<p>“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo. ‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu, menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan.  Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.</p>

<p>Pandangan Theo tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil.</p>

<p>“Struck belanja?” monolog Theo pelan.</p>

<p>“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.</p>

<p>“Ini struck belanja siapa?”</p>

<p>“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”</p>

<p>“Oh, iya?”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>“Jadi nggak dipake kan, ya?”</p>

<p>“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”</p>

<p>“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.</p>

<p>“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.</p>

<p>“Ke toilet dulu bentar.”</p>

<p>“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang yang tak bertanggungjawab.</p>

<p>Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”</p>

<p>Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”</p>

<p>“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”</p>

<p>“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”</p>

<p>“Ciciiiiin.”</p>

<p>“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”</p>

<p>Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.</p>

<p>“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.</p>

<p>“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.</p>

<p>“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?</p>

<p>“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya.</p>

<p>Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam.</p>

<p>“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.</p>

<p>“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini.</p>

<p>“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”</p>

<p>Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.</p>

<p>“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima fakta yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.</p>

<p>“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”</p>

<p>“Maaf.”</p>

<p>“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”</p>

<p>“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.”</p>

<p>“Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong.”</p>

<p>“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.”</p>

<p>“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”</p>

<p>“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible.”</p>

<p>“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.</p>

<p>Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.</p>

<p>“Bukan kreatif itu, urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”</p>

<p>Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ujar Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.</p>

<p>“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.</p>

<p>“Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?”</p>

<p>Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk &#39;kita&#39; entah mengapa terasa sangat benar bila terucap di bibir Cynthia.</p>

<p>“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.</p>

<p>Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.</p>

<p><strong>— THE END —</strong></p>

<hr/>

<p><strong>Written by C.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/paper-rings</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 13:38:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>One Step Closer</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/one-step-closer-jk1n?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Proses pemeriksaan Theo sebagai saksi berlangsung lancar tanpa kendala, ia mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan sangat baik. Cukup melelahkan juga ternyata melakukan ini semua, namun Theo tak apa, karena dengan begini ia bisa memperjuangkan keadilan untuk Cynthia. Seorang polisi yang sedari tadi bertugas menanyai Theo pamit undur diri dikarenakan sesi pemeriksaan sudah selesai beberapa menit lalu.&#xA;&#xA;Theo hendak melangkah untuk segera meninggalkan bangunan ini, namun ia tiba-tiba terpikir satu hal. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan menghampiri polisi yang sempat menanyainya tadi, lalu mengajukan pertanyaan.&#xA;&#xA;“Pak, maaf saya mau tanya.”&#xA;&#xA;“Iya, silakan.”&#xA;&#xA;“Tapi sebelumnya saya minta maaf, takutnya pertanyaan saya bersifat menyinggung.”&#xA;&#xA;“Pertanyaan saudara akan saya jawab sebisa mungkin.”&#xA;&#xA;Theo diam sejenak. “Uhm, untuk pelaku ... Dia nggak akan berkeliaran bebas selama pengadilan masih memproses kasus ini, kan, Pak? Saya cuma khawatir dia bakal kembali mengganggu korban apabila itu sampai dibiarkan terjadi.”&#xA;&#xA;“Oh, untuk itu saya jamin tidak. Karena sebelum pengadilan menetapkan tanggal sidang, pelaku akan di tempatkan di rumah tahanan terlebih dulu.”&#xA;&#xA;Mendapat penjelasan demikian Theo bernapas lega, seolah beban berat yang menimpa raganya terlepas begitu saja.&#xA;&#xA;“Berarti sekarang dia udah ditempatkan di rumah tahanan?”&#xA;&#xA;“Belum, karena kami masih harus melakukan beberapa proses pemeriksaan.”&#xA;&#xA;Seketika, hal gila terlintas dalam benaknya. “Pak, saya boleh nggak bertemu pelaku?”&#xA;&#xA;“Saudara yakin?” Theo mengangguk mantap.&#xA;&#xA;“Mari ikut saya.”&#xA;&#xA;Polisi itu beranjak, menuntun Theo agar mengikuti langkahnya. Sampai kemudian Theo diarahkan ke sebuah ruangan yang hanya berisi jeruji besi. Pandangan Theo langsung tertuju pada seorang lelaki berperawakan tinggi yang sedang berdiri sembari menatap lurus ke depan, bisa ia lihat raut wajahnya tak menampakkan penyesalan. Sungguh bajingan sejati Miguel ini.&#xA;&#xA;Merasa ada yang memerhatikan, Miguel menyapu pandangan, lalu sepasang netra dua lelaki itu pun bertemu. Miguel menerbitkan seringai, sementara Theo semakin menajamkan sorot matanya. Aura membunuh begitu kentara meliputi keduanya.&#xA;&#xA;“Masih ada muka lo dateng ke sini?” Begitulah sambutan yang Miguel beri sesaat setelah Theo sampai di hadapannya. Tubuh mereka saat ini hanya terhalang jeruji besi. &#xA;&#xA;Merespons itu, Theo mengernyitkan dahi, tak paham maksud ucapan Miguel.&#xA;“Maksud kamu?”&#xA;&#xA;“Ya gue tanya, lo masih ada muka dateng nemuin gue? Nggak malu?” tegas Miguel.&#xA;&#xA;“Ngapain malu ketemu kriminal kayak kamu? Harusnya kamu yang malu.” Theo menyindir tak kenal gentar.&#xA;&#xA;“Loh kok gue? Ya harusnya lo lah yang malu karena kemarin bikin Cynthia luka, lo nggak lupa kan dia berusaha nyelamatin lo yang nggak berguna.”&#xA;&#xA;Tatapan nyalang Theo hujamkan ke arah Miguel. “Brengsek! Setelah nyakitin Cynthia sampai bikin dia masuk rumah sakit, bisa-bisanya kamu mutar balik keadaan? Sakit kamu, Miguel.”&#xA;&#xA;“Gue cuma ngomongin fakta kok, nyatanya lo emang nggak berguna. Lo nggak becus jagain Cynthia, semua omongan lo tentang bisa melindungi dia cuma sebatas omong kosong.” Miguel mengendikkan bahu.&#xA;&#xA;Alis Theo terangkat satu, ia sungguh merasa bahwa situasi ini sangat lucu. “Tunggu, kamu nggak ngerasa lucu sama situasi ini? Pelaku kriminal lagi ngasih wejangan soal lindung-melindungi?”&#xA;&#xA;“Kenapa? Lo ke-trigger? Atau tertampar fakta? Omongan gue tepat sasaran, kan?”&#xA;&#xA;“Saya nggak peduli sama semua omong kosong yang kamu bilang, saya ke sini, nemuin kamu dengan maksud baik. Saya harap, kejadian ini bisa bikin kamu sadar kalau apa yang selama ini kamu lakuin terhadap Cynthia itu salah. Dan setelah bebas dari hukuman suatu saat nanti, semoga kamu jadi pribadi yang lebih baik dan nggak lagi mengusik kebahagiaan orang hanya untuk memenuhi keinginan kamu.”&#xA;&#xA;“Udah ceramahnya?” Miguel memutar bola mata malas. Sumpah demi Tuhan, tatkala mendapatkan respons menyebalkan seperti itu, ingin rasanya Theo meninju Miguel tepat di wajahnya. Namun, niat itu ia tepis karena enggan menciptakan masalah yang lebih rumit lagi.&#xA;&#xA;“Denger ya, Theo, laki-laki lembek yang nggak berguna. Gue bersumpah, setelah gue keluar dari tempat sialan ini, Cynthia bakal jadi orang pertama yang gue cari. Gue bakal bikin dia jadi milik gue, lo tau kenapa? Karena gue benci kekalahan. Gue belum kalah, dan gue akan balas dendam suati hari nanti. Tunggu aja tanggal mainnya,” sungut Miguel berapi-api.&#xA;&#xA;Tak terpengaruh oleh ancaman picisan semacam itu, Theo berujar. “Terserah. Yang perlu kamu tau, kalau kamu berani macam-macam lagi dengan dia. Kamu bukan cuma akan saya kirim ke penjara, tapi ke neraka. Saya nggak main-main,” kecamnya.&#xA;&#xA;“Let&#39;s see, siapa yang bakal duluan pergi ke neraka. Gue atau lo.”&#xA;&#xA;Tanpa banyak kata lagi, Theo berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun sebuah suara yang ia kenali milik Miguel seolah mencekal pergerakannya.&#xA;&#xA;Dengan suara lantang, ia berkata, “Boleh gue jujur? Gue muak sama orang sejenis lo yang bersikap seolah punya hak atas hidup seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa lo. Inget, Theo. Lo itu Cuma pacar, nggak usah berlagak penting seolah lo punya hak penuh atas Cynthia. Di dunia ini nggak ada yang abadi, termasuk hubungan lo sama dia. Kedepannya mungkin Cynthia bakal ketemu sama cowok yang lebih baik daripada lo, dan milih buat ninggalin lo yang useless. Nggak ada yang tau, kan? So, nggak usah bersikap seolah lo lagi berada di atas angin. Itu memuakkan banget.”&#xA;&#xA;Theo benar-benar pergi tanpa mengindahkan kalimat provokasi Miguel. Ia pikir tidak ada gunanya juga berargumen dengan orang gila macam dia, sangat menguras tenaga dan tentu membuang waktu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Written by C.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Proses pemeriksaan Theo sebagai saksi berlangsung lancar tanpa kendala, ia mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan sangat baik. Cukup melelahkan juga ternyata melakukan ini semua, namun Theo tak apa, karena dengan begini ia bisa memperjuangkan keadilan untuk Cynthia. Seorang polisi yang sedari tadi bertugas menanyai Theo pamit undur diri dikarenakan sesi pemeriksaan sudah selesai beberapa menit lalu.</p>

<p>Theo hendak melangkah untuk segera meninggalkan bangunan ini, namun ia tiba-tiba terpikir satu hal. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan menghampiri polisi yang sempat menanyainya tadi, lalu mengajukan pertanyaan.</p>

<p>“Pak, maaf saya mau tanya.”</p>

<p>“Iya, silakan.”</p>

<p>“Tapi sebelumnya saya minta maaf, takutnya pertanyaan saya bersifat menyinggung.”</p>

<p>“Pertanyaan saudara akan saya jawab sebisa mungkin.”</p>

<p>Theo diam sejenak. “Uhm, untuk pelaku ... Dia nggak akan berkeliaran bebas selama pengadilan masih memproses kasus ini, kan, Pak? Saya cuma khawatir dia bakal kembali mengganggu korban apabila itu sampai dibiarkan terjadi.”</p>

<p>“Oh, untuk itu saya jamin tidak. Karena sebelum pengadilan menetapkan tanggal sidang, pelaku akan di tempatkan di rumah tahanan terlebih dulu.”</p>

<p>Mendapat penjelasan demikian Theo bernapas lega, seolah beban berat yang menimpa raganya terlepas begitu saja.</p>

<p>“Berarti sekarang dia udah ditempatkan di rumah tahanan?”</p>

<p>“Belum, karena kami masih harus melakukan beberapa proses pemeriksaan.”</p>

<p>Seketika, hal gila terlintas dalam benaknya. “Pak, saya boleh nggak bertemu pelaku?”</p>

<p>“Saudara yakin?” Theo mengangguk mantap.</p>

<p>“Mari ikut saya.”</p>

<p>Polisi itu beranjak, menuntun Theo agar mengikuti langkahnya. Sampai kemudian Theo diarahkan ke sebuah ruangan yang hanya berisi jeruji besi. Pandangan Theo langsung tertuju pada seorang lelaki berperawakan tinggi yang sedang berdiri sembari menatap lurus ke depan, bisa ia lihat raut wajahnya tak menampakkan penyesalan. Sungguh bajingan sejati Miguel ini.</p>

<p>Merasa ada yang memerhatikan, Miguel menyapu pandangan, lalu sepasang netra dua lelaki itu pun bertemu. Miguel menerbitkan seringai, sementara Theo semakin menajamkan sorot matanya. Aura membunuh begitu kentara meliputi keduanya.</p>

<p>“Masih ada muka lo dateng ke sini?” Begitulah sambutan yang Miguel beri sesaat setelah Theo sampai di hadapannya. Tubuh mereka saat ini hanya terhalang jeruji besi.</p>

<p>Merespons itu, Theo mengernyitkan dahi, tak paham maksud ucapan Miguel.
“Maksud kamu?”</p>

<p>“Ya gue tanya, lo masih ada muka dateng nemuin gue? Nggak malu?” tegas Miguel.</p>

<p>“Ngapain malu ketemu kriminal kayak kamu? Harusnya kamu yang malu.” Theo menyindir tak kenal gentar.</p>

<p>“Loh kok gue? Ya harusnya lo lah yang malu karena kemarin bikin Cynthia luka, lo nggak lupa kan dia berusaha nyelamatin lo yang nggak berguna.”</p>

<p>Tatapan nyalang Theo hujamkan ke arah Miguel. “Brengsek! Setelah nyakitin Cynthia sampai bikin dia masuk rumah sakit, bisa-bisanya kamu mutar balik keadaan? Sakit kamu, Miguel.”</p>

<p>“Gue cuma ngomongin fakta kok, nyatanya lo emang nggak berguna. Lo nggak becus jagain Cynthia, semua omongan lo tentang bisa melindungi dia cuma sebatas omong kosong.” Miguel mengendikkan bahu.</p>

<p>Alis Theo terangkat satu, ia sungguh merasa bahwa situasi ini sangat lucu. “Tunggu, kamu nggak ngerasa lucu sama situasi ini? Pelaku kriminal lagi ngasih wejangan soal lindung-melindungi?”</p>

<p>“Kenapa? Lo ke-trigger? Atau tertampar fakta? Omongan gue tepat sasaran, kan?”</p>

<p>“Saya nggak peduli sama semua omong kosong yang kamu bilang, saya ke sini, nemuin kamu dengan maksud baik. Saya harap, kejadian ini bisa bikin kamu sadar kalau apa yang selama ini kamu lakuin terhadap Cynthia itu salah. Dan setelah bebas dari hukuman suatu saat nanti, semoga kamu jadi pribadi yang lebih baik dan nggak lagi mengusik kebahagiaan orang hanya untuk memenuhi keinginan kamu.”</p>

<p>“Udah ceramahnya?” Miguel memutar bola mata malas. Sumpah demi Tuhan, tatkala mendapatkan respons menyebalkan seperti itu, ingin rasanya Theo meninju Miguel tepat di wajahnya. Namun, niat itu ia tepis karena enggan menciptakan masalah yang lebih rumit lagi.</p>

<p>“Denger ya, Theo, laki-laki lembek yang nggak berguna. Gue bersumpah, setelah gue keluar dari tempat sialan ini, Cynthia bakal jadi orang pertama yang gue cari. Gue bakal bikin dia jadi milik gue, lo tau kenapa? Karena gue benci kekalahan. Gue belum kalah, dan gue akan balas dendam suati hari nanti. Tunggu aja tanggal mainnya,” sungut Miguel berapi-api.</p>

<p>Tak terpengaruh oleh ancaman picisan semacam itu, Theo berujar. “Terserah. Yang perlu kamu tau, kalau kamu berani macam-macam lagi dengan dia. Kamu bukan cuma akan saya kirim ke penjara, tapi ke neraka. Saya nggak main-main,” kecamnya.</p>

<p>“Let&#39;s see, siapa yang bakal duluan pergi ke neraka. Gue atau lo.”</p>

<p>Tanpa banyak kata lagi, Theo berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun sebuah suara yang ia kenali milik Miguel seolah mencekal pergerakannya.</p>

<p>Dengan suara lantang, ia berkata, “Boleh gue jujur? Gue muak sama orang sejenis lo yang bersikap seolah punya hak atas hidup seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa lo. Inget, Theo. Lo itu Cuma pacar, nggak usah berlagak penting seolah lo punya hak penuh atas Cynthia. Di dunia ini nggak ada yang abadi, termasuk hubungan lo sama dia. Kedepannya mungkin Cynthia bakal ketemu sama cowok yang lebih baik daripada lo, dan milih buat ninggalin lo yang useless. Nggak ada yang tau, kan? So, nggak usah bersikap seolah lo lagi berada di atas angin. Itu memuakkan banget.”</p>

<p>Theo benar-benar pergi tanpa mengindahkan kalimat provokasi Miguel. Ia pikir tidak ada gunanya juga berargumen dengan orang gila macam dia, sangat menguras tenaga dan tentu membuang waktu.</p>

<hr/>

<p><strong>Written by C.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/one-step-closer-jk1n</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 13:09:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>One Step Closer</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/one-step-closer?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Proses pemeriksaan Theo sebagai saksi berlangsung lancar tanpa kendala, ia mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan sangat baik. Cukup melelahkan juga ternyata melakukan ini semua, namun Theo tak apa, karena dengan begini ia bisa memperjuangkan keadilan untuk Cynthia. Seorang polisi yang sedari tadi bertugas menanyai Theo pamit undur diri dikarenakan sesi pemeriksaan sudah selesai beberapa menit lalu.&#xA;&#xA;Theo hendak melangkah untuk segera meninggalkan bangunan ini, namun ia tiba-tiba terpikir satu hal. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan menghampiri polisi yang sempat menanyainya tadi, lalu mengajukan pertanyaan.&#xA;&#xA;“Pak, maaf saya mau tanya.”&#xA;&#xA;“Iya, silakan.”&#xA;&#xA;“Tapi sebelumnya saya minta maaf, takutnya pertanyaan saya bersifat menyinggung.”&#xA;&#xA;“Pertanyaan saudara akan saya jawab sebisa mungkin.”&#xA;&#xA;Theo diam sejenak. “Uhm, untuk pelaku ... Dia nggak akan berkeliaran bebas selama pengadilan masih memproses kasus ini, kan, Pak? Saya cuma khawatir dia bakal kembali mengganggu korban apabila itu sampai dibiarkan terjadi.”&#xA;&#xA;“Oh, untuk itu saya jamin tidak. Karena sebelum pengadilan menetapkan tanggal sidang, pelaku akan di tempatkan di rumah tahanan terlebih dulu.”&#xA;&#xA;Mendapat penjelasan demikian Theo bernapas lega, seolah beban berat yang menimpa raganya terlepas begitu saja.&#xA;&#xA;“Berarti sekarang dia udah ditempatkan di rumah tahanan?”&#xA;&#xA;“Belum, karena kami masih harus melakukan beberapa proses pemeriksaan.”&#xA;&#xA;Seketika, hal gila terlintas dalam benaknya. “Pak, saya boleh nggak bertemu pelaku?”&#xA;&#xA;“Saudara yakin?” Theo mengangguk mantap.&#xA;&#xA;“Mari ikut saya.”&#xA;&#xA;Polisi itu beranjak, menuntun Theo agar mengikuti langkahnya. Sampai kemudian Theo diarahkan ke sebuah ruangan yang hanya berisi jeruji besi. Pandangan Theo langsung tertuju pada seorang lelaki berperawakan tinggi yang sedang berdiri sembari menatap lurus ke depan, bisa ia lihat raut wajahnya tak menampakkan penyesalan. Sungguh bajingan sejati Miguel ini.&#xA;&#xA;Merasa ada yang memerhatikan, Miguel menyapu pandangan, lalu sepasang netra dua lelaki itu pun bertemu. Miguel menerbitkan seringai, sementara Theo semakin menajamkan sorot matanya. Aura membunuh begitu kentara meliputi keduanya.&#xA;&#xA;“Masih ada muka lo dateng ke sini?” Begitulah sambutan yang Miguel beri sesaat setelah Theo sampai di hadapannya. Tubuh mereka saat ini hanya terhalang jeruji besi. &#xA;&#xA;Merespons itu, Theo mengernyitkan dahi, tak paham maksud ucapan Miguel.&#xA;“Maksud kamu?”&#xA;&#xA;“Ya gue tanya, lo masih ada muka dateng nemuin gue? Nggak malu?” tegas Miguel.&#xA;&#xA;“Ngapain malu ketemu kriminal kayak kamu? Harusnya kamu yang malu.” Theo menyindir tak kenal gentar.&#xA;&#xA;“Loh kok gue? Ya harusnya lo lah yang malu karena kemarin bikin Cynthia luka, lo nggak lupa kan dia berusaha nyelamatin lo yang nggak berguna.”&#xA;&#xA;Tatapan nyalang Theo hujamkan ke arah Miguel. “Brengsek! Setelah nyakitin Cynthia sampai bikin dia masuk rumah sakit, bisa-bisanya kamu mutar balik keadaan? Sakit kamu, Miguel.”&#xA;&#xA;“Gue cuma ngomongin fakta kok, nyatanya lo emang nggak berguna. Lo nggak becus jagain Cynthia, semua omongan lo tentang bisa melindungi dia cuma sebatas omong kosong.” Miguel mengendikkan bahu.&#xA;&#xA;Alis Theo terangkat satu, ia sungguh merasa bahwa situasi ini sangat lucu. “Tunggu, kamu nggak ngerasa lucu sama situasi ini? Pelaku kriminal lagi ngasih wejangan soal lindung-melindungi?”&#xA;&#xA;“Kenapa? Lo ke-trigger? Atau tertampar fakta? Omongan gue tepat sasaran, kan?”&#xA;&#xA;“Saya nggak peduli sama semua omong kosong yang kamu bilang, saya ke sini, nemuin kamu dengan maksud baik. Saya harap, kejadian ini bisa bikin kamu sadar kalau apa yang selama ini kamu lakuin terhadap Cynthia itu salah. Dan setelah bebas dari hukuman suatu saat nanti, semoga kamu jadi pribadi yang lebih baik dan nggak lagi mengusik kebahagiaan orang hanya untuk memenuhi keinginan kamu.”&#xA;&#xA;“Udah ceramahnya?” Miguel memutar bola mata malas. Sumpah demi Tuhan, tatkala mendapatkan respons menyebalkan seperti itu, ingin rasanya Theo meninju Miguel tepat di wajahnya. Namun, niat itu ia tepis karena enggan menciptakan masalah yang lebih rumit lagi.&#xA;&#xA;“Denger ya, Theo, laki-laki lembek yang nggak berguna. Gue bersumpah, setelah gue keluar dari tempat sialan ini, Cynthia bakal jadi orang pertama yang gue cari. Gue bakal bikin dia jadi milik gue, lo tau kenapa? Karena gue benci kekalahan. Gue belum kalah, dan gue akan balas dendam suati hari nanti. Tunggu aja tanggal mainnya,” sungut Miguel berapi-api.&#xA;&#xA;Tak terpengaruh oleh ancaman picisan semacam itu, Theo berujar. “Terserah. Yang perlu kamu tau, kalau kamu berani macam-macam lagi dengan dia. Kamu bukan cuma akan saya kirim ke penjara, tapi ke neraka. Saya nggak main-main,” kecamnya.&#xA;&#xA;“Let&#39;s see, siapa yang bakal duluan pergi ke neraka. Gue atau lo.”&#xA;&#xA;Tanpa banyak kata lagi, Theo berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun sebuah suara yang ia kenali milik Miguel seolah mencekal pergerakannya.&#xA;&#xA;Dengan suara lantang, ia berkata, “Boleh gue jujur? Gue muak sama orang sejenis lo yang bersikap seolah punya hak atas hidup seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa lo. Inget, Theo. Lo itu Cuma pacar, nggak usah berlagak penting seolah lo punya hak penuh atas Cynthia. Di dunia ini nggak ada yang abadi, termasuk hubungan lo sama dia. Kedepannya mungkin Cynthia bakal ketemu sama cowok yang lebih baik daripada lo, dan milih buat ninggalin lo yang useless. Nggak ada yang tau, kan? So, nggak usah bersikap seolah lo lagi berada di atas angin. Itu memuakkan banget.”&#xA;&#xA;Theo benar-benar pergi tanpa mengindahkan kalimat provokasi Miguel. Ia pikir tidak ada gunanya juga berargumen dengan orang gila macam dia, sangat menguras tenaga dan tentu membuang waktu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Proses pemeriksaan Theo sebagai saksi berlangsung lancar tanpa kendala, ia mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan sangat baik. Cukup melelahkan juga ternyata melakukan ini semua, namun Theo tak apa, karena dengan begini ia bisa memperjuangkan keadilan untuk Cynthia. Seorang polisi yang sedari tadi bertugas menanyai Theo pamit undur diri dikarenakan sesi pemeriksaan sudah selesai beberapa menit lalu.</p>

<p>Theo hendak melangkah untuk segera meninggalkan bangunan ini, namun ia tiba-tiba terpikir satu hal. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan menghampiri polisi yang sempat menanyainya tadi, lalu mengajukan pertanyaan.</p>

<p>“Pak, maaf saya mau tanya.”</p>

<p>“Iya, silakan.”</p>

<p>“Tapi sebelumnya saya minta maaf, takutnya pertanyaan saya bersifat menyinggung.”</p>

<p>“Pertanyaan saudara akan saya jawab sebisa mungkin.”</p>

<p>Theo diam sejenak. “Uhm, untuk pelaku ... Dia nggak akan berkeliaran bebas selama pengadilan masih memproses kasus ini, kan, Pak? Saya cuma khawatir dia bakal kembali mengganggu korban apabila itu sampai dibiarkan terjadi.”</p>

<p>“Oh, untuk itu saya jamin tidak. Karena sebelum pengadilan menetapkan tanggal sidang, pelaku akan di tempatkan di rumah tahanan terlebih dulu.”</p>

<p>Mendapat penjelasan demikian Theo bernapas lega, seolah beban berat yang menimpa raganya terlepas begitu saja.</p>

<p>“Berarti sekarang dia udah ditempatkan di rumah tahanan?”</p>

<p>“Belum, karena kami masih harus melakukan beberapa proses pemeriksaan.”</p>

<p>Seketika, hal gila terlintas dalam benaknya. “Pak, saya boleh nggak bertemu pelaku?”</p>

<p>“Saudara yakin?” Theo mengangguk mantap.</p>

<p>“Mari ikut saya.”</p>

<p>Polisi itu beranjak, menuntun Theo agar mengikuti langkahnya. Sampai kemudian Theo diarahkan ke sebuah ruangan yang hanya berisi jeruji besi. Pandangan Theo langsung tertuju pada seorang lelaki berperawakan tinggi yang sedang berdiri sembari menatap lurus ke depan, bisa ia lihat raut wajahnya tak menampakkan penyesalan. Sungguh bajingan sejati Miguel ini.</p>

<p>Merasa ada yang memerhatikan, Miguel menyapu pandangan, lalu sepasang netra dua lelaki itu pun bertemu. Miguel menerbitkan seringai, sementara Theo semakin menajamkan sorot matanya. Aura membunuh begitu kentara meliputi keduanya.</p>

<p>“Masih ada muka lo dateng ke sini?” Begitulah sambutan yang Miguel beri sesaat setelah Theo sampai di hadapannya. Tubuh mereka saat ini hanya terhalang jeruji besi.</p>

<p>Merespons itu, Theo mengernyitkan dahi, tak paham maksud ucapan Miguel.
“Maksud kamu?”</p>

<p>“Ya gue tanya, lo masih ada muka dateng nemuin gue? Nggak malu?” tegas Miguel.</p>

<p>“Ngapain malu ketemu kriminal kayak kamu? Harusnya kamu yang malu.” Theo menyindir tak kenal gentar.</p>

<p>“Loh kok gue? Ya harusnya lo lah yang malu karena kemarin bikin Cynthia luka, lo nggak lupa kan dia berusaha nyelamatin lo yang nggak berguna.”</p>

<p>Tatapan nyalang Theo hujamkan ke arah Miguel. “Brengsek! Setelah nyakitin Cynthia sampai bikin dia masuk rumah sakit, bisa-bisanya kamu mutar balik keadaan? Sakit kamu, Miguel.”</p>

<p>“Gue cuma ngomongin fakta kok, nyatanya lo emang nggak berguna. Lo nggak becus jagain Cynthia, semua omongan lo tentang bisa melindungi dia cuma sebatas omong kosong.” Miguel mengendikkan bahu.</p>

<p>Alis Theo terangkat satu, ia sungguh merasa bahwa situasi ini sangat lucu. “Tunggu, kamu nggak ngerasa lucu sama situasi ini? Pelaku kriminal lagi ngasih wejangan soal lindung-melindungi?”</p>

<p>“Kenapa? Lo ke-trigger? Atau tertampar fakta? Omongan gue tepat sasaran, kan?”</p>

<p>“Saya nggak peduli sama semua omong kosong yang kamu bilang, saya ke sini, nemuin kamu dengan maksud baik. Saya harap, kejadian ini bisa bikin kamu sadar kalau apa yang selama ini kamu lakuin terhadap Cynthia itu salah. Dan setelah bebas dari hukuman suatu saat nanti, semoga kamu jadi pribadi yang lebih baik dan nggak lagi mengusik kebahagiaan orang hanya untuk memenuhi keinginan kamu.”</p>

<p>“Udah ceramahnya?” Miguel memutar bola mata malas. Sumpah demi Tuhan, tatkala mendapatkan respons menyebalkan seperti itu, ingin rasanya Theo meninju Miguel tepat di wajahnya. Namun, niat itu ia tepis karena enggan menciptakan masalah yang lebih rumit lagi.</p>

<p>“Denger ya, Theo, laki-laki lembek yang nggak berguna. Gue bersumpah, setelah gue keluar dari tempat sialan ini, Cynthia bakal jadi orang pertama yang gue cari. Gue bakal bikin dia jadi milik gue, lo tau kenapa? Karena gue benci kekalahan. Gue belum kalah, dan gue akan balas dendam suati hari nanti. Tunggu aja tanggal mainnya,” sungut Miguel berapi-api.</p>

<p>Tak terpengaruh oleh ancaman picisan semacam itu, Theo berujar. “Terserah. Yang perlu kamu tau, kalau kamu berani macam-macam lagi dengan dia. Kamu bukan cuma akan saya kirim ke penjara, tapi ke neraka. Saya nggak main-main,” kecamnya.</p>

<p>“Let&#39;s see, siapa yang bakal duluan pergi ke neraka. Gue atau lo.”</p>

<p>Tanpa banyak kata lagi, Theo berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun sebuah suara yang ia kenali milik Miguel seolah mencekal pergerakannya.</p>

<p>Dengan suara lantang, ia berkata, “Boleh gue jujur? Gue muak sama orang sejenis lo yang bersikap seolah punya hak atas hidup seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa lo. Inget, Theo. Lo itu Cuma pacar, nggak usah berlagak penting seolah lo punya hak penuh atas Cynthia. Di dunia ini nggak ada yang abadi, termasuk hubungan lo sama dia. Kedepannya mungkin Cynthia bakal ketemu sama cowok yang lebih baik daripada lo, dan milih buat ninggalin lo yang useless. Nggak ada yang tau, kan? So, nggak usah bersikap seolah lo lagi berada di atas angin. Itu memuakkan banget.”</p>

<p>Theo benar-benar pergi tanpa mengindahkan kalimat provokasi Miguel. Ia pikir tidak ada gunanya juga berargumen dengan orang gila macam dia, sangat menguras tenaga dan tentu membuang waktu.</p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/one-step-closer</guid>
      <pubDate>Wed, 12 Oct 2022 13:08:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Prelude: Peter Pan</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/prelude-peter-pan-fksc?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Seperti bintang jatuh, Jacinta tidak pernah tahu kemana hatinya yang sudah hampir mati itu akan luruh. Tak mampu diprediksi, karena ia bahkan sama sekali enggan sembarang membuka pintu kepada orang asing lagi. Cukup dua kali. Cinta benar-benar membuatnya jera setengah mati. Padahal sebelumnya, ia punya banyak mimpi yang digantungkan pada kisah cinta yang ia jalani.&#xA;&#xA;Kini tidak lagi, semua mimpi dan angan itu sudah Jacinta paksa mati. Dan entah akan bisa dihidupkan kembali atau tidak sama sekali. Ia tak peduli. Alih-alih membuka hati, ia memutuskan untuk mematok atensi hanya pada diri sendiri. Jacinta berpikir, cinta sejati akan hadir setelah prestasi terukir. Jadi, yang ia lakukan setelah mendapat gelar sarjana satu tahun lalu cuma seputar meningkatkan value diri dengan cara kerja keras meniti karir, memperbanyak kesibukan, sembari menanamkan prinsip kalau hidup tidak harus melulu tentang romansa.&#xA;&#xA;Sampai tiba hari di mana Jacinta menemukan presensi seorang lelaki bertampang imut nan lugu di bakery miliknya. Meski perjumpaan pertama mereka terbilang kurang mengenakan, sebab di mata Jacinta, lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Buma itu hanyalah seorang pria dewasa kekanak-kanakan yang tanpa malu berebut sepotong kue brownies coklat dengan seorang balita. Buma menangis tak mau kalah saat disuruh mengalah, menyebabkan kegaduhan yang membuat seluruh pelanggan Jacinta kala itu mengeluh tak nyaman.&#xA;&#xA;Namun seiring waktu berjalan, keduanya menjadi dekat tanpa alasan. Keadaan seolah sengaja menciptakan kejadian-kejadian yang mengharuskan Jacinta dan Buma terlibat satu sama lain. Buma ternyata punya perangai lucu, hangat dan menyenangkan, berhasil mengisi hari-hari monoton Jacinta yang melelahkan. Bersama Buma, Jacinta bisa melupakan segala persoalan hidup yang memuakkan. Bersama Buma, rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak yang sangat Jacinta rindukan. Buma, selayaknya Peter Pan yang membawa Jacinta ke dunia baru bernama Neverland.&#xA;&#xA;Semakin mengenal Buma, Jacinta semakin dibuat terkesima. Entah perasaan jenis apa yang menghinggapinya; Kagum? Suka? Sayang? Cinta? Oh tidak, Jacinta menganggap kemungkinan terakhir itu mustahil ia rasakan pada Buma. Mungkin, perasaan nyaman? Entahlah, tapi ia bisa simpulkan bahwa ini jenis perasaan yang baik. Di sisi lain kebahagiaannya semenjak mengenal Buma, Jacinta juga cukup banyak merasakan kejanggalan akan sosoknya. Akan ada beberapa waktu di mana Buma seolah hilang ditelan bumi, tak bisa ditemui di manapun, juga tak bisa dikabari barang sekali pun.&#xA;&#xA;Selain itu, ada perilaku Buma yang terkadang tak bisa ia percaya, satu dari yang paling mengganggunya adalah Buma terkesan awam di beberapa hal yang menurut Jacinta umum diketahui banyak orang. Seolah-olah, lelaki itu datang dari tempat yang jauh, atau ia baru saja keluar dari sebuah tempat yang sangat terisolasi. Semua yang tak Jacinta pahami tentang Buma bersatu-padu menciptakan sebuah tanda tanya besar di benak Jacinta. Ia sudah mengenal Buma sebanyak apa? Atau mungkin, selama ini ia tak pernah benar-benar mengenal lelaki itu?&#xA;---&#xA;— CHEENOIRE.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Seperti bintang jatuh, Jacinta tidak pernah tahu kemana hatinya yang sudah hampir mati itu akan luruh. Tak mampu diprediksi, karena ia bahkan sama sekali enggan sembarang membuka pintu kepada orang asing lagi. Cukup dua kali. Cinta benar-benar membuatnya jera setengah mati. Padahal sebelumnya, ia punya banyak mimpi yang digantungkan pada kisah cinta yang ia jalani.</p>

<p>Kini tidak lagi, semua mimpi dan angan itu sudah Jacinta paksa mati. Dan entah akan bisa dihidupkan kembali atau tidak sama sekali. Ia tak peduli. Alih-alih membuka hati, ia memutuskan untuk mematok atensi hanya pada diri sendiri. Jacinta berpikir, cinta sejati akan hadir setelah prestasi terukir. Jadi, yang ia lakukan setelah mendapat gelar sarjana satu tahun lalu cuma seputar meningkatkan value diri dengan cara kerja keras meniti karir, memperbanyak kesibukan, sembari menanamkan prinsip kalau hidup tidak harus melulu tentang romansa.</p>

<p>Sampai tiba hari di mana Jacinta menemukan presensi seorang lelaki bertampang imut nan lugu di bakery miliknya. Meski perjumpaan pertama mereka terbilang kurang mengenakan, sebab di mata Jacinta, lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Buma itu hanyalah seorang pria dewasa kekanak-kanakan yang tanpa malu berebut sepotong kue brownies coklat dengan seorang balita. Buma menangis tak mau kalah saat disuruh mengalah, menyebabkan kegaduhan yang membuat seluruh pelanggan Jacinta kala itu mengeluh tak nyaman.</p>

<p>Namun seiring waktu berjalan, keduanya menjadi dekat tanpa alasan. Keadaan seolah sengaja menciptakan kejadian-kejadian yang mengharuskan Jacinta dan Buma terlibat satu sama lain. Buma ternyata punya perangai lucu, hangat dan menyenangkan, berhasil mengisi hari-hari monoton Jacinta yang melelahkan. Bersama Buma, Jacinta bisa melupakan segala persoalan hidup yang memuakkan. Bersama Buma, rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak yang sangat Jacinta rindukan. Buma, selayaknya Peter Pan yang membawa Jacinta ke dunia baru bernama Neverland.</p>

<p>Semakin mengenal Buma, Jacinta semakin dibuat terkesima. Entah perasaan jenis apa yang menghinggapinya; Kagum? Suka? Sayang? Cinta? Oh tidak, Jacinta menganggap kemungkinan terakhir itu mustahil ia rasakan pada Buma. Mungkin, perasaan nyaman? Entahlah, tapi ia bisa simpulkan bahwa ini jenis perasaan yang baik. Di sisi lain kebahagiaannya semenjak mengenal Buma, Jacinta juga cukup banyak merasakan kejanggalan akan sosoknya. Akan ada beberapa waktu di mana Buma seolah hilang ditelan bumi, tak bisa ditemui di manapun, juga tak bisa dikabari barang sekali pun.</p>

<p>Selain itu, ada perilaku Buma yang terkadang tak bisa ia percaya, satu dari yang paling mengganggunya adalah Buma terkesan awam di beberapa hal yang menurut Jacinta umum diketahui banyak orang. Seolah-olah, lelaki itu datang dari tempat yang jauh, atau ia baru saja keluar dari sebuah tempat yang sangat terisolasi. Semua yang tak Jacinta pahami tentang Buma bersatu-padu menciptakan sebuah tanda tanya besar di benak Jacinta. Ia sudah mengenal Buma sebanyak apa? Atau mungkin, selama ini ia tak pernah benar-benar mengenal lelaki itu?</p>

<hr/>

<h6 id="cheenoire" id="cheenoire"><strong>— CHEENOIRE.</strong></h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/prelude-peter-pan-fksc</guid>
      <pubDate>Wed, 21 Sep 2022 02:55:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Masih Sama, Tidak Pernah Kemana-mana.</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/masih-sama-tidak-pernah-kemana-mana-216z?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Javas Bentala Parveen.&#xA;&#xA;Kekasihku yang belakangan ini sikapnya sangat aneh, menurutku. Hadirnya seperti hujan di musim kemarau, jarang sekali tertangkap netra. Aku merindukannya dengan sangat, namun untuk sekedar membuka roomchat-nya saja aku tak berani.&#xA;&#xA;Tepat sebulan lalu, dia mencaciku habis-habisan lewat panggilan telepon karena aku yang selalu menanyakan kabarnya tanpa henti, tidak terlalu sering juga sih. Tapi dia menjawabnya dengan kalimat tidak pasti, seolah sedang beralibi. Jadi, ya, kutanyai lagi dan lagi.&#xA;&#xA;Aku jelas marah sebab niat baikku tak disambut baik olehnya, lalu memilih untuk mendiamkannya sampai sebuah kata maaf darinya muncul di bilah notifikasiku.&#xA;&#xA;Didiamkan olehku seperti itu malah membuatnya semakin menghilang dari peredaran, kabarnya hanya sepintas satu dua patah kata basa-basi yang bukan Javas sekali. Jujur, aku bukanlah tipe pacar posesif yang harus dilempari kabar tentangnya setiap saat.&#xA;&#xA;Aku menaruh percayaku sepenuhnya kepada Javas, begitupun sebaliknya. Kami sudah sepakat perihal itu, tapi mengapa jadi begini? Kesal rasanya saat rindu tapi tak bisa berbuat apa-apa.&#xA;&#xA;Aku frustasi, Jav. Tidakkah kamu tau itu?&#xA;&#xA;Aku rindu saat dimana Javas melontarkan guyonan yang bahkan tidak ada lucunya sama sekali, tapi ajaibnya aku justru tertawa karena melihat senyum berhiaskan lubang di kedua belah pipinya tercipta.&#xA;&#xA;Aku rindu saat di mana ia bertandang ke rumah, membawa berbagai jenis makanan kesukaanku, cuma demi meredakan moodku yang sedang tidak baik ketika tamu bulanan datang.&#xA;&#xA;Aku rindu dekap hangat kepunyaanya saat menenangkanku dari rasa tak pantas memilikinya yang seringkali menempeli isi kepalaku, ia selalu berucap kalimat yang sama; “Jangan gitu, aku pilih kamu karena itu adalah kamu. Kamu nggak harus punya rupa menawan, tubuh semampai, atau otak brilian untuk merasa pantas bersanding dengan aku. Kamu cukup jadi Lakshita Dewi yang apa adanya, yang mencintai aku dengan sewajarnya. Semua itu udah cukup. Jadi jangan pernah sedih karena hal begini lagi, ya, dewiku?”&#xA;&#xA;Kekasihku, memang semanis itu perangainya. Tapi sayangnya, itu dulu. Kini Javas yang kukenal tak lagi sama, aku takut sosoknya yang dulu benar-benar hilang untuk selamanya. Memikirkan kemungkinan buruk itu, menjadikan tangisku pecah lagi malam ini. Merindukan Javas ternyata pedih sekali. Seperti ada sesak yang menjalari dadaku tiap kali mengingat kenangan indah yang dulu kami lewati.&#xA;&#xA;Dan secara kebetulan, lagu “Call Me Baby” milik boy group kenamaan EXO yang kujadikan nada dering khusus untuk seorang yang baru saja kurindukan itu mengalun lantang.&#xA;&#xA;Kuterima panggilan itu tanpa ragu, dan seperti mengalami mimpi buruk, air mataku luruh lagi tanpa mampu kucegah sesaat setelah mendengar suara bass di seberang sana mengucap sebuah kalimat paling tidak ingin kudengar selama menjalin hubungan dengan Javas.&#xA;&#xA;“Shit ... kalau boleh jujur aku bosen pacaran sama kamu. Gimana kalau kita putus aja?”&#xA;&#xA;Bagai tenggelam dalam palung laut terdalam, aku lupa caranya bernafas. Sesak menjalari dada, sementara air mata mengucur begitu derasnya membentuk sungai di kedua belah pipiku. Enteng sekali dia mengatakan itu. Seolah aku tak pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, seolah aku adalah barang yang ia buang ketika sudah tak menginginkannya lagi.&#xA;&#xA;Mengapa jadi begini?&#xA;Sebelum benar-benar menjawab suara di ujung sana, aku mengatur nafasku terlebih dulu. Berusaha tetap tenang walau hati ini kalut setengah mati.&#xA;&#xA;“Jangan bercanda, Jav. Bercandaan kamu kali ini keterlaluan!” ucapku parau, amarah sudah sejak tadi menguasaiku penuh.&#xA;&#xA;“Aku nggak bercanda, Shit. Aku beneran pengen kita putus.”&#xA;&#xA;Aku membisu sejenak. Dia serius? “Terus—” Javas hendak berbicara lagi, namun dengan cepat kalimatnya ku potong. Masa bodoh.&#xA;&#xA;“Setelah nggak ketemu lama, jarang ngasih kabar, dan bikin aku khawatir, kamu mau mutusin aku gitu aja, Jav? Jahat banget tau nggak?” Isakanku semakin keras.&#xA;&#xA;“... katanya kamu bakal selalu ada di sini, di samping aku. Bahkan saat seisi dunia musuhin aku, kamu akan jadi sebaik-baiknya penopang, akan jadi sebaik-baiknya tempat pulang, dan akan ngasih dekap hangat yang nggak akan bisa aku dapatkan dari laki-laki manapun selain kamu.”&#xA;&#xA;“... katanya kamu pengen menua sama aku, pengen lihat rambut hitamku memutih helai demi helai, pengen menghabiskan masa tua di sebuah rumah yang nyaman dengan aku sebagai sandaran.”&#xA;&#xA;“ ... ekspektasi aku sama kamu udah setinggi itu, Jav. Kamu sendiri yang membangun itu semua. Kalau cuma berakhir sampai di sini, kedepannya aku harus gimana? Harus aku apakan semua angan yang udah kamu tanamkan di kepalaku? Kalau untuk diingkari, lebih baik nggak usah menabur harapan sama sekali, Jav ...,”&#xA;&#xA;“... karena sakit banget rasanya, saat harapan itu harus mati sebelum bisa diwujudkan dengan benar.”&#xA;&#xA;Tangisku benar-benar pecah usai mengeluarkan unek-unek pada Javas habis-habisan, meskipun sudah hampir kukerahkan seluruh amarah yang membelenggu, tetap saja, masih ada rasa sesak menjalari dada.&#xA;&#xA;“Udah nangisnya?”&#xA;&#xA;Brengsek ini sepertinya sudah kehilangan nurani, ya? Bisa-bisanya setelah aku berbicara panjang lebar sambil terisak kencang, respon yang ia beri hanya pertanyaan retoris tak berguna macam itu.&#xA;&#xA;Aku pun memilih bungkam, sudah terlalu malas menanggapi lelaki egois yang sialnya masih kucintai ini.&#xA;&#xA;“Sekarang cuci muka, ganti baju yang bagus, dandan yang cantik, abis itu turun ke bawah. Aku udah di ruang tamu rumah kamu, kita obrolin semua ini langsung, ya? Tanpa emosi,” pintanya yang terdengar sangat tidak masuk akal di telingaku. Kalau dia ingin berakhir, lantas apalagi yang mesti dibicarakan?&#xA;&#xA;“Nggak. Kamu pulang aja, sekarang kita udah nggak punya hubungan apapun, kan? Semoga aku bisa cepet-cepet lupain kamu dan bahagia setelahnya.”&#xA;&#xA;Sambungan telepon kututup sepihak, lantas kulanjutkan tangisku dengan mengurung diri di selimut tebal sambil meringkuk. Menyedihkan. Aku benci menjadi cengeng, aku benci saat aku menjadi lemah hanya karena urusan percintaan, aku benci harus mengakhiri kisah indah ini begitu saja. Aku benci.&#xA;&#xA;Membayangkan Javas memberikan senyum menawan pada gadis lain saja aku tak sanggup, apalagi harus melihatnya benar-benar bersanding penuh rasa bahagia bersama gadis yang bukan aku.&#xA;&#xA;“JAVAS BENTALA BAJINGAN!” Aku berteriak lepas di balik selimut dilanjutkan dengan isakan keras yang dikeluarkan dari belah bibirku, namun tak berselang lama aku mendengar suara pintu kamarku dibuka. Kemudian, sebuah lengan yang entah milik siapa merengkuhku dari arah belakang.&#xA;&#xA;“Jangan nangis, Shit. Maafin aku.”&#xA;&#xA;Suara ini sangat aku kenali ... suara milik Javas.&#xA;&#xA;“Ngapain sih kesini? Pulang sana, kita kan udah selesai. Nggak ada lagi yang perlu diobrolin.”&#xA;&#xA;“Selesai apanya, sih? Orang kita bersambung.” Javas terkekeh di ujung kalimat. Aku lalu berpikir, aku memang sebercanda itu ya baginya?&#xA;&#xA;“Kalau menurut kamu aku bisa dipungut sehabis kamu buang, kamu salah, Jav. Aku nggak sebercanda itu untuk dipermainkan.” Aku semakin mengeratkan selimut yang menutupi seluruh tubuhku, rasanya enggan bersitatap langsung dengan lelaki jahat itu.&#xA;&#xA;“Dewiku, jangan marah dulu. Dengerin aku baik-baik, jangan dipotong dulu omongan akunya, ya, sayang? Tadi, waktu di telepon, aku sebetulnya belum selesai ngomong, tapi kamu malah langsung nyerocos marah-marah sambil nangis.”&#xA;&#xA;Aku tak merespon ucapannya, membiarkan hening menjadi sekat di antara kami. Namun tak berapa lama, bisa kurasakan Javas membuka selimutku sedikit paksa, aku jelas melakukan perlawanan, tapi pada akhirnya aku kalah tenaga, dia terlalu kuat. Alhasil aku hanya bisa pasrah ketika Javas berhasil menyingkirkan selimut yang membelenggu dan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.&#xA;&#xA;“Sekarang lihat mata aku.” titahnya. Entah sihir jenis apa yang Javas pergunakan, aku yang semula enggan secara ajaib menuruti ucapannya begitu saja.&#xA;&#xA;Retina cokelat yang sudah lama tak kutatap lamat itu masihlah sama, selalu membuatku ingin terus-menerus memaku pandang ke sana. Sialnya, aku selalu terjatuh telak pada pesona yang Javas pancarkan melalui sorot mata indahnya.&#xA;&#xA;“Kamu inget nggak, waktu itu aku pernah bilang kalau saat pacaran, mau hubungan kita seharmonis apapun semua bakalan mencapai titik akhir. Kemungkinannya ada dua, putus karena udah nggak sejalan atau putus untuk menulis kisah yang lebih indah di lembar kehidupan baru.”&#xA;&#xA;Javas menghapus jejak-jejak air mataku, kemudian melanjutkan penuturannya.&#xA;&#xA;“Putus yang aku maksud itu adalah opsi kedua, sayang. Putus untuk mendaki lebih jauh ke jenjang yang lebih tinggi, ke tingkatan di mana kita bisa seutuhnya memiliki. Jadi, kamu nggak perlu khawatir sama harapan-harapan yang udah aku ciptakan untuk kamu, karena aku akan bertanggung jawab penuh atas semua itu. Aku emang bosen pacaran sama kamu, maunya langsung nikah aja gituloh maksudku tadi.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, aku terharu. Namun di lain sisi aku juga malu setengah mati karena telah gegabah menyimpulkan maksud perkataan Javas lewat sambungan telepon tadi tanpa berniat mendengarnya sampai akhir. Namun siapa yang tak akan salah sangka bila sejak awal ia bicara, ia langsung mengatakan kalimat putus.&#xA;&#xA;Aku sama sekali tak memerhatikan gerak-gerik Javas karena terlampau kaget. Tahu-tahu, Javas sudah menyodorkan sebuah kotak beludru berisi sebuah cincin cantik yang entah sejak kapan sudah berada di genggaman tangannya ke arahku.&#xA;&#xA;“Mau ya, Shit, nikah sama aku? Jawabannya cuma mau sama mau banget.”&#xA;&#xA;Aku membeku, sementara Javas menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban. Setelah berhasil menenangkan detak jantungku yang menggila sebab lamaran dadakan yang baru saja terjadi, aku mengangguk mantap, dan berucap. &#xA;&#xA;“Iya, aku mau, Jav. Let&#39;s grow old together.”&#xA;&#xA;Senyum Javas terbit setelah mendengar kalimat persetujuanku, lantas ia memasangkan cincin indah itu ke jari manisku, tak lupa raut bahagia semakin terpancar jelas di wajah rupawannya.&#xA;&#xA;Javas mendekapku erat, mengumamkan kata yang sama berulang kali. “Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf. Maaf belakangan ini aku ilang-ilangan, susah dihubungi, marah-marah terus kalau ditelepon. Aku dua bulan kemarin ngebut proyek supaya waktu kita nikah nanti bisa ngambil cuti sebanyak mungkin,” ucapnya dengan ekspresi menggemaskan.&#xA;&#xA;“Selain itu, aku juga mau berterima kasih. Makasih karena udah lahir sebagai seorang Lakshita Dewi. Makasih karena udah datang ke hidupku dan menorehkan berbagai warna indah. Makasih atas cinta dan kasih sayang yang kamu berikan selama ini. Dan, makasih karena bersedia nerima lamaranku tanpa keberatan aku repotin seumur hidup. Makasih, Shita. I love you badly, unconditionally, and infinity,” tuturnya penuh ketulusan, sembari memandangku dalam.&#xA;&#xA;Ya ampun, lelaki ini ... romantis sekali. Aku sampai tak punya pasokan kata serta daya upaya untuk membalasnya, jadi yang kukatakan hanya, “I love you too, Jav, as much as you love me.” tentu saja kuucap kalimat itu penuh arti. Javas mengangguk, telinganya memerah, kebiasaannya ketika salah tingkah. Sungguh, dia kenapa imut sekali, sih?&#xA;&#xA;“By the way, kenapa kamu nggak bilang kalau alasan kesibukan kamu karena mau ngebut proyek demi bisa cepet-cepet nikahin aku? Kalau bilang dan jelasin dengan baik kan aku bakal ngerti.”&#xA;&#xA;“Kan aku niatnya mau kasih surprise, masa bilang-bilang sih? Dasar aneh.”&#xA;&#xA;“Tapi aku khawatir tau,” lirihku, kemudian menangis lagi.&#xA;&#xA;“Heh, ngapain nangis lagi sih, Shit? Cengeng ih, masa mau nikah cengeng?” Lagi-lagi Javas menghapus air mataku.&#xA;&#xA;“Asal kamu tau ya, ini nangis bukan sembarang nangis. Ini tuh nangis bahagia, huhuhuhu.”&#xA;&#xA;“Ya udah, mending sekarang kamu ke kamar mandi. Cuci muka, hapus muka jeleknya, ganti baju yang paling cantik, terus ke bawah. Papa sama Mamaku udah di bawah tuh nunggu calon mantunya dari tadi.”&#xA;&#xA;Karena terlalu larut dalam drama memalukan ini, aku sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Jeffrey mengenakan setelan tuxedo. Ia rapi sekali, dari atas sampai ujung kaki.&#xA;&#xA;“Curang banget sih, kok kamu ganteng banget paket jas. Sementara aku? Lihat nih, penampilannya udah kayak gembel. Mana muka aku pasti kucel banget gara-gara abis nangis.”&#xA;&#xA;“Makanya cepetan ganti baju terus dandan yang cantik, Lakshita-ku. Aku tunggu di bawah, siap-siapnya jangan pake lama tapi pake cinta. Hehe.”&#xA;&#xA;“Apaan sih, jayus!”&#xA;&#xA;Kami tertawa lepas setelahnya.&#xA;&#xA;Semesta, terima kasih. Ternyata Javas masih menjadi lelaki yang kukenal, dirinya yang dulu nyatanya tak pernah kemana-mana. Wajahnya, caranya menatapku, sikapnya, senyumnya, tawanya, semua masih sama. Masih membuatku jatuh berkali-kali tanpa merasakan sakit sama sekali.&#xA;&#xA;---&#xA;—CHEEN.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Javas Bentala Parveen.</p>

<p>Kekasihku yang belakangan ini sikapnya sangat aneh, menurutku. Hadirnya seperti hujan di musim kemarau, jarang sekali tertangkap netra. Aku merindukannya dengan sangat, namun untuk sekedar membuka roomchat-nya saja aku tak berani.</p>

<p>Tepat sebulan lalu, dia mencaciku habis-habisan lewat panggilan telepon karena aku yang selalu menanyakan kabarnya tanpa henti, tidak terlalu sering juga sih. Tapi dia menjawabnya dengan kalimat tidak pasti, seolah sedang beralibi. Jadi, ya, kutanyai lagi dan lagi.</p>

<p>Aku jelas marah sebab niat baikku tak disambut baik olehnya, lalu memilih untuk mendiamkannya sampai sebuah kata maaf darinya muncul di bilah notifikasiku.</p>

<p>Didiamkan olehku seperti itu malah membuatnya semakin menghilang dari peredaran, kabarnya hanya sepintas satu dua patah kata basa-basi yang bukan Javas sekali. Jujur, aku bukanlah tipe pacar posesif yang harus dilempari kabar tentangnya setiap saat.</p>

<p>Aku menaruh percayaku sepenuhnya kepada Javas, begitupun sebaliknya. Kami sudah sepakat perihal itu, tapi mengapa jadi begini? Kesal rasanya saat rindu tapi tak bisa berbuat apa-apa.</p>

<p>Aku frustasi, Jav. Tidakkah kamu tau itu?</p>

<p>Aku rindu saat dimana Javas melontarkan guyonan yang bahkan tidak ada lucunya sama sekali, tapi ajaibnya aku justru tertawa karena melihat senyum berhiaskan lubang di kedua belah pipinya tercipta.</p>

<p>Aku rindu saat di mana ia bertandang ke rumah, membawa berbagai jenis makanan kesukaanku, cuma demi meredakan moodku yang sedang tidak baik ketika tamu bulanan datang.</p>

<p>Aku rindu dekap hangat kepunyaanya saat menenangkanku dari rasa tak pantas memilikinya yang seringkali menempeli isi kepalaku, ia selalu berucap kalimat yang sama; “Jangan gitu, aku pilih kamu karena itu adalah kamu. Kamu nggak harus punya rupa menawan, tubuh semampai, atau otak brilian untuk merasa pantas bersanding dengan aku. Kamu cukup jadi Lakshita Dewi yang apa adanya, yang mencintai aku dengan sewajarnya. Semua itu udah cukup. Jadi jangan pernah sedih karena hal begini lagi, ya, dewiku?”</p>

<p>Kekasihku, memang semanis itu perangainya. Tapi sayangnya, itu dulu. Kini Javas yang kukenal tak lagi sama, aku takut sosoknya yang dulu benar-benar hilang untuk selamanya. Memikirkan kemungkinan buruk itu, menjadikan tangisku pecah lagi malam ini. Merindukan Javas ternyata pedih sekali. Seperti ada sesak yang menjalari dadaku tiap kali mengingat kenangan indah yang dulu kami lewati.</p>

<p>Dan secara kebetulan, lagu “Call Me Baby” milik boy group kenamaan EXO yang kujadikan nada dering khusus untuk seorang yang baru saja kurindukan itu mengalun lantang.</p>

<p>Kuterima panggilan itu tanpa ragu, dan seperti mengalami mimpi buruk, air mataku luruh lagi tanpa mampu kucegah sesaat setelah mendengar suara bass di seberang sana mengucap sebuah kalimat paling tidak ingin kudengar selama menjalin hubungan dengan Javas.</p>

<p>“Shit ... kalau boleh jujur aku bosen pacaran sama kamu. Gimana kalau kita putus aja?”</p>

<p>Bagai tenggelam dalam palung laut terdalam, aku lupa caranya bernafas. Sesak menjalari dada, sementara air mata mengucur begitu derasnya membentuk sungai di kedua belah pipiku. Enteng sekali dia mengatakan itu. Seolah aku tak pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, seolah aku adalah barang yang ia buang ketika sudah tak menginginkannya lagi.</p>

<p>Mengapa jadi begini?
Sebelum benar-benar menjawab suara di ujung sana, aku mengatur nafasku terlebih dulu. Berusaha tetap tenang walau hati ini kalut setengah mati.</p>

<p>“Jangan bercanda, Jav. Bercandaan kamu kali ini keterlaluan!” ucapku parau, amarah sudah sejak tadi menguasaiku penuh.</p>

<p>“Aku nggak bercanda, Shit. Aku beneran pengen kita putus.”</p>

<p>Aku membisu sejenak. Dia serius? “Terus—” Javas hendak berbicara lagi, namun dengan cepat kalimatnya ku potong. Masa bodoh.</p>

<p>“Setelah nggak ketemu lama, jarang ngasih kabar, dan bikin aku khawatir, kamu mau mutusin aku gitu aja, Jav? Jahat banget tau nggak?” Isakanku semakin keras.</p>

<p>“... katanya kamu bakal selalu ada di sini, di samping aku. Bahkan saat seisi dunia musuhin aku, kamu akan jadi sebaik-baiknya penopang, akan jadi sebaik-baiknya tempat pulang, dan akan ngasih dekap hangat yang nggak akan bisa aku dapatkan dari laki-laki manapun selain kamu.”</p>

<p>“... katanya kamu pengen menua sama aku, pengen lihat rambut hitamku memutih helai demi helai, pengen menghabiskan masa tua di sebuah rumah yang nyaman dengan aku sebagai sandaran.”</p>

<p>“ ... ekspektasi aku sama kamu udah setinggi itu, Jav. Kamu sendiri yang membangun itu semua. Kalau cuma berakhir sampai di sini, kedepannya aku harus gimana? Harus aku apakan semua angan yang udah kamu tanamkan di kepalaku? Kalau untuk diingkari, lebih baik nggak usah menabur harapan sama sekali, Jav ...,”</p>

<p>“... karena sakit banget rasanya, saat harapan itu harus mati sebelum bisa diwujudkan dengan benar.”</p>

<p>Tangisku benar-benar pecah usai mengeluarkan unek-unek pada Javas habis-habisan, meskipun sudah hampir kukerahkan seluruh amarah yang membelenggu, tetap saja, masih ada rasa sesak menjalari dada.</p>

<p>“Udah nangisnya?”</p>

<p>Brengsek ini sepertinya sudah kehilangan nurani, ya? Bisa-bisanya setelah aku berbicara panjang lebar sambil terisak kencang, respon yang ia beri hanya pertanyaan retoris tak berguna macam itu.</p>

<p>Aku pun memilih bungkam, sudah terlalu malas menanggapi lelaki egois yang sialnya masih kucintai ini.</p>

<p>“Sekarang cuci muka, ganti baju yang bagus, dandan yang cantik, abis itu turun ke bawah. Aku udah di ruang tamu rumah kamu, kita obrolin semua ini langsung, ya? Tanpa emosi,” pintanya yang terdengar sangat tidak masuk akal di telingaku. Kalau dia ingin berakhir, lantas apalagi yang mesti dibicarakan?</p>

<p>“Nggak. Kamu pulang aja, sekarang kita udah nggak punya hubungan apapun, kan? Semoga aku bisa cepet-cepet lupain kamu dan bahagia setelahnya.”</p>

<p>Sambungan telepon kututup sepihak, lantas kulanjutkan tangisku dengan mengurung diri di selimut tebal sambil meringkuk. Menyedihkan. Aku benci menjadi cengeng, aku benci saat aku menjadi lemah hanya karena urusan percintaan, aku benci harus mengakhiri kisah indah ini begitu saja. Aku benci.</p>

<p>Membayangkan Javas memberikan senyum menawan pada gadis lain saja aku tak sanggup, apalagi harus melihatnya benar-benar bersanding penuh rasa bahagia bersama gadis yang bukan aku.</p>

<p>“JAVAS BENTALA BAJINGAN!” Aku berteriak lepas di balik selimut dilanjutkan dengan isakan keras yang dikeluarkan dari belah bibirku, namun tak berselang lama aku mendengar suara pintu kamarku dibuka. Kemudian, sebuah lengan yang entah milik siapa merengkuhku dari arah belakang.</p>

<p>“Jangan nangis, Shit. Maafin aku.”</p>

<p>Suara ini sangat aku kenali ... suara milik Javas.</p>

<p>“Ngapain sih kesini? Pulang sana, kita kan udah selesai. Nggak ada lagi yang perlu diobrolin.”</p>

<p>“Selesai apanya, sih? Orang kita bersambung.” Javas terkekeh di ujung kalimat. Aku lalu berpikir, aku memang sebercanda itu ya baginya?</p>

<p>“Kalau menurut kamu aku bisa dipungut sehabis kamu buang, kamu salah, Jav. Aku nggak sebercanda itu untuk dipermainkan.” Aku semakin mengeratkan selimut yang menutupi seluruh tubuhku, rasanya enggan bersitatap langsung dengan lelaki jahat itu.</p>

<p>“Dewiku, jangan marah dulu. Dengerin aku baik-baik, jangan dipotong dulu omongan akunya, ya, sayang? Tadi, waktu di telepon, aku sebetulnya belum selesai ngomong, tapi kamu malah langsung nyerocos marah-marah sambil nangis.”</p>

<p>Aku tak merespon ucapannya, membiarkan hening menjadi sekat di antara kami. Namun tak berapa lama, bisa kurasakan Javas membuka selimutku sedikit paksa, aku jelas melakukan perlawanan, tapi pada akhirnya aku kalah tenaga, dia terlalu kuat. Alhasil aku hanya bisa pasrah ketika Javas berhasil menyingkirkan selimut yang membelenggu dan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.</p>

<p>“Sekarang lihat mata aku.” titahnya. Entah sihir jenis apa yang Javas pergunakan, aku yang semula enggan secara ajaib menuruti ucapannya begitu saja.</p>

<p>Retina cokelat yang sudah lama tak kutatap lamat itu masihlah sama, selalu membuatku ingin terus-menerus memaku pandang ke sana. Sialnya, aku selalu terjatuh telak pada pesona yang Javas pancarkan melalui sorot mata indahnya.</p>

<p>“Kamu inget nggak, waktu itu aku pernah bilang kalau saat pacaran, mau hubungan kita seharmonis apapun semua bakalan mencapai titik akhir. Kemungkinannya ada dua, putus karena udah nggak sejalan atau putus untuk menulis kisah yang lebih indah di lembar kehidupan baru.”</p>

<p>Javas menghapus jejak-jejak air mataku, kemudian melanjutkan penuturannya.</p>

<p>“Putus yang aku maksud itu adalah opsi kedua, sayang. Putus untuk mendaki lebih jauh ke jenjang yang lebih tinggi, ke tingkatan di mana kita bisa seutuhnya memiliki. Jadi, kamu nggak perlu khawatir sama harapan-harapan yang udah aku ciptakan untuk kamu, karena aku akan bertanggung jawab penuh atas semua itu. Aku emang bosen pacaran sama kamu, maunya langsung nikah aja gituloh maksudku tadi.”</p>

<p>Mendengarnya, aku terharu. Namun di lain sisi aku juga malu setengah mati karena telah gegabah menyimpulkan maksud perkataan Javas lewat sambungan telepon tadi tanpa berniat mendengarnya sampai akhir. Namun siapa yang tak akan salah sangka bila sejak awal ia bicara, ia langsung mengatakan kalimat putus.</p>

<p>Aku sama sekali tak memerhatikan gerak-gerik Javas karena terlampau kaget. Tahu-tahu, Javas sudah menyodorkan sebuah kotak beludru berisi sebuah cincin cantik yang entah sejak kapan sudah berada di genggaman tangannya ke arahku.</p>

<p>“Mau ya, Shit, nikah sama aku? Jawabannya cuma mau sama mau banget.”</p>

<p>Aku membeku, sementara Javas menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban. Setelah berhasil menenangkan detak jantungku yang menggila sebab lamaran dadakan yang baru saja terjadi, aku mengangguk mantap, dan berucap.</p>

<p>“Iya, aku mau, Jav. Let&#39;s grow old together.”</p>

<p>Senyum Javas terbit setelah mendengar kalimat persetujuanku, lantas ia memasangkan cincin indah itu ke jari manisku, tak lupa raut bahagia semakin terpancar jelas di wajah rupawannya.</p>

<p>Javas mendekapku erat, mengumamkan kata yang sama berulang kali. “Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf. Maaf belakangan ini aku ilang-ilangan, susah dihubungi, marah-marah terus kalau ditelepon. Aku dua bulan kemarin ngebut proyek supaya waktu kita nikah nanti bisa ngambil cuti sebanyak mungkin,” ucapnya dengan ekspresi menggemaskan.</p>

<p>“Selain itu, aku juga mau berterima kasih. Makasih karena udah lahir sebagai seorang Lakshita Dewi. Makasih karena udah datang ke hidupku dan menorehkan berbagai warna indah. Makasih atas cinta dan kasih sayang yang kamu berikan selama ini. Dan, makasih karena bersedia nerima lamaranku tanpa keberatan aku repotin seumur hidup. Makasih, Shita. I love you badly, unconditionally, and infinity,” tuturnya penuh ketulusan, sembari memandangku dalam.</p>

<p>Ya ampun, lelaki ini ... romantis sekali. Aku sampai tak punya pasokan kata serta daya upaya untuk membalasnya, jadi yang kukatakan hanya, “I love you too, Jav, as much as you love me.” tentu saja kuucap kalimat itu penuh arti. Javas mengangguk, telinganya memerah, kebiasaannya ketika salah tingkah. Sungguh, dia kenapa imut sekali, sih?</p>

<p>“By the way, kenapa kamu nggak bilang kalau alasan kesibukan kamu karena mau ngebut proyek demi bisa cepet-cepet nikahin aku? Kalau bilang dan jelasin dengan baik kan aku bakal ngerti.”</p>

<p>“Kan aku niatnya mau kasih surprise, masa bilang-bilang sih? Dasar aneh.”</p>

<p>“Tapi aku khawatir tau,” lirihku, kemudian menangis lagi.</p>

<p>“Heh, ngapain nangis lagi sih, Shit? Cengeng ih, masa mau nikah cengeng?” Lagi-lagi Javas menghapus air mataku.</p>

<p>“Asal kamu tau ya, ini nangis bukan sembarang nangis. Ini tuh nangis bahagia, huhuhuhu.”</p>

<p>“Ya udah, mending sekarang kamu ke kamar mandi. Cuci muka, hapus muka jeleknya, ganti baju yang paling cantik, terus ke bawah. Papa sama Mamaku udah di bawah tuh nunggu calon mantunya dari tadi.”</p>

<p>Karena terlalu larut dalam drama memalukan ini, aku sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Jeffrey mengenakan setelan tuxedo. Ia rapi sekali, dari atas sampai ujung kaki.</p>

<p>“Curang banget sih, kok kamu ganteng banget paket jas. Sementara aku? Lihat nih, penampilannya udah kayak gembel. Mana muka aku pasti kucel banget gara-gara abis nangis.”</p>

<p>“Makanya cepetan ganti baju terus dandan yang cantik, Lakshita-ku. Aku tunggu di bawah, siap-siapnya jangan pake lama tapi pake cinta. Hehe.”</p>

<p>“Apaan sih, jayus!”</p>

<p>Kami tertawa lepas setelahnya.</p>

<p>Semesta, terima kasih. Ternyata Javas masih menjadi lelaki yang kukenal, dirinya yang dulu nyatanya tak pernah kemana-mana. Wajahnya, caranya menatapku, sikapnya, senyumnya, tawanya, semua masih sama. Masih membuatku jatuh berkali-kali tanpa merasakan sakit sama sekali.</p>

<hr/>

<p><strong>—CHEEN.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/masih-sama-tidak-pernah-kemana-mana-216z</guid>
      <pubDate>Wed, 14 Sep 2022 14:50:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Gamang</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/gamang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Sirine ambulans yang Theo tumpangi terdengar bagai lantunan elegi yang mengiringi perjalanannya, rasa kalut jelas tak mampu ia sembunyikan lagi. Tak jauh dari tempatnya duduk, terbaring seorang gadis cantik yang sedang ditangani pihak medis, pakaiannya bercorak darah, kesadarannya hilang ke antah-berantah.&#xA;&#xA;Di kepala Theo perasaan sesal itu terus-menerus bercokol, seolah tidak mengizinkan dirinya berpikiran jernih. Ketakutan akan kehilangan jelas menghantui. Baginya, cukup satu kali ia kehilangan seseorang yang punya pengaruh besar dalam hidup, jangan ada kali kedua atau seterusnya.&#xA;&#xA;Andai ia menyadari serangan Miguel lebih cepat, mungkin setidaknya ia bisa menghindar atau menepis tanpa mengorbankan siapapun. Jikapun akhirnya ia tetap terluka, Theo rela. Asal jangan gadisnya, jangan orang yang teramat ia sayangi.&#xA;&#xA;Mobil pasien itu sampai di pelataran rumah sakit, ada sekitar enam orang tenaga medis yang tampak sudah menunggu di luar mobil. Barangkali sudah mendapat kabar perihal insiden ini. Cynthia yang terbaring tanpa daya, lantas diarak menuju tempat perawatan yang lebih layak.&#xA;&#xA;“Dia nggak akan kenapa-napa, kan, dokter?” tanya Theo seraya mengikuti langkah para medis.&#xA;Seorang dokter yang berjalan di samping Theo menjawab, “Pasien kehilangan banyak darah dan harus menjalani operasi karena luka yang dialami pasien cukup serius. Mari kita doakan yang terbaik, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk keselamatan pasien,” ujarnya.&#xA;&#xA;Langkah Theo terhenti tepat di depan pintu ruang operasi, langkahnya dihadang seorang perawat yang mencegah dirinya masuk lebih jauh. Kedua bahu lelaki itu menurun, matanya berkaca-kaca. Kemudian ia bersimpuh, dalam hati merapal doa, memohon kepada Sang Pencipta agar bersedia menyelamatkan gadis tersayangnya.&#xA;&#xA;“Tuhan, tolong selamatkan dia ...,” bisiknya diiringi setetes bulir air mata keputusasaan yang jatuh di pelupuk mata.&#xA;--- &#xA;&#xA;Tiga jam terasa bagai tiga tahun lamanya, selama itu Theo menunggu dalam ketidakpastian yang perlahan merenggut akal sehatnya. Ia tak lagi mampu berpikiran jernih, harap-harap cemas ia rasa. Bahkan, kedua tangannya yang bergetar seakan sudah mati rasa.&#xA;&#xA;Di sisi lain, Jonathan—sang Ayah yang telah tiba di rumah sakit sekitar dua jam lalu begitu mendengar musibah yang menimpa Theo dan Cynthia hanya bisa memandang anak semata wayangnya prihatin. Sambil sesekali menepuk-nepuk punggung sang anak, bermaksud menenangkan sedikit gudah yang membelenggu lelaki itu.&#xA;&#xA;“Tiga jam, Pa, aku udah nunggu selama itu. Kenapa operasinya belum juga selesai?” Theo melirih.&#xA;&#xA;“Sabar, Theo. Di dalam sana dokter pasti sedang mengusahakan yang terbaik untuk Cynthia.” Hanya kalimat itu yang mampu Jonathan ucap sebagai penenang.&#xA;&#xA;Theo mengacak rambut frustasi, “Aku nggak siap akan kemungkinan terburuk, Pa,” erang lelaki itu.&#xA;&#xA;“Kemungkinan terburuk itu masih menjadi kemungkinan. Untuk apa kamu memikirkan hal yang belum tentu terjadi? Itu cuma akan membuat perasaan kamu tidak tenang dan terus gelisah.” Jonathan menepuk bahu putranya. “Daripada menuruti pemikiran negatif, lebih baik kamu berdoa untuk keselamatan Cynthia,” sambungnya.&#xA;&#xA;Theo mengangguk samar, ia berusaha menepis semua pemikiran buruk seperti titahan sang Papa. Kedua lelaki berbeda usia itu pun terjebak keheningan cukup lama, sama-sama larut pada pikiran masing-masing mereka. Sampai kemudian lampu ruang operasi redup, pintu perlahan terbuka. Sosok dokter bersetelan khas operasi melangkah keluar dari sana, menghampiri Theo yang sudah beranjak dari duduknya. Jantung lelaki itu bertalu hebat menanti ucapan sang dokter.&#xA;&#xA;“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Jonathan membuka percakapan lebih awal, seolah memahami perasaan putranya.&#xA;&#xA;“Berkat karunia Tuhan, operasinya berjalan lancar.” Dokter itu terseyum.&#xA;&#xA;“Terus keadaan Cicin gimana, Dok? Kondisinya nggak parah, kan? Dia bakal baik-baik aja, kan?” Seolah tanpa rem, mulut Theo mengajukan banyak tanya tanpa jeda.&#xA;&#xA;Merespons pertanyaan bertubi-tubi Theo, dokter tersebut lalu menjelaskan. “Lukanya memang cukup serius, tapi beruntung, pisau tidak menembus lebih jauh dan melukai organ dalam pasien,” jelasnya.&#xA;&#xA;Mendengar hal itu, Theo membuang napas lega. Ketakutannya perlahan sirna.&#xA;“Untuk sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap,” ucap dokter itu, kembali menjelaskan.&#xA;&#xA;“Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk pasien sadar?”&#xA;&#xA;“Sekitar 6 sampai 8 jam, tapi bisa juga lebih dari itu. Kita tunggu saja.”&#xA;&#xA;Theo mengangguk paham, “Terima kasih, Dokter.”&#xA;&#xA;“Baik, kalau begitu saya permisi,” pamit sang Dokter.&#xA;&#xA;Dokter itu pun melangkah pergi, menyisakan Theo dan Jonathan yang masih berdiri di posisi yang sama. Tak berapa lama usai sang Dokter melangkah pergi dari hadapan mereka, dua orang perawat keluar dari ruang operasi seraya mendorong bangsal di mana Cynthia sedang berbaring di sana, hendak membawa gadis itu ke ruang rawat inap. Kedua lelaki yang terpaut usia cukup jauh itu bersiap mengikuti kemana perawat itu membawa Cynthia pergi.&#xA;&#xA;“Ketakutanmu nyatanya nggak terbukti, kan?” Jonathan membuka percakapan sesaat setelah mereka sampai di sebuah ruang inap kelas VVIP yang sengaja lelaki paruh baya itu pesan demi kenyamanan Cynthia dan Theo. Sekarang ia tengah duduk berhadapan dengan anak tunggalnya, sementara Cynthia masih terlelap di bangsal.&#xA;&#xA;Theo mengangguk setuju. “Aku bersyukur dia selamat.”&#xA;&#xA;“Sudah kabari pihak keluarganya?”&#xA;&#xA;“Belum.”&#xA;&#xA;“Coba kabari dulu. Bagaimanapun keluarga Cynthia mesti tau tentang hal ini.”&#xA;&#xA;Theo mengecek jam di ponselnya, pukul 4 pagi. Ia berpikir singkat, apa harus ia hubungi Jeffrey sekarang? Theo takut menggangu, tapi semakin cepat diberi tahu, akan semakin baik. Ia juga ingin meminta Jeffrey kemari supaya bisa bergantian menjaga Cynthia. Sebab, Theo berniat pergi ke kantor polisi demi mengurus persoalan insiden yang baru menimpanya, ia ingin membuat Miguel membayar mahal dan bertekad membuat lelaki itu dihukum seberat-beratnya.&#xA;&#xA;Theo akhirnya memutuskan untuk menelepon Jeffrey, ia pun berjalan ke luar. Takut suaranya akan menggangu kenyamanan Cynthia, dan Papanya yang baru saja berbaring di sofa untuk tidur.&#xA;&#xA;“Halo ....” Suara berat nan serak menyambut panggilan Theo untuk pertama kali.&#xA;&#xA;“Iya, halo, Je.”&#xA;&#xA;Jeffrey terdiam lama, “Ada apaan, Bu, subuh-subuh nelepon? Ayam aja belum bunyi jam segini mah, ini lo udah nelepon gue aja,” protes Jeffrey.&#xA;&#xA;“Cicin ... masuk rumah sakit,” ucap Theo terbata-bata.&#xA;&#xA;Jeffrey terdiam, barangkali otaknya sedang berusaha mencerna maksud ucapan Theo. “Hah? Kok bisa? Dia kenapa?” responsnya, ada nada khawatir disela perkataan lelaki itu.&#xA;&#xA;“Ini salah aku karena nggak bisa jaga dia dengan baik. Maaf ya, Je.”&#xA;&#xA;“Bentar ... bentar, jangan asal minta maaf aja. Gue kan nggak tau duduk permasalahannya di mana. Emang dia masuk rumah sakit gara-gara lo? Nggak, kan? Jadi, jelasin dulu awal mulanya gimana.” Jeffrey berujar panjang lebar.&#xA;&#xA;“Dia kena tikam ... harusnya aku yang kena, tapi dia malah lindungin aku.” Ucapan Theo terjeda beberapa saat. “Maaf ya, padahal harusnya aku yang lindungin dia.”&#xA;&#xA;“Berengsek mana yang lakuin hal biadab itu? Lo tau orangnya, kan? Ayo lapor polisi,” sungut Jeffrey berapi-api.&#xA;&#xA;“Miguel pelakunya,”&#xA;&#xA;“Wah ... psikopat bajingan itu lagi? Gue kira dia ngilang karena udah tobat, taunya malah makin nekat.” Jeffrey berdecak tak habis pikir. “Sekarang orangnya kemana? Kabur?”&#xA;&#xA;“Diamanin polisi.”&#xA;&#xA;Jeffrey menyambar puas. “Mampus! Kece juga polisi bisa gercep nangkap dia.”&#xA;&#xA;“Jelas, orang dia lakuin itu di depan polisi.”&#xA;&#xA;“What the f—?!” umpat Jeffrey tertahan.&#xA;&#xA;“Ceritanya panjang, nanti mending aku jelasin langsung. Kira-kira kamu bisa nyusul sini nggak? Aku butuh bantuan untuk jaga Cicin selagi aku ngurus persoalan ini ke kantor polisi,” pinta Theo.&#xA;&#xA;Membalas permintaan Theo, Jeffrey berujar, “Bisalah anjir, tanpa lo minta dateng juga gue bakal dateng ke sana. Gue adeknya, udah sepantasnya gue jagain dia.”&#xA;&#xA;“Makasih banyak, Je,” hatur Theo penuh arti.&#xA;&#xA;“Ngapain makasih segala sih, kan udah gue bilang jagain Cynthia udah termasuk kewajiban gue.”&#xA;&#xA;“Ya, nggak apa-apa sih. Kan bilang makasih itu termasuk basic manner.”&#xA;&#xA;“Ck, iyedah serah lo. Gue tutup, ya? Mau siap-siap ke sana. Kayaknya gue ambil flight sekitar jam 10 pagi, mau ngurus cuti ke kantor dulu. Meskipun gue bos, SOP tetep kudu dijunjung tinggi.”&#xA;&#xA;Setelah Theo mengiyakan, sambungan telepon pun terputus. Sesudah itu, Theo melangkah kembali ke ruang rawat inap, lalu duduk di kursi yang tepat berada di samping bangsal tempat Cynthia terlelap. Kedua mata sayu yang sarat akan kelelahan itu menatap sendu raga gadis yang terbaring tanpa daya. Harapan yang Theo semogakan masih sama, ia ingin gadisnya segera membuka mata dan pulih secepatnya.&#xA;&#xA;---&#xA;Written by C]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Sirine ambulans yang Theo tumpangi terdengar bagai lantunan elegi yang mengiringi perjalanannya, rasa kalut jelas tak mampu ia sembunyikan lagi. Tak jauh dari tempatnya duduk, terbaring seorang gadis cantik yang sedang ditangani pihak medis, pakaiannya bercorak darah, kesadarannya hilang ke antah-berantah.</p>

<p>Di kepala Theo perasaan sesal itu terus-menerus bercokol, seolah tidak mengizinkan dirinya berpikiran jernih. Ketakutan akan kehilangan jelas menghantui. Baginya, cukup satu kali ia kehilangan seseorang yang punya pengaruh besar dalam hidup, jangan ada kali kedua atau seterusnya.</p>

<p>Andai ia menyadari serangan Miguel lebih cepat, mungkin setidaknya ia bisa menghindar atau menepis tanpa mengorbankan siapapun. Jikapun akhirnya ia tetap terluka, Theo rela. Asal jangan gadisnya, jangan orang yang teramat ia sayangi.</p>

<p>Mobil pasien itu sampai di pelataran rumah sakit, ada sekitar enam orang tenaga medis yang tampak sudah menunggu di luar mobil. Barangkali sudah mendapat kabar perihal insiden ini. Cynthia yang terbaring tanpa daya, lantas diarak menuju tempat perawatan yang lebih layak.</p>

<p>“Dia nggak akan kenapa-napa, kan, dokter?” tanya Theo seraya mengikuti langkah para medis.
Seorang dokter yang berjalan di samping Theo menjawab, “Pasien kehilangan banyak darah dan harus menjalani operasi karena luka yang dialami pasien cukup serius. Mari kita doakan yang terbaik, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk keselamatan pasien,” ujarnya.</p>

<p>Langkah Theo terhenti tepat di depan pintu ruang operasi, langkahnya dihadang seorang perawat yang mencegah dirinya masuk lebih jauh. Kedua bahu lelaki itu menurun, matanya berkaca-kaca. Kemudian ia bersimpuh, dalam hati merapal doa, memohon kepada Sang Pencipta agar bersedia menyelamatkan gadis tersayangnya.</p>

<p>“Tuhan, tolong selamatkan dia ...,” bisiknya diiringi setetes bulir air mata keputusasaan yang jatuh di pelupuk mata.</p>

<hr/>

<p>Tiga jam terasa bagai tiga tahun lamanya, selama itu Theo menunggu dalam ketidakpastian yang perlahan merenggut akal sehatnya. Ia tak lagi mampu berpikiran jernih, harap-harap cemas ia rasa. Bahkan, kedua tangannya yang bergetar seakan sudah mati rasa.</p>

<p>Di sisi lain, Jonathan—sang Ayah yang telah tiba di rumah sakit sekitar dua jam lalu begitu mendengar musibah yang menimpa Theo dan Cynthia hanya bisa memandang anak semata wayangnya prihatin. Sambil sesekali menepuk-nepuk punggung sang anak, bermaksud menenangkan sedikit gudah yang membelenggu lelaki itu.</p>

<p>“Tiga jam, Pa, aku udah nunggu selama itu. Kenapa operasinya belum juga selesai?” Theo melirih.</p>

<p>“Sabar, Theo. Di dalam sana dokter pasti sedang mengusahakan yang terbaik untuk Cynthia.” Hanya kalimat itu yang mampu Jonathan ucap sebagai penenang.</p>

<p>Theo mengacak rambut frustasi, “Aku nggak siap akan kemungkinan terburuk, Pa,” erang lelaki itu.</p>

<p>“Kemungkinan terburuk itu masih menjadi kemungkinan. Untuk apa kamu memikirkan hal yang belum tentu terjadi? Itu cuma akan membuat perasaan kamu tidak tenang dan terus gelisah.” Jonathan menepuk bahu putranya. “Daripada menuruti pemikiran negatif, lebih baik kamu berdoa untuk keselamatan Cynthia,” sambungnya.</p>

<p>Theo mengangguk samar, ia berusaha menepis semua pemikiran buruk seperti titahan sang Papa. Kedua lelaki berbeda usia itu pun terjebak keheningan cukup lama, sama-sama larut pada pikiran masing-masing mereka. Sampai kemudian lampu ruang operasi redup, pintu perlahan terbuka. Sosok dokter bersetelan khas operasi melangkah keluar dari sana, menghampiri Theo yang sudah beranjak dari duduknya. Jantung lelaki itu bertalu hebat menanti ucapan sang dokter.</p>

<p>“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Jonathan membuka percakapan lebih awal, seolah memahami perasaan putranya.</p>

<p>“Berkat karunia Tuhan, operasinya berjalan lancar.” Dokter itu terseyum.</p>

<p>“Terus keadaan Cicin gimana, Dok? Kondisinya nggak parah, kan? Dia bakal baik-baik aja, kan?” Seolah tanpa rem, mulut Theo mengajukan banyak tanya tanpa jeda.</p>

<p>Merespons pertanyaan bertubi-tubi Theo, dokter tersebut lalu menjelaskan. “Lukanya memang cukup serius, tapi beruntung, pisau tidak menembus lebih jauh dan melukai organ dalam pasien,” jelasnya.</p>

<p>Mendengar hal itu, Theo membuang napas lega. Ketakutannya perlahan sirna.
“Untuk sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap,” ucap dokter itu, kembali menjelaskan.</p>

<p>“Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk pasien sadar?”</p>

<p>“Sekitar 6 sampai 8 jam, tapi bisa juga lebih dari itu. Kita tunggu saja.”</p>

<p>Theo mengangguk paham, “Terima kasih, Dokter.”</p>

<p>“Baik, kalau begitu saya permisi,” pamit sang Dokter.</p>

<p>Dokter itu pun melangkah pergi, menyisakan Theo dan Jonathan yang masih berdiri di posisi yang sama. Tak berapa lama usai sang Dokter melangkah pergi dari hadapan mereka, dua orang perawat keluar dari ruang operasi seraya mendorong bangsal di mana Cynthia sedang berbaring di sana, hendak membawa gadis itu ke ruang rawat inap. Kedua lelaki yang terpaut usia cukup jauh itu bersiap mengikuti kemana perawat itu membawa Cynthia pergi.</p>

<p>“Ketakutanmu nyatanya nggak terbukti, kan?” Jonathan membuka percakapan sesaat setelah mereka sampai di sebuah ruang inap kelas VVIP yang sengaja lelaki paruh baya itu pesan demi kenyamanan Cynthia dan Theo. Sekarang ia tengah duduk berhadapan dengan anak tunggalnya, sementara Cynthia masih terlelap di bangsal.</p>

<p>Theo mengangguk setuju. “Aku bersyukur dia selamat.”</p>

<p>“Sudah kabari pihak keluarganya?”</p>

<p>“Belum.”</p>

<p>“Coba kabari dulu. Bagaimanapun keluarga Cynthia mesti tau tentang hal ini.”</p>

<p>Theo mengecek jam di ponselnya, pukul 4 pagi. Ia berpikir singkat, apa harus ia hubungi Jeffrey sekarang? Theo takut menggangu, tapi semakin cepat diberi tahu, akan semakin baik. Ia juga ingin meminta Jeffrey kemari supaya bisa bergantian menjaga Cynthia. Sebab, Theo berniat pergi ke kantor polisi demi mengurus persoalan insiden yang baru menimpanya, ia ingin membuat Miguel membayar mahal dan bertekad membuat lelaki itu dihukum seberat-beratnya.</p>

<p>Theo akhirnya memutuskan untuk menelepon Jeffrey, ia pun berjalan ke luar. Takut suaranya akan menggangu kenyamanan Cynthia, dan Papanya yang baru saja berbaring di sofa untuk tidur.</p>

<p>“Halo ....” Suara berat nan serak menyambut panggilan Theo untuk pertama kali.</p>

<p>“Iya, halo, Je.”</p>

<p>Jeffrey terdiam lama, “Ada apaan, Bu, subuh-subuh nelepon? Ayam aja belum bunyi jam segini mah, ini lo udah nelepon gue aja,” protes Jeffrey.</p>

<p>“Cicin ... masuk rumah sakit,” ucap Theo terbata-bata.</p>

<p>Jeffrey terdiam, barangkali otaknya sedang berusaha mencerna maksud ucapan Theo. “Hah? Kok bisa? Dia kenapa?” responsnya, ada nada khawatir disela perkataan lelaki itu.</p>

<p>“Ini salah aku karena nggak bisa jaga dia dengan baik. Maaf ya, Je.”</p>

<p>“Bentar ... bentar, jangan asal minta maaf aja. Gue kan nggak tau duduk permasalahannya di mana. Emang dia masuk rumah sakit gara-gara lo? Nggak, kan? Jadi, jelasin dulu awal mulanya gimana.” Jeffrey berujar panjang lebar.</p>

<p>“Dia kena tikam ... harusnya aku yang kena, tapi dia malah lindungin aku.” Ucapan Theo terjeda beberapa saat. “Maaf ya, padahal harusnya aku yang lindungin dia.”</p>

<p>“Berengsek mana yang lakuin hal biadab itu? Lo tau orangnya, kan? Ayo lapor polisi,” sungut Jeffrey berapi-api.</p>

<p>“Miguel pelakunya,”</p>

<p>“Wah ... psikopat bajingan itu lagi? Gue kira dia ngilang karena udah tobat, taunya malah makin nekat.” Jeffrey berdecak tak habis pikir. “Sekarang orangnya kemana? Kabur?”</p>

<p>“Diamanin polisi.”</p>

<p>Jeffrey menyambar puas. “Mampus! Kece juga polisi bisa gercep nangkap dia.”</p>

<p>“Jelas, orang dia lakuin itu di depan polisi.”</p>

<p>“What the f—?!” umpat Jeffrey tertahan.</p>

<p>“Ceritanya panjang, nanti mending aku jelasin langsung. Kira-kira kamu bisa nyusul sini nggak? Aku butuh bantuan untuk jaga Cicin selagi aku ngurus persoalan ini ke kantor polisi,” pinta Theo.</p>

<p>Membalas permintaan Theo, Jeffrey berujar, “Bisalah anjir, tanpa lo minta dateng juga gue bakal dateng ke sana. Gue adeknya, udah sepantasnya gue jagain dia.”</p>

<p>“Makasih banyak, Je,” hatur Theo penuh arti.</p>

<p>“Ngapain makasih segala sih, kan udah gue bilang jagain Cynthia udah termasuk kewajiban gue.”</p>

<p>“Ya, nggak apa-apa sih. Kan bilang makasih itu termasuk basic manner.”</p>

<p>“Ck, iyedah serah lo. Gue tutup, ya? Mau siap-siap ke sana. Kayaknya gue ambil flight sekitar jam 10 pagi, mau ngurus cuti ke kantor dulu. Meskipun gue bos, SOP tetep kudu dijunjung tinggi.”</p>

<p>Setelah Theo mengiyakan, sambungan telepon pun terputus. Sesudah itu, Theo melangkah kembali ke ruang rawat inap, lalu duduk di kursi yang tepat berada di samping bangsal tempat Cynthia terlelap. Kedua mata sayu yang sarat akan kelelahan itu menatap sendu raga gadis yang terbaring tanpa daya. Harapan yang Theo semogakan masih sama, ia ingin gadisnya segera membuka mata dan pulih secepatnya.</p>

<hr/>

<p><strong>Written by C</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/gamang</guid>
      <pubDate>Mon, 18 Jul 2022 20:05:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Runaway</title>
      <link>https://cheenoire.writeas.com/runaway-f9hg?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat tenang di kamar hotelnya saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, pada awalnya ia memang tak sadar tengah diintai oleh seseorang, namun seiring berjalannya waktu hal tersebut terkuak juga pada akhirnya.&#xA;&#xA;Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama kepada toko kue yang ia kelola ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil ia lalui.&#xA;&#xA;Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.&#xA;&#xA;“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi sama dia minta supaya dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju terus pergi dari depan kamar, baru deh aku bakal nyelinap keluar diem-diem.” Cynthia menjelaskan.&#xA;&#xA;&#34;Kalau sampai keciduk gimana?&#34; Theo mengajukan tanya.&#xA;&#xA;“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.&#xA;&#xA;“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”&#xA;&#xA;“Yeah, I know. Cuma bukan itu pointnya.”&#xA;&#xA;“Terus apa?”&#xA;&#xA;“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”&#xA;&#xA;“Lalu? Hubungannya merica sama Miguel apa?”&#xA;&#xA;“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”&#xA;&#xA;“Tapi kan ....”&#xA;&#xA;“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, okaaay?”&#xA;&#xA;“Hmm,” respons Theo singkat. “By the way, aku udah sampe depan hotel ya. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”&#xA;&#xA;“Ay ay, captain! Aku siap meluncur ke sana.”&#xA;&#xA;“Teleponnya jangan ditutup.”&#xA;&#xA;“Kenapa?”&#xA;&#xA;“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”&#xA;&#xA;Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya, ia pun berkata.&#xA;“Ya ... asal kamu nggak nekat nyamperin aja sekalipun aku ada di situasi mendesak, just let me handle it by myself. Deal?”&#xA;&#xA;“Deal.”&#xA;&#xA;“Good. Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. Wait a little longer.” Cynthia lalu membuka aplikasi chatting di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.&#xA;&#xA;  Unknown&#xA;&#xA;  Sekarang buka pintu kamar lo&#xA;&#xA;  Let me in&#xA;&#xA;  Or I&#39;ll do it my way&#xA;&#xA;Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.&#xA;&#xA;  Cynthia&#xA;&#xA;  Can you stop bothering me just for tonight?&#xA;&#xA;  Please, ini udah malem&#xA;&#xA;  Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue&#xA;&#xA;  If you want to see me, do it tomorrow&#xA;&#xA;  Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila&#xA;&#xA;Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.&#xA;&#xA;  Unknown&#xA;&#xA;  As you wish, baby&#xA;&#xA;  Sleep tight and see you tomorrow&#xA;&#xA;Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.&#xA;&#xA;Terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu kali ini.&#xA;&#xA;“Gimana, Cin?” Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.&#xA;&#xA;Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”&#xA;&#xA;“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,” titah lelaki itu.&#xA;&#xA;“Okay, I’ll be right back, handphone-nya mau aku masukin saku.”&#xA;&#xA;“Hati-hati.”&#xA;&#xA;“Heem, kamu stand by ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”&#xA;&#xA;Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara, kemudian memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.&#xA;&#xA;Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia melangkah lebar menuju pintu keluar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya pun dipaksa berbalik. Ia menemukan kehadiran sosok yang paling tidak ingin ditemuinya malam ini, Miguel Dewantara. &#xA;&#xA;“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh.”&#xA;&#xA;“Lepas,” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.&#xA;&#xA;Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”&#xA;&#xA;“Sinting ya lo? Gue bilang lepas, jing.  Lo mau gue teriak?”&#xA;&#xA;“Kalau mau teriak ya teriak aja, cuma gue jamin nggak bakal ada seorang pun yang bantu lo di sini. Kenapa? Karena gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari. Percaya deh, akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, maka gue akan perlakuin lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?”&#xA;&#xA;Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, tangan besarnya semakin mencengkram pergelangan gadis itu kuat-kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat yang sudah disiapkan tersimpan. Ia pun menerbitkan senyum penuh kemenangan saat berhasil meraihnya.&#xA;&#xA;“Miguel,” panggilnya.&#xA;&#xA;Saat Miguel menoleh, segara Cynthia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.&#xA;&#xA;“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?!” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.&#xA;&#xA;Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet seorang lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Ia melangkah masuk secepat mungkin, takut bila Miguel masih berusaha mengejar langkahnya di belakang sana. Saat ia sudah duduk nyaman di seat belakang, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.&#xA;&#xA;“Hah? Nggak kok, sumpah.”&#xA;&#xA;Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”&#xA;&#xA;“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya kan di lift emang minim sinyal.&#34; Cynthia membela diri.&#xA;&#xA;Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. &#34;Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?&#34;&#xA;&#xA;“Abis ketemu setan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boong. Kamu ini, coba kalau aku nanya serius jawabnya juga yang serius dong!”&#xA;&#xA;&#34;Lah orang aku serius? Nama setannya Miguel btw.&#34;&#xA;&#xA;Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel?” pekiknya, dibalas anggukan santai oleh sang lawan bicara. “Dan respon kamu sesantai ini?” Lelaki itu menggeleng tak percaya. Apa karena sudah cukup sering berhadapan dengan Miguel, menjadikan Cynthia tak lagi gentar?&#xA;&#xA;&#34;Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.&#34;&#xA;&#xA;“Ya, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... apa dia udah tobat lalu berbaik hati biarin kamu pergi?&#34;&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau!” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.&#xA;&#xA;“Pasti sakit. Maaf ya? Andai aja sambungan teleponnya nggak keputus, pasti aku udah ke sana untuk bantu kamu ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.&#xA;&#xA;“Jangan minta maaf, karena kamu nggak punya salah apa-apa. Lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus, kamu jadi nggak bisa tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.&#xA;&#xA;“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.&#xA;&#xA;“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.&#34; Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.&#xA;&#xA;“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.&#34;&#xA;&#xA;“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”&#xA;&#xA;“Yakin masih perlu jawaban atas pertanyaan yang udah jelas kamu tau jawabannya?&#34;&#xA;&#xA;“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”&#xA;&#xA;“Cih, dasar.&#34; Theo berdecih, &#34;Jawabannya, iyaaa aku kangen bangeeeet sama kamu, sampai mau meninggoy tau nggak?&#34; ujarnya hiperbolis.&#xA;&#xA;“Real kah?”&#xA;&#xA;“Real dong, Min. Perlu cross check?&#34;&#xA;&#xA;“Boleh. Sini biar aku cross check sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.&#xA;&#xA;Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa cross check-nya yang teliti ya? Lama-lamain aja, nggak apa-apa.”&#xA;&#xA;“Siap.&#34;&#xA;&#xA;Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.&#xA;&#xA;**&#xA;&#xA;Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Masa bodoh dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.&#xA;&#xA;Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih cross check* tadi. Theo merasa beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun makin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu, mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya. &#xA;&#xA;Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggu saat ini, Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia  yang hampir limbung membentur pintu.&#xA;&#xA;“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.&#xA;&#xA;“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”&#xA;&#xA;Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.&#xA;&#xA;Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun.” titahnya dengan nada datar.&#xA;&#xA;Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.&#34;&#xA;&#xA;“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”&#xA;&#xA;“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak berurusan sama dia. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”&#xA;&#xA;“Mas, apa nggak lebih baik kita putar balik saja?” tawar sang supir khawatir.&#xA;&#xA;Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”&#xA;&#xA;&#34;B-baik, Mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini, kunci pintunya rapat-rapat sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai. Bapak paham, kan?&#34; Theo berpesan panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk tanda paham.&#xA;&#xA;Theo kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Keluar dari dalam taksi, ia lantas melangkah menghampiri Miguel yang mungkin sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.&#xA;&#xA;Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.&#xA;&#xA;“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.&#xA;&#xA;“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,&#34; jawab Theo.&#xA;&#xA;Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.&#xA;&#xA;“Saya pacarnya.”&#xA;&#xA;“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”&#xA;&#xA;“Dia lagi nggak bisa diganggu,” tegas Theo. &#34;Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.&#34; Ia melanjutkan ucapannya.&#xA;&#xA;“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo yang terdengar bagai omong kosong di telinganya. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!&#34; Miguel menunjuk-nunjuk pipinya, menantang Theo. Namun, perbuatannya sama sekali tak Theo gubris. &#34;Kenapa diem? Nggak berani, ya? Takut gue bales, terus lo gue bikin mati? Iya?&#34; ujar lelaki itu meremehkan.&#xA;&#xA;Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga.  Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.&#xA;&#xA;Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatannya. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, kita pake rame-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, gue nggak masalah kalau harus pake bekasan lo. Gimana?&#34;&#xA;&#xA;Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.&#xA;&#xA;“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.&#xA;&#xA;Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas, ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”&#xA;&#xA;“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan pecundang macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.&#xA;&#xA;Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan, Theo langsung kalah telak ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.&#xA;&#xA;“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan serangan-serangan lain kepada lelaki itu.&#xA;&#xA;Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempaskan dirinya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo  terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah.&#xA;&#xA;Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine polisi mendekat, lelaki itu menengok ke kanan dan kiri guna memastikan bahwa suara yang ditangkap indera pendengaran benar.&#xA;&#xA;Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan  denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, lantas menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa.&#xA;&#xA;Sebelum Miguel sempat membalas, beruntung polisi sudah sampai dan memisahkan pertarungan keduanya. Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu berinisiatif menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.&#xA;&#xA;Di tengah keributan berlangsung, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.&#xA;&#xA;“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.&#xA;&#xA;Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”&#xA;&#xA;“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Akal sehat kamu kemana sampai gegabah lawan dia, alih-alih pergi selametin diri? Sengaja bikin aku ngerasa bersalah karena harus nontonin kamu dipukulin di dalem sana kayak orang bodoh, tanpa bisa lakuin apapun untuk bantu kamu, iya? Jahat banget tau nggak, kamu jahat dan egois!&#34;&#xA;&#xA;“Iya terserah mau kamu sebut aku jahat atau egois sekalipun, aku nggak peduli. Iya, aku emang sengaja ngelakuin itu karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar buat nolong aku. Gimana? Kita impas kan sekarang? Tadi kamu juga lakuin hal yang sama.” ujar Theo.&#xA;&#xA;Di sisi lain perdebatan kedua sejoli itu berlangsung, supir taksi selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.&#xA;&#xA;Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.&#xA;&#xA;“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.&#xA;&#xA;Saat hendak di bawa  menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari menodongkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target incaran sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya sedang terancam. Cynthia yang sedang mendebat Theo, justru lebih dulu menyadari. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin ketika mengetahui langkah Miguel semakin dekat, buru-buru mengganti posisi dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi Theo dari serangan Miguel.&#xA;&#xA;Dalam sekejap, Cynthia bisa merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan yang refleks keluar dari celah bibir.&#xA;&#xA;Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, padahal sebelumnya ia tengah diomeli oleh Cynthia. Sampai ia pandangannya menangkap Miguel berada persis di balik tubuh Cynthia, memandangnya tajam sembari menggenggam sebuah pisau yang sudah berlumuran darah, beberapa detik kemudian Theo sadar akan apa yang sedang terjadi. Ia kalang-kabut saat merasakan cairan basah mengenai telapak tangannya.&#xA;&#xA;“Cin ... kamu berdarah banyak!” Theo berseru panik. Saking paniknya ia sampai menangis. &#xA;&#xA;Petugas kepolisian tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu bertindak lebih jauh.&#xA;&#xA;“Tolong, siapapun! Tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!&#34; teriak Theo lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan gadisnya dengan kedua tangan.&#xA;&#xA;Cynthia memandang Theo penuh arti, kemudian berucap lirih. “Syukurlah, kamu nggak kenapa-napa.”&#xA;&#xA;Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang seiring dengan tangisan Theo yang  bertambah nyaring.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Written by C&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat tenang di kamar hotelnya saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, pada awalnya ia memang tak sadar tengah diintai oleh seseorang, namun seiring berjalannya waktu hal tersebut terkuak juga pada akhirnya.</p>

<p>Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama kepada toko kue yang ia kelola ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil ia lalui.</p>

<p>Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.</p>

<p>“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi sama dia minta supaya dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju terus pergi dari depan kamar, baru deh aku bakal nyelinap keluar diem-diem.” Cynthia menjelaskan.</p>

<p><em>“Kalau sampai keciduk gimana?”</em> Theo mengajukan tanya.</p>

<p>“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.</p>

<p><em>“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”</em></p>

<p>“<em>Yeah, I know.</em> Cuma bukan itu pointnya.”</p>

<p><em>“Terus apa?”</em></p>

<p>“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”</p>

<p><em>“Lalu? Hubungannya merica sama Miguel apa?”</em></p>

<p>“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”</p>

<p><em>“Tapi kan ....”</em></p>

<p>“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, okaaay?”</p>

<p><em>“Hmm,”</em> respons Theo singkat. <em>“By the way, aku udah sampe depan hotel ya. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”</em></p>

<p>“Ay ay, captain! Aku siap meluncur ke sana.”</p>

<p><em>“Teleponnya jangan ditutup.”</em></p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p><em>“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”</em></p>

<p>Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya, ia pun berkata.
“Ya ... asal kamu nggak nekat nyamperin aja sekalipun aku ada di situasi mendesak, <em>just let me handle it by myself. Deal?</em>”</p>

<p><em>“Deal.”</em></p>

<p>“<em>Good.</em> Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. <em>Wait a little longer.</em>” Cynthia lalu membuka aplikasi <em>chatting</em> di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.</p>

<blockquote><p><strong>Unknown</strong></p>

<p>Sekarang buka pintu kamar lo</p>

<p>Let me in</p>

<p>Or I&#39;ll do it my way</p></blockquote>

<p>Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.</p>

<blockquote><p><strong>Cynthia</strong></p>

<p>Can you stop bothering me just for tonight?</p>

<p>Please, ini udah malem</p>

<p>Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue</p>

<p>If you want to see me, do it tomorrow</p>

<p>Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila</p></blockquote>

<p>Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.</p>

<blockquote><p><strong>Unknown</strong></p>

<p>As you wish, baby</p>

<p>Sleep tight and see you tomorrow</p></blockquote>

<p>Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.</p>

<p>Terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu kali ini.</p>

<p><em>“Gimana, Cin?”</em> Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.</p>

<p>Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”</p>

<p><em>“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,”</em> titah lelaki itu.</p>

<p>“<em>Okay, I’ll be right back, handphone</em>-nya mau aku masukin saku.”</p>

<p><em>“Hati-hati.”</em></p>

<p>“Heem, kamu <em>stand by</em> ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”</p>

<p>Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara, kemudian memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.</p>

<p>Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia melangkah lebar menuju pintu keluar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya pun dipaksa berbalik. Ia menemukan kehadiran sosok yang paling tidak ingin ditemuinya malam ini, Miguel Dewantara.</p>

<p>“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh.”</p>

<p>“Lepas,” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.</p>

<p>Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”</p>

<p>“Sinting ya lo? Gue bilang lepas, jing.  Lo mau gue teriak?”</p>

<p>“Kalau mau teriak ya teriak aja, cuma gue jamin nggak bakal ada seorang pun yang bantu lo di sini. Kenapa? Karena gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari. Percaya deh, akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, maka gue akan perlakuin lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?”</p>

<p>Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, tangan besarnya semakin mencengkram pergelangan gadis itu kuat-kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat yang sudah disiapkan tersimpan. Ia pun menerbitkan senyum penuh kemenangan saat berhasil meraihnya.</p>

<p>“Miguel,” panggilnya.</p>

<p>Saat Miguel menoleh, segara Cynthia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.</p>

<p>“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?!” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.</p>

<p>Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet seorang lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Ia melangkah masuk secepat mungkin, takut bila Miguel masih berusaha mengejar langkahnya di belakang sana. Saat ia sudah duduk nyaman di seat belakang, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.</p>

<hr/>

<p>“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.</p>

<p>“Hah? Nggak kok, sumpah.”</p>

<p>Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”</p>

<p>“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya kan di lift emang minim sinyal.” Cynthia membela diri.</p>

<p>Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. “Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?”</p>

<p>“Abis ketemu setan.”</p>

<p>“Boong. Kamu ini, coba kalau aku nanya serius jawabnya juga yang serius dong!”</p>

<p>“Lah orang aku serius? Nama setannya Miguel btw.”</p>

<p>Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel?” pekiknya, dibalas anggukan santai oleh sang lawan bicara. “Dan respon kamu sesantai ini?” Lelaki itu menggeleng tak percaya. Apa karena sudah cukup sering berhadapan dengan Miguel, menjadikan Cynthia tak lagi gentar?</p>

<p>“Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.”</p>

<p>“Ya, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... apa dia udah tobat lalu berbaik hati biarin kamu pergi?”</p>

<p>Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau!” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.</p>

<p>“Pasti sakit. Maaf ya? Andai aja sambungan teleponnya nggak keputus, pasti aku udah ke sana untuk bantu kamu ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.</p>

<p>“Jangan minta maaf, karena kamu nggak punya salah apa-apa. Lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus, kamu jadi nggak bisa tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.</p>

<p>“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.</p>

<p>“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.” Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.</p>

<p>“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.”</p>

<p>“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”</p>

<p>“Yakin masih perlu jawaban atas pertanyaan yang udah jelas kamu tau jawabannya?”</p>

<p>“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”</p>

<p>“Cih, dasar.” Theo berdecih, “Jawabannya, iyaaa aku kangen bangeeeet sama kamu, sampai mau meninggoy tau nggak?” ujarnya hiperbolis.</p>

<p>“Real kah?”</p>

<p>“Real dong, Min. Perlu <em>cross check?</em>“</p>

<p>“Boleh. Sini biar aku <em>cross check</em> sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.</p>

<p>Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa <em>cross check</em>-nya yang teliti ya? Lama-lamain aja, nggak apa-apa.”</p>

<p>“Siap.”</p>

<p>Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.</p>

<p>***</p>

<p>Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Masa bodoh dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.</p>

<p>Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih <em>cross check</em> tadi. Theo merasa beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun makin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu, mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya.</p>

<p>Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggu saat ini, Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia  yang hampir limbung membentur pintu.</p>

<p>“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.</p>

<p>“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.</p>

<p>“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”</p>

<p>Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.</p>

<p>Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun.” titahnya dengan nada datar.</p>

<p>Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.”</p>

<p>“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”</p>

<p>“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak berurusan sama dia. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”</p>

<p>“Mas, apa nggak lebih baik kita putar balik saja?” tawar sang supir khawatir.</p>

<p>Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”</p>

<p>“B-baik, Mas.”</p>

<p>“Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini, kunci pintunya rapat-rapat sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai. Bapak paham, kan?” Theo berpesan panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk tanda paham.</p>

<p>Theo kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Keluar dari dalam taksi, ia lantas melangkah menghampiri Miguel yang mungkin sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.</p>

<p>Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.</p>

<p>“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.</p>

<p>“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,” jawab Theo.</p>

<p>Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.</p>

<p>“Saya pacarnya.”</p>

<p>“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”</p>

<p>“Dia lagi nggak bisa diganggu,” tegas Theo. “Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.” Ia melanjutkan ucapannya.</p>

<p>“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo yang terdengar bagai omong kosong di telinganya. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!” Miguel menunjuk-nunjuk pipinya, menantang Theo. Namun, perbuatannya sama sekali tak Theo gubris. “Kenapa diem? Nggak berani, ya? Takut gue bales, terus lo gue bikin mati? Iya?” ujar lelaki itu meremehkan.</p>

<p>Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga.  Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.</p>

<p>Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatannya. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, kita pake rame-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, gue nggak masalah kalau harus pake bekasan lo. Gimana?”</p>

<p>Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.</p>

<p>“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.</p>

<p>Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas, ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”</p>

<p>“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan pecundang macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.</p>

<p>Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan, Theo langsung kalah telak ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.</p>

<p>“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan serangan-serangan lain kepada lelaki itu.</p>

<p>Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempaskan dirinya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo  terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah.</p>

<p>Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine polisi mendekat, lelaki itu menengok ke kanan dan kiri guna memastikan bahwa suara yang ditangkap indera pendengaran benar.</p>

<p>Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan  denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, lantas menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa.</p>

<p>Sebelum Miguel sempat membalas, beruntung polisi sudah sampai dan memisahkan pertarungan keduanya. Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu berinisiatif menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.</p>

<p>Di tengah keributan berlangsung, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.</p>

<p>“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.</p>

<p>Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”</p>

<p>“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Akal sehat kamu kemana sampai gegabah lawan dia, alih-alih pergi selametin diri? Sengaja bikin aku ngerasa bersalah karena harus nontonin kamu dipukulin di dalem sana kayak orang bodoh, tanpa bisa lakuin apapun untuk bantu kamu, iya? Jahat banget tau nggak, kamu jahat dan egois!”</p>

<p>“Iya terserah mau kamu sebut aku jahat atau egois sekalipun, aku nggak peduli. Iya, aku emang sengaja ngelakuin itu karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar buat nolong aku. Gimana? Kita impas kan sekarang? Tadi kamu juga lakuin hal yang sama.” ujar Theo.</p>

<p>Di sisi lain perdebatan kedua sejoli itu berlangsung, supir taksi selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.</p>

<p>Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.</p>

<p>“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.</p>

<p>Saat hendak di bawa  menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari menodongkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target incaran sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya sedang terancam. Cynthia yang sedang mendebat Theo, justru lebih dulu menyadari. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin ketika mengetahui langkah Miguel semakin dekat, buru-buru mengganti posisi dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi Theo dari serangan Miguel.</p>

<p>Dalam sekejap, Cynthia bisa merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan yang refleks keluar dari celah bibir.</p>

<p>Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, padahal sebelumnya ia tengah diomeli oleh Cynthia. Sampai ia pandangannya menangkap Miguel berada persis di balik tubuh Cynthia, memandangnya tajam sembari menggenggam sebuah pisau yang sudah berlumuran darah, beberapa detik kemudian Theo sadar akan apa yang sedang terjadi. Ia kalang-kabut saat merasakan cairan basah mengenai telapak tangannya.</p>

<p>“Cin ... kamu berdarah banyak!” Theo berseru panik. Saking paniknya ia sampai menangis.</p>

<p>Petugas kepolisian tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu bertindak lebih jauh.</p>

<p>“Tolong, siapapun! Tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!” teriak Theo lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan gadisnya dengan kedua tangan.</p>

<p>Cynthia memandang Theo penuh arti, kemudian berucap lirih. “Syukurlah, kamu nggak kenapa-napa.”</p>

<p>Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang seiring dengan tangisan Theo yang  bertambah nyaring.</p>

<hr/>

<p><strong>Written by C</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://cheenoire.writeas.com/runaway-f9hg</guid>
      <pubDate>Wed, 13 Jul 2022 03:04:16 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>