Gamang
Sirine ambulans yang Theo tumpangi terdengar bagai lantunan elegi yang mengiringi perjalanannya, rasa kalut jelas tak mampu ia sembunyikan lagi. Tak jauh dari tempatnya duduk, terbaring seorang gadis cantik yang sedang ditangani pihak medis, pakaiannya bercorak darah, kesadarannya hilang ke antah-berantah.
Di kepala Theo perasaan sesal itu terus-menerus bercokol, seolah tidak mengizinkan dirinya berpikiran jernih. Ketakutan akan kehilangan jelas menghantui. Baginya, cukup satu kali ia kehilangan seseorang yang punya pengaruh besar dalam hidup, jangan ada kali kedua atau seterusnya.
Andai ia menyadari serangan Miguel lebih cepat, mungkin setidaknya ia bisa menghindar atau menepis tanpa mengorbankan siapapun. Jikapun akhirnya ia tetap terluka, Theo rela. Asal jangan gadisnya, jangan orang yang teramat ia sayangi.
Mobil pasien itu sampai di pelataran rumah sakit, ada sekitar enam orang tenaga medis yang tampak sudah menunggu di luar mobil. Barangkali sudah mendapat kabar perihal insiden ini. Cynthia yang terbaring tanpa daya, lantas diarak menuju tempat perawatan yang lebih layak.
“Dia nggak akan kenapa-napa, kan, dokter?” tanya Theo seraya mengikuti langkah para medis. Seorang dokter yang berjalan di samping Theo menjawab, “Pasien kehilangan banyak darah dan harus menjalani operasi karena luka yang dialami pasien cukup serius. Mari kita doakan yang terbaik, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk keselamatan pasien,” ujarnya.
Langkah Theo terhenti tepat di depan pintu ruang operasi, langkahnya dihadang seorang perawat yang mencegah dirinya masuk lebih jauh. Kedua bahu lelaki itu menurun, matanya berkaca-kaca. Kemudian ia bersimpuh, dalam hati merapal doa, memohon kepada Sang Pencipta agar bersedia menyelamatkan gadis tersayangnya.
“Tuhan, tolong selamatkan dia ...,” bisiknya diiringi setetes bulir air mata keputusasaan yang jatuh di pelupuk mata.
Tiga jam terasa bagai tiga tahun lamanya, selama itu Theo menunggu dalam ketidakpastian yang perlahan merenggut akal sehatnya. Ia tak lagi mampu berpikiran jernih, harap-harap cemas ia rasa. Bahkan, kedua tangannya yang bergetar seakan sudah mati rasa.
Di sisi lain, Jonathan—sang Ayah yang telah tiba di rumah sakit sekitar dua jam lalu begitu mendengar musibah yang menimpa Theo dan Cynthia hanya bisa memandang anak semata wayangnya prihatin. Sambil sesekali menepuk-nepuk punggung sang anak, bermaksud menenangkan sedikit gudah yang membelenggu lelaki itu.
“Tiga jam, Pa, aku udah nunggu selama itu. Kenapa operasinya belum juga selesai?” Theo melirih.
“Sabar, Theo. Di dalam sana dokter pasti sedang mengusahakan yang terbaik untuk Cynthia.” Hanya kalimat itu yang mampu Jonathan ucap sebagai penenang.
Theo mengacak rambut frustasi, “Aku nggak siap akan kemungkinan terburuk, Pa,” erang lelaki itu.
“Kemungkinan terburuk itu masih menjadi kemungkinan. Untuk apa kamu memikirkan hal yang belum tentu terjadi? Itu cuma akan membuat perasaan kamu tidak tenang dan terus gelisah.” Jonathan menepuk bahu putranya. “Daripada menuruti pemikiran negatif, lebih baik kamu berdoa untuk keselamatan Cynthia,” sambungnya.
Theo mengangguk samar, ia berusaha menepis semua pemikiran buruk seperti titahan sang Papa. Kedua lelaki berbeda usia itu pun terjebak keheningan cukup lama, sama-sama larut pada pikiran masing-masing mereka. Sampai kemudian lampu ruang operasi redup, pintu perlahan terbuka. Sosok dokter bersetelan khas operasi melangkah keluar dari sana, menghampiri Theo yang sudah beranjak dari duduknya. Jantung lelaki itu bertalu hebat menanti ucapan sang dokter.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” Jonathan membuka percakapan lebih awal, seolah memahami perasaan putranya.
“Berkat karunia Tuhan, operasinya berjalan lancar.” Dokter itu terseyum.
“Terus keadaan Cicin gimana, Dok? Kondisinya nggak parah, kan? Dia bakal baik-baik aja, kan?” Seolah tanpa rem, mulut Theo mengajukan banyak tanya tanpa jeda.
Merespons pertanyaan bertubi-tubi Theo, dokter tersebut lalu menjelaskan. “Lukanya memang cukup serius, tapi beruntung, pisau tidak menembus lebih jauh dan melukai organ dalam pasien,” jelasnya.
Mendengar hal itu, Theo membuang napas lega. Ketakutannya perlahan sirna. “Untuk sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap,” ucap dokter itu, kembali menjelaskan.
“Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk pasien sadar?”
“Sekitar 6 sampai 8 jam, tapi bisa juga lebih dari itu. Kita tunggu saja.”
Theo mengangguk paham, “Terima kasih, Dokter.”
“Baik, kalau begitu saya permisi,” pamit sang Dokter.
Dokter itu pun melangkah pergi, menyisakan Theo dan Jonathan yang masih berdiri di posisi yang sama. Tak berapa lama usai sang Dokter melangkah pergi dari hadapan mereka, dua orang perawat keluar dari ruang operasi seraya mendorong bangsal di mana Cynthia sedang berbaring di sana, hendak membawa gadis itu ke ruang rawat inap. Kedua lelaki yang terpaut usia cukup jauh itu bersiap mengikuti kemana perawat itu membawa Cynthia pergi.
“Ketakutanmu nyatanya nggak terbukti, kan?” Jonathan membuka percakapan sesaat setelah mereka sampai di sebuah ruang inap kelas VVIP yang sengaja lelaki paruh baya itu pesan demi kenyamanan Cynthia dan Theo. Sekarang ia tengah duduk berhadapan dengan anak tunggalnya, sementara Cynthia masih terlelap di bangsal.
Theo mengangguk setuju. “Aku bersyukur dia selamat.”
“Sudah kabari pihak keluarganya?”
“Belum.”
“Coba kabari dulu. Bagaimanapun keluarga Cynthia mesti tau tentang hal ini.”
Theo mengecek jam di ponselnya, pukul 4 pagi. Ia berpikir singkat, apa harus ia hubungi Jeffrey sekarang? Theo takut menggangu, tapi semakin cepat diberi tahu, akan semakin baik. Ia juga ingin meminta Jeffrey kemari supaya bisa bergantian menjaga Cynthia. Sebab, Theo berniat pergi ke kantor polisi demi mengurus persoalan insiden yang baru menimpanya, ia ingin membuat Miguel membayar mahal dan bertekad membuat lelaki itu dihukum seberat-beratnya.
Theo akhirnya memutuskan untuk menelepon Jeffrey, ia pun berjalan ke luar. Takut suaranya akan menggangu kenyamanan Cynthia, dan Papanya yang baru saja berbaring di sofa untuk tidur.
“Halo ....” Suara berat nan serak menyambut panggilan Theo untuk pertama kali.
“Iya, halo, Je.”
Jeffrey terdiam lama, “Ada apaan, Bu, subuh-subuh nelepon? Ayam aja belum bunyi jam segini mah, ini lo udah nelepon gue aja,” protes Jeffrey.
“Cicin ... masuk rumah sakit,” ucap Theo terbata-bata.
Jeffrey terdiam, barangkali otaknya sedang berusaha mencerna maksud ucapan Theo. “Hah? Kok bisa? Dia kenapa?” responsnya, ada nada khawatir disela perkataan lelaki itu.
“Ini salah aku karena nggak bisa jaga dia dengan baik. Maaf ya, Je.”
“Bentar ... bentar, jangan asal minta maaf aja. Gue kan nggak tau duduk permasalahannya di mana. Emang dia masuk rumah sakit gara-gara lo? Nggak, kan? Jadi, jelasin dulu awal mulanya gimana.” Jeffrey berujar panjang lebar.
“Dia kena tikam ... harusnya aku yang kena, tapi dia malah lindungin aku.” Ucapan Theo terjeda beberapa saat. “Maaf ya, padahal harusnya aku yang lindungin dia.”
“Berengsek mana yang lakuin hal biadab itu? Lo tau orangnya, kan? Ayo lapor polisi,” sungut Jeffrey berapi-api.
“Miguel pelakunya,”
“Wah ... psikopat bajingan itu lagi? Gue kira dia ngilang karena udah tobat, taunya malah makin nekat.” Jeffrey berdecak tak habis pikir. “Sekarang orangnya kemana? Kabur?”
“Diamanin polisi.”
Jeffrey menyambar puas. “Mampus! Kece juga polisi bisa gercep nangkap dia.”
“Jelas, orang dia lakuin itu di depan polisi.”
“What the f—?!” umpat Jeffrey tertahan.
“Ceritanya panjang, nanti mending aku jelasin langsung. Kira-kira kamu bisa nyusul sini nggak? Aku butuh bantuan untuk jaga Cicin selagi aku ngurus persoalan ini ke kantor polisi,” pinta Theo.
Membalas permintaan Theo, Jeffrey berujar, “Bisalah anjir, tanpa lo minta dateng juga gue bakal dateng ke sana. Gue adeknya, udah sepantasnya gue jagain dia.”
“Makasih banyak, Je,” hatur Theo penuh arti.
“Ngapain makasih segala sih, kan udah gue bilang jagain Cynthia udah termasuk kewajiban gue.”
“Ya, nggak apa-apa sih. Kan bilang makasih itu termasuk basic manner.”
“Ck, iyedah serah lo. Gue tutup, ya? Mau siap-siap ke sana. Kayaknya gue ambil flight sekitar jam 10 pagi, mau ngurus cuti ke kantor dulu. Meskipun gue bos, SOP tetep kudu dijunjung tinggi.”
Setelah Theo mengiyakan, sambungan telepon pun terputus. Sesudah itu, Theo melangkah kembali ke ruang rawat inap, lalu duduk di kursi yang tepat berada di samping bangsal tempat Cynthia terlelap. Kedua mata sayu yang sarat akan kelelahan itu menatap sendu raga gadis yang terbaring tanpa daya. Harapan yang Theo semogakan masih sama, ia ingin gadisnya segera membuka mata dan pulih secepatnya.
Written by C