Hadiah dari Tuhan


Hati ini pernah hancur lebur, menjelma kepingan yang kerusakannya tak lagi bisa terukur. Penyebab kehancuran itu tak lain adalah seorang brengsek yang tak sudi kusebut namanya lagi. Perasaanku bergelantung di ambang sekarat, hampir mati terjerembab ke dalam jurang nestapa yang bergejolak atas ulah si keparat.

Tepat sebelum aku mengumandangkan elegi atas kematian hatiku sendiri, seorang lelaki berhidung bangir hadir diiringi rekahan senyum yang terpatri di bibir. Bak seorang tabib, ia obati segala luka lara yang sudah tertanam dan mengakar hingga benar-benar sembuh. Menarikku dari kegelapan, dan menuntunku ke tempat yang didominasi oleh keindahan.

Lelaki itu bernama Tio yang dalam bahasa Afrika berarti hadiah dari Tuhan. Makna yang tersemat di sela namanya itu kurasa terwujud nyata, sebab kehadirannya adalah hadiah terindah yang pernah aku terima sepanjang hidup di dunia. Kak Tio –begitu ia kusapa, usia kami terpaut cukup jauh– berkepribadian lembut, sangat sederhana dan tak pernah menuntut, membuatku tak hentinya bersyukur sudah dipertemukan dengan orang sebaik dia.

Tak peduli seberapa cacat jiwaku, sebanyak apapun kurangku, dan seburuk apapun tempramenku, ia tidak pernah sekalipun berbalik pergi. Senantiasa berdiri di sampingku sembari menggenggam jari-jemari ini. Merapal kata demi kata penyejuk jiwa, manakala perasaanku tengah ditikam gundah-gulana. Selalu memastikanku terjaga, agar tak lagi ditumbangkan nelangsa.

Lelaki yang mempunyai bola mata bulat sehitam jelaga itu tak pernah menjanjikan sebuah hubungan berpondasi utuh, sebab ia rasa, badai akan selalu punya cara menjadikannya runtuh. Ia hanya berjanji merengkuh erat bagian diriku yang bermukim di salah satu sudut hatinya, dan memunguti kepingan-kepingan perasaan yang sempat gugur itu untuk direkatkan kembali saat pelangi datang menyapa.

Tiada kebahagiaan yang abadi, katanya. Pasang-surut, siang-malam, cerah-mendung, itu merupakan hal lumrah, tiada bisa dipungkiri oleh satu makhluk pun di muka bumi. Karena segala hal di jagat raya ini saling berotasi.

Kak Tio bilang, selama perputaran itu berlangsung, kita hanya perlu menjunjung sebuah bentuk percaya bernama komitmen tinggi-tinggi, dan bisa dipastikan semua akan berjalan baik-baik saja. Seberat apapun halang rintang menghadang, jantungnya akan tetap menyuarakan namaku di setiap detak dengan lantang.