Hati-Hati di Jalan


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lumayan lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai rasa gengsi sang pacar yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oke oke, jangan ngegas dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi, loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngalir deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kamu jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“UAS mah seminggu juga beres kali.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Gadis itu berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk, mungkin itu telepon dari orang penting? Entahlah, Bubu sama sekali tak bisa mendengar apa hal yang dibicarakan Cynthia bersama sang penelepon itu.

Setelah cukup lama berbincang, kekasihnya itu melangkahkan kaki kembali arahnya. “Siapa?” Bubu bertanya dengan penuh rasa penasaran, sepulang Cynthia ke hadapannya.

Raut Cynthia berubah pilu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Kalau boleh jujur, dirinya juga enggan berpisah jauh dengan lelaki kesayangannya. Bagi Cynthia, dua minggu adalah waktu yang sangat lama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua tuntutan pekerjaan, ketika ia setuju dan mendatangani kontrak dengan hotel yang menawarkannya kerjasama, tandanya ia juga setuju dengan segala konsekuensi yang harus di hadapi, termasuk merelakan diri mengikuti perjalanan bisnis di luar kota seperti sekarang ini.

Sadar bahwa tak banyak waktu tersisa, Cynthia meraih koper diikuti Bubu yang beranjak untuk menyamakan posisi dengan kekasihnya. Pemuda itu menatap Cynthia yang juga sedang memfokuskan pandangan ke arahnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Oh okaaay. Tapi kenapa mesti izin segala sih? Padahal langsung aja—” kalimatnya terputus, selanjutnya ia menelisik pandang ke segala arah.

Usai memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. “—kayak gini,” ujarnya melanjutkan kalimat rumpang tadi sambil tersenyum lebar. Ia senang, hatinya merasa menang karena sudah berhasil menggoda sang pacar hingga lelaki itu kebingungan.

Bubu yang baru mampu mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, ia tersenyum miring, adrenalin dalam dirinya terpacu, dan tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya hendak protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.