Kunjungan Fajar


Udara kota Bandung di pagi hari memang jadi musuh terbesar bagi siapa saja yang membenci dingin, termasuk Cynthia. Kedua bola matanya memang sudah membuka sejak tiga puluh menit lalu, namun tubuhnya seolah enggan beranjak sedikit pun dari ranjang hangat yang semalaman ia tiduri.

Padahal hari ini merupakan hari keberangkatannya ke Bali, tapi bukannya menyiapkan banyak hal, atau sekadar mengecek ulang barang bawaan takut-takut ada yang tertinggal. Ia justru makin mengeratkan selimut tebal yang membalut hampir sekujur tubuhnya, tiada satupun pergerakan yang menandakan ia akan segera beranjak dari tempat itu.

Cynthia menatap langit-langit kamarnya, hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sampai suara yang ia kenali sebagai nada dering ponselnya berbunyi keras, nama Bubu terpampang jelas sebagai penelepon. Tanpa menunggu lama, ia pun segera mengangkat panggilan dari lelaki itu.

“Halo? Ada apa nelpon aku subuh-subuh gini?”

“Morning cantik, kamu udah sarapan?”

“Belumlah, rajin amat sarapan jam segini. Matahari aja belum nongol, Bub.”

“Oh bagus kalau gitu. Sekarang bukain pintu dong, aku ada di depan.”

“Hah? Di depan mana? Kamu ngelindur kah?”

“Nggak, Cicin. Aku sadar seratus persen, beneran ada di depan apart kamu dan bawa sarapan buat kita makan sama-sama. Buruan buka pintu, di luar dingin banget sumpah aku takut beku terus jadi fosil kayak di film Ice Age,” tutur lelaki itu hiperbola.

“Heh, ini masih jam 5. Kamu mau ngapain dateng sepagi ini? Mana nggak bilang dulu lagi. Aku 'kan baru bangun, belum ngapa-ngapain,” protes Cynthia. “Aku mau cuci muka dulu, baru entar bukain pintu buat kamu.”

Mendengar itu, Bubu lantas merengek. “Cin … masa kamu tega sih lebih mentingin cuci muka daripada bukain pintu dulu buat aku? Dingin nih.”

“Lebaaay, lagian salah sendiri kenapa ke sininya nggak bilang dulu, main dateng-dateng aja.”

“Aku niatnya kepengen kasih surprise tau.” lirih Bubu di sebrang sana. Cynthia yakin, pasti bibir lelaki itu tengah mencebik sekarang.

Membayangkannya saja sudah membuat dirinya terkekeh kecil, apalagi jika ia dihadapkan langsung dengan pemandangan itu. Ia lalu berkata, “Whatever kamu niatnya gimana, pokoknya aku tetep mau cuci muka dulu karena muka aku jelek banget sekarang. Kamu tunggu di situ, okeee? Aku nggak akan lama kok.”

“Kasih tau password apart-nya aja sini, biar aku buka sendiri pintunya.” Bubu berusaha mencari jalan tengah, mungkin agar ia bisa segera masuk dan menghangatkan diri di dalam.

No, that's privacy. Teleponnya aku tutup ya, bye!”

“Ish, Cin tung—”

Tanpa berniat mendengar ocehan sang pacar lebih lama, Cynthia memutuskan sambungan telepon kemudian beranjak menuju toilet.


“Jahat.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Bubu, sesaat setelah Cynthia membukakan pintu apartemen untuknya, bukan menampakkan raut bersalah gadis itu malah memberi sambutan berupa cengiran lebar seolah tak merasa berdosa.

“Kok gitu? Aku udah berbaik hati ngorbanin waktu rebahan aku yang berharga itu demi bukain pintu buat kamu loh. Harusnya kamu bilang apa?”

“Iyaaa makasih,” hatur Bubu sedikit terpaksa. “Tapi tetep aja ya kamu jahat! Kamu nggak lihat nih semua bulu kuduk aku berdiri karena kelamaan nunggu? Sebentar-sebentar apaan yang sampai 10 menit? Kamu semedi dulu ya di toilet?” Bubu begidik saat sentuhan udara dingin kembali menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cynthia berkacak pinggang tanpa berniat menanggapi protesan lelaki dihadapannya lebih lanjut. “Kalau dingin ya cepetan masuk, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di pintu?” ia malah mengomel balik.

Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ruang tamu, dan mendudukan diri di sofa yang terletak di sana. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar di antara mereka, karena itu Cynthia pun berinisiatif membuka suara.

“Maafin aku ya Bubu.”

“Maaf untuk?”

“Bikin kamu nunggu lebih lama, padahal di luar hawanya lagi dingin.” Jujur, sedikit banyaknya Cynthia merasa bersalah ketika mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis saat ia membukakan pintu tadi. “Aku nggak tau, kalau kamu cuma pakai kaos tanpa jaket.”

“Kamu mau dimaafin?

“Mau.”

“Peluk.”

“Apa?”

“Peluk aku, bantu ilangin rasa dinginnya.”

“Oh, ini modus varian baru, ya?”

“Udah jangan banyak tanya, kamu mau dimaafin nggak?”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya.

Diiringi cengiran lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati. “Hehehe makasih, Cicintaku.”

“Geliii, jangan panggil aku kayak gitu.”

“Biarin. Cicintakuuuu.”

“Ngeyel banget.”

“I love you.”

“I love me too.”

“Ish, masa jawabnya gitu?”

Cynthia tergelak lantang, “Hahahaha, I love you too Bubuku sayang yang kelakuannya super manja kayak anak kecil.” Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Bubu, yang dibalas rengkuhan yang sama erat.

Usai cukup lama berbagi kehangatan lewat rengkuhan, keduanya pun saling melepaskan diri.

“Tadi katanya kamu bawa sarapan?”

“Iya, aku bawa bubur ayam.”

“Subuh-subuh gini udah ada yang jual emang?”

“Adaaa, di depan komplek rumah. Cuma pas mau beli, abang tukang jualnya masih beres-beres.”

“Kamu sih kepagian.”

“Sengaja, biar aku bisa ngabisin waktu sama kamu lebih lama. Jadwal flight kamu jam 8, 'kan?”

“Hooh.”

“Tuh, kalau aku dateng lebih siang dari ini waktunya bakalan nggak kerasa.”

Bubu dan isi kepalanya yang tak terduga, Cynthia hanya mengangguk sebagai respon. “Eh, aku ambil mangkok dulu ya buat wadah buburnya.”

“Aku ikut.”

“Oh ya udah, kita sekalian makan di pantry aja. Tolong sekalian bawain buburnya.”

Habis mendapat anggukan setuju dari Bubu, Cynthia melenggang pergi menuju pantry. Bubu tentu mengikuti dari belakang, persis seperti anak ayam yang mengekori induknya.

Sesampainya di pantry, Cynthia menitahkan kekasihnya itu agar duduk terlebih dulu selagi dirinya mengambil alat makan yang tersimpan di rak.

Menyadari sesuatu, Bubu menopang dagunya dan bertanya, “Eh, ngomong-ngomong, kok aku nggak lihat Shitta, ya? Dia nggak ada, ya? Atau emang nggak keluar kamar?”

“Shitta lagi nggak di sini, kemarin dia balik ke rumah orang tuanya,” jelas Cynthia.

“Kamu sendirian dong? Kasiannyaaaa. Tau gitu aku nginep di sini buat nemenin kamu.”

“Maunya kamu itumah.”

“Emaaaang, kamu emangnya nggak mau?”

“Nggak.”

“Dasar kejam.” Bubu beranjak untuk mengacak rambut Cynthia cukup kencang.”

“Ih kamu apaan sih ngeberantakin rambut segala, kusut 'kan jadinya.” Diperlakukan begitu membuat Cynthia lantas mengomel, matanya mendelik tajam ke arah Bubu yang justru malah cengengesan di tempatnya duduk.

“Gapapa tau, kamu lucu kayak singa.”

“Udahan ah bercandanya, mending kamu makan tuh bubur kamu. Nanti kalau keburu dingin, rasanya bakal kurang enak,” ujar gadis itu seraya merapikan anak rambutnya yang berantakan. Bermaksud menengahi situasi sarapan agar kondusif dan tenang.

“Suapin dong aaaaa.” Seolah belum puas mengusili sang pacar, Bubu kembali berulah.

“Makan sekarang atau aku lempar sendok?”

“Takut banget, belum nikah udah diancam tindakan KDRT.”

Cynthia menghela nafas panjang akibat ulah Bubu. “Sayang, diem. Mulutnya dipake buat makan, bukan buat ngoceh,” tegurnya dengan nada galak.

“Iya iyaaa, ini aku makan sayang. Jangan galak-galak yaaa.”

Lelaki itu pun melahap bubur yang suhunya tidak lagi panas, sembari menahan tawa supaya tidak menyembur karena melihat wajah Cynthia yang tampak kesal akibat ulahnya. Pada akhirnya, sepasang kekasih itu pun melahap sarapannya dengan tenang, sambil sesekali bercakap hal-hal random.


Written by C