Masih Sama, Tidak Pernah Kemana-mana.
Javas Bentala Parveen.
Kekasihku yang belakangan ini sikapnya sangat aneh, menurutku. Hadirnya seperti hujan di musim kemarau, jarang sekali tertangkap netra. Aku merindukannya dengan sangat, namun untuk sekedar membuka roomchat-nya saja aku tak berani.
Tepat sebulan lalu, dia mencaciku habis-habisan lewat panggilan telepon karena aku yang selalu menanyakan kabarnya tanpa henti, tidak terlalu sering juga sih. Tapi dia menjawabnya dengan kalimat tidak pasti, seolah sedang beralibi. Jadi, ya, kutanyai lagi dan lagi.
Aku jelas marah sebab niat baikku tak disambut baik olehnya, lalu memilih untuk mendiamkannya sampai sebuah kata maaf darinya muncul di bilah notifikasiku.
Didiamkan olehku seperti itu malah membuatnya semakin menghilang dari peredaran, kabarnya hanya sepintas satu dua patah kata basa-basi yang bukan Javas sekali. Jujur, aku bukanlah tipe pacar posesif yang harus dilempari kabar tentangnya setiap saat.
Aku menaruh percayaku sepenuhnya kepada Javas, begitupun sebaliknya. Kami sudah sepakat perihal itu, tapi mengapa jadi begini? Kesal rasanya saat rindu tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Aku frustasi, Jav. Tidakkah kamu tau itu?
Aku rindu saat dimana Javas melontarkan guyonan yang bahkan tidak ada lucunya sama sekali, tapi ajaibnya aku justru tertawa karena melihat senyum berhiaskan lubang di kedua belah pipinya tercipta.
Aku rindu saat di mana ia bertandang ke rumah, membawa berbagai jenis makanan kesukaanku, cuma demi meredakan moodku yang sedang tidak baik ketika tamu bulanan datang.
Aku rindu dekap hangat kepunyaanya saat menenangkanku dari rasa tak pantas memilikinya yang seringkali menempeli isi kepalaku, ia selalu berucap kalimat yang sama; “Jangan gitu, aku pilih kamu karena itu adalah kamu. Kamu nggak harus punya rupa menawan, tubuh semampai, atau otak brilian untuk merasa pantas bersanding dengan aku. Kamu cukup jadi Lakshita Dewi yang apa adanya, yang mencintai aku dengan sewajarnya. Semua itu udah cukup. Jadi jangan pernah sedih karena hal begini lagi, ya, dewiku?”
Kekasihku, memang semanis itu perangainya. Tapi sayangnya, itu dulu. Kini Javas yang kukenal tak lagi sama, aku takut sosoknya yang dulu benar-benar hilang untuk selamanya. Memikirkan kemungkinan buruk itu, menjadikan tangisku pecah lagi malam ini. Merindukan Javas ternyata pedih sekali. Seperti ada sesak yang menjalari dadaku tiap kali mengingat kenangan indah yang dulu kami lewati.
Dan secara kebetulan, lagu “Call Me Baby” milik boy group kenamaan EXO yang kujadikan nada dering khusus untuk seorang yang baru saja kurindukan itu mengalun lantang.
Kuterima panggilan itu tanpa ragu, dan seperti mengalami mimpi buruk, air mataku luruh lagi tanpa mampu kucegah sesaat setelah mendengar suara bass di seberang sana mengucap sebuah kalimat paling tidak ingin kudengar selama menjalin hubungan dengan Javas.
“Shit ... kalau boleh jujur aku bosen pacaran sama kamu. Gimana kalau kita putus aja?”
Bagai tenggelam dalam palung laut terdalam, aku lupa caranya bernafas. Sesak menjalari dada, sementara air mata mengucur begitu derasnya membentuk sungai di kedua belah pipiku. Enteng sekali dia mengatakan itu. Seolah aku tak pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, seolah aku adalah barang yang ia buang ketika sudah tak menginginkannya lagi.
Mengapa jadi begini? Sebelum benar-benar menjawab suara di ujung sana, aku mengatur nafasku terlebih dulu. Berusaha tetap tenang walau hati ini kalut setengah mati.
“Jangan bercanda, Jav. Bercandaan kamu kali ini keterlaluan!” ucapku parau, amarah sudah sejak tadi menguasaiku penuh.
“Aku nggak bercanda, Shit. Aku beneran pengen kita putus.”
Aku membisu sejenak. Dia serius? “Terus—” Javas hendak berbicara lagi, namun dengan cepat kalimatnya ku potong. Masa bodoh.
“Setelah nggak ketemu lama, jarang ngasih kabar, dan bikin aku khawatir, kamu mau mutusin aku gitu aja, Jav? Jahat banget tau nggak?” Isakanku semakin keras.
“... katanya kamu bakal selalu ada di sini, di samping aku. Bahkan saat seisi dunia musuhin aku, kamu akan jadi sebaik-baiknya penopang, akan jadi sebaik-baiknya tempat pulang, dan akan ngasih dekap hangat yang nggak akan bisa aku dapatkan dari laki-laki manapun selain kamu.”
“... katanya kamu pengen menua sama aku, pengen lihat rambut hitamku memutih helai demi helai, pengen menghabiskan masa tua di sebuah rumah yang nyaman dengan aku sebagai sandaran.”
“ ... ekspektasi aku sama kamu udah setinggi itu, Jav. Kamu sendiri yang membangun itu semua. Kalau cuma berakhir sampai di sini, kedepannya aku harus gimana? Harus aku apakan semua angan yang udah kamu tanamkan di kepalaku? Kalau untuk diingkari, lebih baik nggak usah menabur harapan sama sekali, Jav ...,”
“... karena sakit banget rasanya, saat harapan itu harus mati sebelum bisa diwujudkan dengan benar.”
Tangisku benar-benar pecah usai mengeluarkan unek-unek pada Javas habis-habisan, meskipun sudah hampir kukerahkan seluruh amarah yang membelenggu, tetap saja, masih ada rasa sesak menjalari dada.
“Udah nangisnya?”
Brengsek ini sepertinya sudah kehilangan nurani, ya? Bisa-bisanya setelah aku berbicara panjang lebar sambil terisak kencang, respon yang ia beri hanya pertanyaan retoris tak berguna macam itu.
Aku pun memilih bungkam, sudah terlalu malas menanggapi lelaki egois yang sialnya masih kucintai ini.
“Sekarang cuci muka, ganti baju yang bagus, dandan yang cantik, abis itu turun ke bawah. Aku udah di ruang tamu rumah kamu, kita obrolin semua ini langsung, ya? Tanpa emosi,” pintanya yang terdengar sangat tidak masuk akal di telingaku. Kalau dia ingin berakhir, lantas apalagi yang mesti dibicarakan?
“Nggak. Kamu pulang aja, sekarang kita udah nggak punya hubungan apapun, kan? Semoga aku bisa cepet-cepet lupain kamu dan bahagia setelahnya.”
Sambungan telepon kututup sepihak, lantas kulanjutkan tangisku dengan mengurung diri di selimut tebal sambil meringkuk. Menyedihkan. Aku benci menjadi cengeng, aku benci saat aku menjadi lemah hanya karena urusan percintaan, aku benci harus mengakhiri kisah indah ini begitu saja. Aku benci.
Membayangkan Javas memberikan senyum menawan pada gadis lain saja aku tak sanggup, apalagi harus melihatnya benar-benar bersanding penuh rasa bahagia bersama gadis yang bukan aku.
“JAVAS BENTALA BAJINGAN!” Aku berteriak lepas di balik selimut dilanjutkan dengan isakan keras yang dikeluarkan dari belah bibirku, namun tak berselang lama aku mendengar suara pintu kamarku dibuka. Kemudian, sebuah lengan yang entah milik siapa merengkuhku dari arah belakang.
“Jangan nangis, Shit. Maafin aku.”
Suara ini sangat aku kenali ... suara milik Javas.
“Ngapain sih kesini? Pulang sana, kita kan udah selesai. Nggak ada lagi yang perlu diobrolin.”
“Selesai apanya, sih? Orang kita bersambung.” Javas terkekeh di ujung kalimat. Aku lalu berpikir, aku memang sebercanda itu ya baginya?
“Kalau menurut kamu aku bisa dipungut sehabis kamu buang, kamu salah, Jav. Aku nggak sebercanda itu untuk dipermainkan.” Aku semakin mengeratkan selimut yang menutupi seluruh tubuhku, rasanya enggan bersitatap langsung dengan lelaki jahat itu.
“Dewiku, jangan marah dulu. Dengerin aku baik-baik, jangan dipotong dulu omongan akunya, ya, sayang? Tadi, waktu di telepon, aku sebetulnya belum selesai ngomong, tapi kamu malah langsung nyerocos marah-marah sambil nangis.”
Aku tak merespon ucapannya, membiarkan hening menjadi sekat di antara kami. Namun tak berapa lama, bisa kurasakan Javas membuka selimutku sedikit paksa, aku jelas melakukan perlawanan, tapi pada akhirnya aku kalah tenaga, dia terlalu kuat. Alhasil aku hanya bisa pasrah ketika Javas berhasil menyingkirkan selimut yang membelenggu dan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.
“Sekarang lihat mata aku.” titahnya. Entah sihir jenis apa yang Javas pergunakan, aku yang semula enggan secara ajaib menuruti ucapannya begitu saja.
Retina cokelat yang sudah lama tak kutatap lamat itu masihlah sama, selalu membuatku ingin terus-menerus memaku pandang ke sana. Sialnya, aku selalu terjatuh telak pada pesona yang Javas pancarkan melalui sorot mata indahnya.
“Kamu inget nggak, waktu itu aku pernah bilang kalau saat pacaran, mau hubungan kita seharmonis apapun semua bakalan mencapai titik akhir. Kemungkinannya ada dua, putus karena udah nggak sejalan atau putus untuk menulis kisah yang lebih indah di lembar kehidupan baru.”
Javas menghapus jejak-jejak air mataku, kemudian melanjutkan penuturannya.
“Putus yang aku maksud itu adalah opsi kedua, sayang. Putus untuk mendaki lebih jauh ke jenjang yang lebih tinggi, ke tingkatan di mana kita bisa seutuhnya memiliki. Jadi, kamu nggak perlu khawatir sama harapan-harapan yang udah aku ciptakan untuk kamu, karena aku akan bertanggung jawab penuh atas semua itu. Aku emang bosen pacaran sama kamu, maunya langsung nikah aja gituloh maksudku tadi.”
Mendengarnya, aku terharu. Namun di lain sisi aku juga malu setengah mati karena telah gegabah menyimpulkan maksud perkataan Javas lewat sambungan telepon tadi tanpa berniat mendengarnya sampai akhir. Namun siapa yang tak akan salah sangka bila sejak awal ia bicara, ia langsung mengatakan kalimat putus.
Aku sama sekali tak memerhatikan gerak-gerik Javas karena terlampau kaget. Tahu-tahu, Javas sudah menyodorkan sebuah kotak beludru berisi sebuah cincin cantik yang entah sejak kapan sudah berada di genggaman tangannya ke arahku.
“Mau ya, Shit, nikah sama aku? Jawabannya cuma mau sama mau banget.”
Aku membeku, sementara Javas menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban. Setelah berhasil menenangkan detak jantungku yang menggila sebab lamaran dadakan yang baru saja terjadi, aku mengangguk mantap, dan berucap.
“Iya, aku mau, Jav. Let's grow old together.”
Senyum Javas terbit setelah mendengar kalimat persetujuanku, lantas ia memasangkan cincin indah itu ke jari manisku, tak lupa raut bahagia semakin terpancar jelas di wajah rupawannya.
Javas mendekapku erat, mengumamkan kata yang sama berulang kali. “Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf. Maaf belakangan ini aku ilang-ilangan, susah dihubungi, marah-marah terus kalau ditelepon. Aku dua bulan kemarin ngebut proyek supaya waktu kita nikah nanti bisa ngambil cuti sebanyak mungkin,” ucapnya dengan ekspresi menggemaskan.
“Selain itu, aku juga mau berterima kasih. Makasih karena udah lahir sebagai seorang Lakshita Dewi. Makasih karena udah datang ke hidupku dan menorehkan berbagai warna indah. Makasih atas cinta dan kasih sayang yang kamu berikan selama ini. Dan, makasih karena bersedia nerima lamaranku tanpa keberatan aku repotin seumur hidup. Makasih, Shita. I love you badly, unconditionally, and infinity,” tuturnya penuh ketulusan, sembari memandangku dalam.
Ya ampun, lelaki ini ... romantis sekali. Aku sampai tak punya pasokan kata serta daya upaya untuk membalasnya, jadi yang kukatakan hanya, “I love you too, Jav, as much as you love me.” tentu saja kuucap kalimat itu penuh arti. Javas mengangguk, telinganya memerah, kebiasaannya ketika salah tingkah. Sungguh, dia kenapa imut sekali, sih?
“By the way, kenapa kamu nggak bilang kalau alasan kesibukan kamu karena mau ngebut proyek demi bisa cepet-cepet nikahin aku? Kalau bilang dan jelasin dengan baik kan aku bakal ngerti.”
“Kan aku niatnya mau kasih surprise, masa bilang-bilang sih? Dasar aneh.”
“Tapi aku khawatir tau,” lirihku, kemudian menangis lagi.
“Heh, ngapain nangis lagi sih, Shit? Cengeng ih, masa mau nikah cengeng?” Lagi-lagi Javas menghapus air mataku.
“Asal kamu tau ya, ini nangis bukan sembarang nangis. Ini tuh nangis bahagia, huhuhuhu.”
“Ya udah, mending sekarang kamu ke kamar mandi. Cuci muka, hapus muka jeleknya, ganti baju yang paling cantik, terus ke bawah. Papa sama Mamaku udah di bawah tuh nunggu calon mantunya dari tadi.”
Karena terlalu larut dalam drama memalukan ini, aku sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Jeffrey mengenakan setelan tuxedo. Ia rapi sekali, dari atas sampai ujung kaki.
“Curang banget sih, kok kamu ganteng banget paket jas. Sementara aku? Lihat nih, penampilannya udah kayak gembel. Mana muka aku pasti kucel banget gara-gara abis nangis.”
“Makanya cepetan ganti baju terus dandan yang cantik, Lakshita-ku. Aku tunggu di bawah, siap-siapnya jangan pake lama tapi pake cinta. Hehe.”
“Apaan sih, jayus!”
Kami tertawa lepas setelahnya.
Semesta, terima kasih. Ternyata Javas masih menjadi lelaki yang kukenal, dirinya yang dulu nyatanya tak pernah kemana-mana. Wajahnya, caranya menatapku, sikapnya, senyumnya, tawanya, semua masih sama. Masih membuatku jatuh berkali-kali tanpa merasakan sakit sama sekali.
—CHEEN.