Nggak Usah Pergi, Ya?
Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.
Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.
“Maaf lama.”
Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.
Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”
“Lebay deh, orang aku gapapa.”
“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.
Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.
Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.
Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.
Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.
Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.
“Untuk?”
“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.
“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.
Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”
“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”
“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.
Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.
Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”
“Mau,” angguk Cynthia.
Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”
“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.
“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.
Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.
Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”
“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.
“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.
“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?
“Mau selama apa?”
“Selama-lamanya.”
“Dih maruk.”
Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”
“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.
“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.
“Kok gitu.”
Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.
Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”
“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.
Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.
Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.
Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.
“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.
“Hah? Apa yang kram?”
Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”
Nah kan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?
“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”
Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”
“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.
“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”
“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”
Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.
“Kamu sakit. Nggak usah pergi, ya? Aku punya firasat buruk soal ini.” Bubu berujar pelan.
“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”
“Aku khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”
“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, nanti kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di sana. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja. Jangan mikir yang aneh-aneh terus, okay?”
“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.
Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”