One Step Closer
Proses pemeriksaan Theo sebagai saksi berlangsung lancar tanpa kendala, ia mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan sangat baik. Cukup melelahkan juga ternyata melakukan ini semua, namun Theo tak apa, karena dengan begini ia bisa memperjuangkan keadilan untuk Cynthia. Seorang polisi yang sedari tadi bertugas menanyai Theo pamit undur diri dikarenakan sesi pemeriksaan sudah selesai beberapa menit lalu.
Theo hendak melangkah untuk segera meninggalkan bangunan ini, namun ia tiba-tiba terpikir satu hal. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan menghampiri polisi yang sempat menanyainya tadi, lalu mengajukan pertanyaan.
“Pak, maaf saya mau tanya.”
“Iya, silakan.”
“Tapi sebelumnya saya minta maaf, takutnya pertanyaan saya bersifat menyinggung.”
“Pertanyaan saudara akan saya jawab sebisa mungkin.”
Theo diam sejenak. “Uhm, untuk pelaku ... Dia nggak akan berkeliaran bebas selama pengadilan masih memproses kasus ini, kan, Pak? Saya cuma khawatir dia bakal kembali mengganggu korban apabila itu sampai dibiarkan terjadi.”
“Oh, untuk itu saya jamin tidak. Karena sebelum pengadilan menetapkan tanggal sidang, pelaku akan di tempatkan di rumah tahanan terlebih dulu.”
Mendapat penjelasan demikian Theo bernapas lega, seolah beban berat yang menimpa raganya terlepas begitu saja.
“Berarti sekarang dia udah ditempatkan di rumah tahanan?”
“Belum, karena kami masih harus melakukan beberapa proses pemeriksaan.”
Seketika, hal gila terlintas dalam benaknya. “Pak, saya boleh nggak bertemu pelaku?”
“Saudara yakin?” Theo mengangguk mantap.
“Mari ikut saya.”
Polisi itu beranjak, menuntun Theo agar mengikuti langkahnya. Sampai kemudian Theo diarahkan ke sebuah ruangan yang hanya berisi jeruji besi. Pandangan Theo langsung tertuju pada seorang lelaki berperawakan tinggi yang sedang berdiri sembari menatap lurus ke depan, bisa ia lihat raut wajahnya tak menampakkan penyesalan. Sungguh bajingan sejati Miguel ini.
Merasa ada yang memerhatikan, Miguel menyapu pandangan, lalu sepasang netra dua lelaki itu pun bertemu. Miguel menerbitkan seringai, sementara Theo semakin menajamkan sorot matanya. Aura membunuh begitu kentara meliputi keduanya.
“Masih ada muka lo dateng ke sini?” Begitulah sambutan yang Miguel beri sesaat setelah Theo sampai di hadapannya. Tubuh mereka saat ini hanya terhalang jeruji besi.
Merespons itu, Theo mengernyitkan dahi, tak paham maksud ucapan Miguel. “Maksud kamu?”
“Ya gue tanya, lo masih ada muka dateng nemuin gue? Nggak malu?” tegas Miguel.
“Ngapain malu ketemu kriminal kayak kamu? Harusnya kamu yang malu.” Theo menyindir tak kenal gentar.
“Loh kok gue? Ya harusnya lo lah yang malu karena kemarin bikin Cynthia luka, lo nggak lupa kan dia berusaha nyelamatin lo yang nggak berguna.”
Tatapan nyalang Theo hujamkan ke arah Miguel. “Brengsek! Setelah nyakitin Cynthia sampai bikin dia masuk rumah sakit, bisa-bisanya kamu mutar balik keadaan? Sakit kamu, Miguel.”
“Gue cuma ngomongin fakta kok, nyatanya lo emang nggak berguna. Lo nggak becus jagain Cynthia, semua omongan lo tentang bisa melindungi dia cuma sebatas omong kosong.” Miguel mengendikkan bahu.
Alis Theo terangkat satu, ia sungguh merasa bahwa situasi ini sangat lucu. “Tunggu, kamu nggak ngerasa lucu sama situasi ini? Pelaku kriminal lagi ngasih wejangan soal lindung-melindungi?”
“Kenapa? Lo ke-trigger? Atau tertampar fakta? Omongan gue tepat sasaran, kan?”
“Saya nggak peduli sama semua omong kosong yang kamu bilang, saya ke sini, nemuin kamu dengan maksud baik. Saya harap, kejadian ini bisa bikin kamu sadar kalau apa yang selama ini kamu lakuin terhadap Cynthia itu salah. Dan setelah bebas dari hukuman suatu saat nanti, semoga kamu jadi pribadi yang lebih baik dan nggak lagi mengusik kebahagiaan orang hanya untuk memenuhi keinginan kamu.”
“Udah ceramahnya?” Miguel memutar bola mata malas. Sumpah demi Tuhan, tatkala mendapatkan respons menyebalkan seperti itu, ingin rasanya Theo meninju Miguel tepat di wajahnya. Namun, niat itu ia tepis karena enggan menciptakan masalah yang lebih rumit lagi.
“Denger ya, Theo, laki-laki lembek yang nggak berguna. Gue bersumpah, setelah gue keluar dari tempat sialan ini, Cynthia bakal jadi orang pertama yang gue cari. Gue bakal bikin dia jadi milik gue, lo tau kenapa? Karena gue benci kekalahan. Gue belum kalah, dan gue akan balas dendam suati hari nanti. Tunggu aja tanggal mainnya,” sungut Miguel berapi-api.
Tak terpengaruh oleh ancaman picisan semacam itu, Theo berujar. “Terserah. Yang perlu kamu tau, kalau kamu berani macam-macam lagi dengan dia. Kamu bukan cuma akan saya kirim ke penjara, tapi ke neraka. Saya nggak main-main,” kecamnya.
“Let's see, siapa yang bakal duluan pergi ke neraka. Gue atau lo.”
Tanpa banyak kata lagi, Theo berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun sebuah suara yang ia kenali milik Miguel seolah mencekal pergerakannya.
Dengan suara lantang, ia berkata, “Boleh gue jujur? Gue muak sama orang sejenis lo yang bersikap seolah punya hak atas hidup seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa lo. Inget, Theo. Lo itu Cuma pacar, nggak usah berlagak penting seolah lo punya hak penuh atas Cynthia. Di dunia ini nggak ada yang abadi, termasuk hubungan lo sama dia. Kedepannya mungkin Cynthia bakal ketemu sama cowok yang lebih baik daripada lo, dan milih buat ninggalin lo yang useless. Nggak ada yang tau, kan? So, nggak usah bersikap seolah lo lagi berada di atas angin. Itu memuakkan banget.”
Theo benar-benar pergi tanpa mengindahkan kalimat provokasi Miguel. Ia pikir tidak ada gunanya juga berargumen dengan orang gila macam dia, sangat menguras tenaga dan tentu membuang waktu.