Paper Rings


“Lo gimana sih, Jeff. Kenapa Bubu dibiarin sendiri? Kenapa nggak lo temenin?” omel seorang gadis penghuni kamar rawat inap VVIP yang baru siuman dua jam lalu.

Jeffrey—sosok yang diomeli memutar bola mata. “Bocahnya minta gue jagain lo, Oneng,” terangnya mengklarifikasi.

“Pokoknya gue nggak mau tau, kalau dia sampai kenapa-napa, lo harus tanggung jawab.”

“Ya elah, nggak usah lebay dah. Dikata dia masih bocah apa? Dia udah gede, Cynthia. Stop bersikap seolah dia itu anak kecil yang mesti lo jagain, dia itu pacar lo. Dan gue percaya dia mampu jaga diri, termasuk jagain lo.”

“Emang salah kalau gue khawatir? Gue takut dia kenapa-napa, dia udah terlalu banyak sakit karena gue. Lo cepetan hubungin dia, Jeff, buruuu! Make sure dia baik-baik aja,” mohon Cynthia.

Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jeffrey, memaksa lelaki itu untuk segera menghubungi kekasihnya.

“Demi Tuhan, sejak lo siuman dua jam lalu gue buru-buru kabarin dia. Cuma anaknya belum bales, masih ada urusan kali di kantor polisi. Sabar aja napa, nanti juga balik.” Jeffrey benar-benar dibuat mengelus dada oleh perempuan yang dua jam lalu masih terbaring menyedihkan di bangsat rumah sakit, eh, sekarang keadaan justru terbalik, malah ia yang dibuat menyedihkan karena harus meladeni mulut cerewetnya.

“Lo better tenangin diri deh, tarik napas, tahan, tahan, tahan terus, tahan lagi, eits jangan dibuang mubadzir.” Jeffrey memperagakan gerakan menarik napas dan membuang napas secara hiperbolis.

“Tai, serius dulu.” Cynthia menjitak kepala saudaranya gemas. “Lagian mana bisa gue sabar di saat gue tau kemungkinan Bubu ketemu Miguel itu gede banget. Gue hafal Miguel senekat apa, kemarin waktu ada polisi di TKP aja dia berani nekat nyerang tanpa pikir panjang,” sambungnya kemudian.

“Itu beda situasi! Sekarang dia dipenjara, nggak mungkin bisa nyerang kecuali tuh orang punya kekuatan teleportasi buat bisa keluar dari jeruji tanpa harus buka kunci.” Jeffrey semakin dibuat geregetan merespons kekhawatiran tak berdasar Cynthia.

“Lo nggak ngerti, Jeff.”

“Gue ngerti dan paham kekalutan lo sekarang, tapi percaya sama gue semua itu nggak akan terjadi, gue bisa jamin. Dan gue minta, lo jangan banyak gerak dulu. Lo belum pulih bener, baru aja sadar, gimana kalau luka jahit lo kebuka lagi?”

“Dibilang gue nggak akan tenang kalau Bubu belum balik, mending kita susul aja deh Jeff kesana.” Jeffrey langsung melemparkan tatapan ‘Lo jangan gila deh’ kepada saudara kandungnya itu.

Di tengah keributan yang tercipta antara dua kakak beradik itu, pintu ruangan terbuka. Sosok Theo muncul, lelaki itu membelalakkan mata saat menemukan presensi gadisnya yang tak lagi memejamkan mata.

“Cicin???” Panggilan berupa suara yang teramat familiar itu masuk ke dalam rungu kepunyaan Cynthia, dan sontak membuat gadis itu menoleh.

“Tuh cowok lo dateng, gue bilang juga apa. Batu.” Jeffrey berujar sebal.

“BUBU???” Cynthia berlari secepat yang ia bisa, menghampiri sosok yang sedari tadi ia khawatirkan tanpa memikirkan luka di perutnya yang mungkin akan kembali menganga. Merentangkan tangan, bermaksud mengundang Theo menuju dekapannya.

“CICIN JANGAN LARI!!!” Theo panik bukan main dan langsung menyambut pelukan Cynthia.

“Buseeet, gue lagi nonton scene film india kah?” komentar Jeffrey terhadap adegan super dramatis yang baru saja ia saksikan.

“Kamu kemana aja? Kenapa chat Jeffrey nggak kamu bales? Aku khawatir, takut kamu diapa-apain Miguel.”

Tak mengindahkan pertanyaan bertubi-tubi dari Cynthia, Theo lebih dulu menuntun gadis ceroboh itu supaya kembali duduk di bangsalnya. Ia lalu mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu gadis itu seraya menatapnya dalam.

“Cynthia, sebelum khawatirin orang lain, seharusnya kamu lebih khawatir sama kondisi kamu sendiri. Bisa-bisanya kamu lari kayak gitu padahal luka di perut kamu lumayan parah.”

Jeffrey mengompori. “Tau tuh, pas lo nggak ada juga nggak bisa diem, Bu. Nyeyel bener bocahnya.”

“Maaf. Aku lost control,” sesal Cynthia. “Tapi kamu beneran nggak kenapa-napa, kan?”

“I'm totally fine, harusnya aku yang tanya gitu ke kamu,” ujar Theo. Lalu keduanya diam. “Aku bener-bener minta maaf.” Theo bersuara lagi.

“Maaf untuk apa? Emang kamu ada buat salah?”

“Maaf karena lagi-lagi, aku gagal jagain kamu. Maaf karena aku masih aja jadi pacar yang nggak berguna. Seandainya kemarin aku ....” Enggan mendengar ucapan Theo lebih lanjut, Cynthia segera menyela.

“Bukan salah kamu.”

“Tapi ....” Theo hendak berucap lagi, namun kembali diinterupsi.

“Aku bilang bukan salah kamu, jadi stop nyalahin diri sendiri kayak gini. Aku sedih.”

“Maaf.”

“Dan berhenti minta maaf.”

“Iya.”

“Denger ya, Bubu, aku milih untuk lindungin kamu kemarin bukan karena aku nganggap kamu lemah. Nggak sama sekali. Kamu lelaki yang hebat dan kuat, kamu lebih dari cukup untuk bisa lindungin aku dari marabahaya. Aku cuma nggak mau kamu terluka lebih banyak lagi karena aku, dan aku nggak mau punya rasa bersalah yang makin besar kalau kamu beneran kenapa-napa lagi. Selama ini Miguel udah cukup banyak bikin kamu celaka. Kejadian kemarin itu bukan bagian dari kesalahan kamu, penyebab dari semua masalah yang menimpa kita selama ini cuma Miguel, bukan aku ataupun kamu. Kita berdua sama-sama korban di sini,” jelas Cynthia. “So, aku nggak mau lagi kita terus berlarut-larut menyalahkan diri. Aku kepengen setelah ini kita tinggalin semua perasaan bersalah kita akan satu sama lain. Dan hidup damai kayak pasangan lainnya. Oke?” sambung Cynthia disertai tatapan tulus kepada sang lawan bicara.

“Oke.”

Keduanya saling merekahkan senyum untuk satu sama lain. Menatap penuh cinta sampai sebuah suara tepuk tangan membuyarkan adegan romantis yang tengah terjalin.

Prok ... Prok ... Prok ...

“Bravo! Bravo! I swear to god, ini adalah momen kambing conge paling berkesan dalam sejarah hidup gue!” Tentu saja, Jeffrey sialan Langitra sang biang keroknya.

Theo menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara Cynthia mendelik tajam ke arah saudara laknatnya tersebut.

“Ow sorry, sorry, jangan marah. Lanjutin aja sesi bucin-bucinannya, gue pamit mau cari makan soalnya laper, perut gue dari pagi belum temu kangen sama nasi.” pamitnya. “Oh iya, Bu. Gue cuma mau ingetin lo buat jangan keras-keras, soalnya di ruangan ini ada CCTV, perut Cynthia juga masih luka, kan? Hehehehe Bye!”

Jeffrey kemudian melesat pergi sambil cengengesan, enggan mendapat perkara karena merusak momen romantis orang lain dengan kehadirannya. Sungguh pengertian, bukan?

“Bangsat ya lo, Jeffrey!” amuk Cynthia. Ia sudah ancang-ancang akan mengejar Jeffrey kalau saja Theo tidak menahan raganya agar tetap diam di tempat.

“Jangan banyak gerak,” titah Theo canggung dengan wajah dan telinga yang memerah.

“Ah, iya.” Cynthia kikuk akibat melihat ekspresi canggung Theo. ‘Dasar sialan Jeffrey,’ batinnya menggerutu, menyerapahi perkataan Jeffrey yang tidak difilter sehingga membuat suasana antara dirinya dan Theo canggung. Sepeninggalan Jeffrey, keduanya sama-sama diam tanpa kata, tak ada yang berinisiatif lebih dulu membuka percakapan. Baik Cynthia maupun Theo, mereka sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.

Pandangan Theo tertuju pada benda di atas nakas samping bangsal Cynthia, sebuah kertas kecil.

“Struck belanja?” monolog Theo pelan.

“Hah apa?” tanya Cynthia yang samar-samar mendengar ucapan Theo.

“Ini struck belanja siapa?”

“Paling punya Jeff, setau aku tadi abis aku sadar dia pamit ke minimarket bentar.”

“Oh, iya?”

“Iya.”

“Jadi nggak dipake kan, ya?”

“Mungkin? Lagian cuma struck belanja, paling nanti juga dibuang. Emang mau kamu pake buat apa?”

“Rahasia.” Theo beranjak dari duduknya.

“Eh, mau kemana?” Cynthia menahan lengan Theo.

“Ke toilet dulu bentar.”

“Strucknya nggak akan kamu pake buat cebok, kan?” Cynthia memicing ke arah Theo, sengaja ia berkata demikian untuk menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah orang yang tak bertanggungjawab.

Theo melongo di tempat, terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Cynthia kepadanya. “What? Gila aja!”

Mendapat tanggapan heboh dari Theo Cynthia bersorak dalam hati, ia jadi semakin bersemangat menggoda lelaki itu. “Ya kali aja gitu, di toilet nggak ada tisu terus kamu pake itu.”

“Jorok ah kamu,” protes Theo. “Kamu tunggu di sini sebentar, aku nggak akan lama kok.”

“Lama juga nggak apa-apa, barangkali kamu kebelet. Aku nggak apa-apa kok ditinggal lama, soalnya aku penyabar.”

“Ciciiiiin.”

“Bercandaaa, ambekan banget sih kamu. Dah sana gih nanti malah kena celana lagi.”

Mendapat respons berupa decakan, tawa Cynthia makin tak tertahankan. Ya, walau setelah itu ia mendapat karma instan berupa rasa sakit diperutnya akibat tertawa berlebihan. Cukup lama Theo mendekam di toilet sambil membawa struck belanja yang entah akan ia pergunakan untuk apa. Lelaki itu pun kembali ke hadapan Cynthia dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.

“Dah lega, belum?” Cynthia masih belum puas menggoda. Namun kali ini Theo tidak menanggapinya, dan bahkan memasang ekspresi serius.

“Cin.” Tanpa aba-aba, Theo meraih tangan kiri Cynthia. Tatapan yang ia beri, sungguh tak mampu Cynthia baca. Membuat gadis itu dalam sekejap dilanda gugup yang datang dari antah-berantah.

“Iya, kenapa?” Cynthia memandang Theo penuh tanya. Ada apa? Mengapa atmosfir di antara keduanya terasa berubah?

“Marry me, please?” tutur Theo sembari menyodorkan sebuah cincin kertas yang semula ia genggam di salah satu telapak tangannya.

Perasaan Cynthia terenyuh memikirkan fakta bahwa alasan Theo pamit ke toilet, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat cincin kertas itu diam-diam.

“Bubu, are you sure?” Dari sekian banyak opsi jawaban yang seharusnya ia berikan, respons bodoh itu yang malah ia berikan.

“Kamu ... belum yakin, ya?” Raut Theo berubah muram. Cynthia menyesali perkataannya dalam hati, sungguh, sebetulnya ia bukan bermaksud demikian. Ia bukannya tak yakin, hanya saja ini terlalu mendadak, hatinya tak sanggup mendapat serangan semacam ini.

“No, bukan begitu maksud aku. Aduh gimana ya, aku kaget! Kamu pamit ke toilet, terus pas balik tiba-tiba ...,”

Sebab tak kuasa menatap langsung iris kecoklatan milik Theo efek dari salah tingkah, Cynthia mengedarkan pandang tak tentu arah, sesuatu dalam dadanya membuncah, hatinya bagai dihujam ribuan panah cinta yang indah.

“Apa menurut kamu aku terlalu buru-buru?” Di tengah gelimang sukacita yang Cynthia rasakan diam-diam, sebuah tanya bernada lirih yang disuarakan Theo berhasil menyadarkannya pada kenyataan bahwa lelaki itu masih butuh jawaban. “Sebenernya sejak perjalanan pulang dari kantor polisi menuju ke sini, aku udah mikirin ini mateng-mateng. Aku cuma ngerasa, selama ini aku terlalu banyak menunda hal baik dan mutusin untuk bilang ini secepatnya setelah kamu bangun. Maaf kalau aku terkesan nggak paham situasi, dan tiba-tiba ngajak kamu nikah. Permintaan ini nggak perlu kamu jawab sekarang, pasti kamu punya banyak pertimbangan setelah banyak hal terjadi belakangan ini. So, take your time.” Theo berkata panjang lebar, melapangkan dada karena harus menerima fakta yang tak ia kira akan menamparnya. Ia akui, ia salah. Terpancing emosi sesaat yang disinyalir ia dapatkan karena sindiran pedas Miguel di kantor polisi tempo tadi. Seharusnya, ia memikirkan posisi Cynthia juga. Alih-alih peka, yang ia lakukan malah memberi makan egonya yang terluka.

“Udah selesai ngomongnya? Udah selesai nyusun spekulasi sendirinya?” sarkas Cynthia. “Padahal aku belum ngomong apa-apa loh? Belum ngasih jawaban apapun soal ajakan kamu tadi.”

“Maaf.”

“Minta maaf mulu, lebaran masih lama.”

“Aku nggak tau harus bilang apa selain maaf.”

“Nggak usah bilang apa-apa, cukup dengerin aku mau ngomong.”

“Pertama, makasih karena udah jadi sosok kuat yang terus berusaha jadi versi terbaik diri kamu sendiri. Aku betulan ngerasain perubahan kamu dari awal kita ketemu sampai saat ini, emang semua nggak instan, tapi perubahan kamu konstan. Kamu juga nggak berubah karena tuntutan orang lain melainkan alami dari keinginan diri sendiri, dan aku bangga akan hal itu.”

“Kedua, aku boleh minta satu hal? Tolong berhenti menilai diri kamu nggak berguna, kamu sangat sangat berharga buat aku. Andai boleh jujur, aku sedih setiap kali kamu bilang kamu bukan pacar yang baik, aku sedih karena aku belum cukup bisa ngeyakinin kamu kalau kamu lebih dari cukup.”

“Dan terakhir, kamu bener soal perkataan kamu barusan. Kamu, aku, lebih tepatnya kita berdua, udah terlalu banyak nunda hal baik. Selama ini, aku nggak pernah nuntut apapun dari kamu karena aku takut bakal ngebebanin kamu yang lagi fokus sama studi. Tapi ternyata, hal baik emang seharusnya nggak dibiarkan tertunda lama. So, yeah ... marry me, then. As soon as possible.”

“Cin ... makasih,” hatur Theo sarat akan makna. Matanya berkaca-kaca, ia terharu mendapatkan untaian kalimat manis dari bibir kekasih tersayangnya.

Berbeda dengan Theo yang masih tahap berkaca-kaca, Cynthia justru sudah berlinang air mata. Ia terharu bukan kepalang. “Aku yang harusnya bilang gitu. Makasih banyak udah berani dan yakin, juga makasih buat lamaran manis dan cincin lucunya. Anti mainstream banget ide kamu,” pujinya.

“Bukan kreatif itu, urgent. Lagian lucu dari mananya? Itu cincin yang dibuat dari kertas bekas struck belanja. Nggak ada yang spesial. Nanti waktu kamu keluar rumah sakit aku ganti cincin beneran yang lebih bagus, yang itu buang aja jelek.”

Tak terima benda favoritnya dihina, Cynthia protes. “Noooo! Kenapa harus dibuang? Dan apa kata kamu? Nggak ada yang spesial? Sadar nggak sih, kamu sendiri yang bikin cincin ini spesial. Karena cincin ini dibuat langsung pake tangan kamu. Pokoknya, cincin ini bakal aku simpen sebaik mungkin, kalau perlu aku laminating supaya nggak basah kena air!” ujar Cynthia yang sontak membuat Theo geleng-geleng kepala.

“Apa nggak sekalian aja kamu pajang di figura?” canda Theo.

“Ide bagus! Nanti aku pajang di ruang tamu rumah kita, tepat di sebelah foto nikah. Gimana?”

Kalimat terakhir sukses menarik kedua sudut bibir Theo membentuk kurva yang indah. Kita. Segala hal dengan tajuk 'kita' entah mengapa terasa sangat benar bila terucap di bibir Cynthia.

“Boleh. Atur baiknya aja.” Theo menyetujui.

Selepas itu, keduanya mulai membicarakan banyak hal. Kebanyakan perihal masa depan serta rencana-rencana yang mereka harap akan terlaksana. Meskipun selamanya tidak pernah ada dalam kamus dunia, setidaknya mereka ingin saling mengasihi dengan sebaik-baiknya. Selagi punya kesempatan, selagi waktu mengizinkan, mereka berjanji akan saling menuai kebahagiaan hingga hanya kematian yang mengirim mereka menuju keabadian.

— THE END —


Written by C.