Prelude: Peter Pan


Seperti bintang jatuh, Jacinta tidak pernah tahu kemana hatinya yang sudah hampir mati itu akan luruh. Tak mampu diprediksi, karena ia bahkan sama sekali enggan sembarang membuka pintu kepada orang asing lagi. Cukup dua kali. Cinta benar-benar membuatnya jera setengah mati. Padahal sebelumnya, ia punya banyak mimpi yang digantungkan pada kisah cinta yang ia jalani.

Kini tidak lagi, semua mimpi dan angan itu sudah Jacinta paksa mati. Dan entah akan bisa dihidupkan kembali atau tidak sama sekali. Ia tak peduli. Alih-alih membuka hati, ia memutuskan untuk mematok atensi hanya pada diri sendiri. Jacinta berpikir, cinta sejati akan hadir setelah prestasi terukir. Jadi, yang ia lakukan setelah mendapat gelar sarjana satu tahun lalu cuma seputar meningkatkan value diri dengan cara kerja keras meniti karir, memperbanyak kesibukan, sembari menanamkan prinsip kalau hidup tidak harus melulu tentang romansa.

Sampai tiba hari di mana Jacinta menemukan presensi seorang lelaki bertampang imut nan lugu di bakery miliknya. Meski perjumpaan pertama mereka terbilang kurang mengenakan, sebab di mata Jacinta, lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Buma itu hanyalah seorang pria dewasa kekanak-kanakan yang tanpa malu berebut sepotong kue brownies coklat dengan seorang balita. Buma menangis tak mau kalah saat disuruh mengalah, menyebabkan kegaduhan yang membuat seluruh pelanggan Jacinta kala itu mengeluh tak nyaman.

Namun seiring waktu berjalan, keduanya menjadi dekat tanpa alasan. Keadaan seolah sengaja menciptakan kejadian-kejadian yang mengharuskan Jacinta dan Buma terlibat satu sama lain. Buma ternyata punya perangai lucu, hangat dan menyenangkan, berhasil mengisi hari-hari monoton Jacinta yang melelahkan. Bersama Buma, Jacinta bisa melupakan segala persoalan hidup yang memuakkan. Bersama Buma, rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak yang sangat Jacinta rindukan. Buma, selayaknya Peter Pan yang membawa Jacinta ke dunia baru bernama Neverland.

Semakin mengenal Buma, Jacinta semakin dibuat terkesima. Entah perasaan jenis apa yang menghinggapinya; Kagum? Suka? Sayang? Cinta? Oh tidak, Jacinta menganggap kemungkinan terakhir itu mustahil ia rasakan pada Buma. Mungkin, perasaan nyaman? Entahlah, tapi ia bisa simpulkan bahwa ini jenis perasaan yang baik. Di sisi lain kebahagiaannya semenjak mengenal Buma, Jacinta juga cukup banyak merasakan kejanggalan akan sosoknya. Akan ada beberapa waktu di mana Buma seolah hilang ditelan bumi, tak bisa ditemui di manapun, juga tak bisa dikabari barang sekali pun.

Selain itu, ada perilaku Buma yang terkadang tak bisa ia percaya, satu dari yang paling mengganggunya adalah Buma terkesan awam di beberapa hal yang menurut Jacinta umum diketahui banyak orang. Seolah-olah, lelaki itu datang dari tempat yang jauh, atau ia baru saja keluar dari sebuah tempat yang sangat terisolasi. Semua yang tak Jacinta pahami tentang Buma bersatu-padu menciptakan sebuah tanda tanya besar di benak Jacinta. Ia sudah mengenal Buma sebanyak apa? Atau mungkin, selama ini ia tak pernah benar-benar mengenal lelaki itu?


— CHEENOIRE.