Ruah Empati


Rasa cemas mendera Cynthia, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Bubu yang mengeluh mual pasca menaiki sebuah wahana; roller coaster di taman hiburan yang keduanya kunjungi. Kini dirinya sedang mondar-mandir tak jelas di depan pintu toilet khusus pria, sesekali menggigiti kuku, mengerang dan mengacak rambut frustasi.

Tak peduli tentang bagaimana tanggapan orang atas sikap anehnya, perasaan Cynthia benar-benar campur aduk sekarang; antara kesal, cemas dan bingung. Kesal apabila mengingat sikap bebal sang pacar yang bersikeras ingin menaiki wahana padahal baru saja selesai makan, merasa cemas karena setelah menunggu cukup lama Bubu tak kunjung keluar.

Di kepalanya tercipta beberapa spekulasi negatif, satu dan yang paling menggangunya adalah praduga bahwa alasan Bubu belum memunculkan batang hidungnya dikarenakan lelaki itu pingsan.

Menghela nafas dalam, Cynthia sedikit berteriak masih dengan raut muram. “Bubu kamu oke, ‘kan?”

Tak ada jawaban.

Sial, apakah Bubu benar-benar pingsan? Cynthia bingung, haruskah ia menerobos masuk guna memastikan keadaan lelaki itu atau tetap bertahan di sini dengan segala rasa kalut yang bercokol di dada?

“Bubu? Aku masuk ya?” Lagi-lagi, tidak ada sahutan di dalam sana. “Oke aku masuk.”

Persetan, kalau nanti Cynthia dicap sebagai wanita cabul yang sembarangan masuk ke toilet pria, dipikirannya kini hanya dipenuhi pertanyaan seputar keadaan sang pacar. Ia berjalan cepat, mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Tempat ini kosong, sebuah keuntungan baginya. Tapi ia jelas mendengar rintihan di bilik paling ujung dan sudah dipastikan itu adalah suara Bubu. Lantas ia pun berjalan ke arah sana.

“Bubu, kamu di sini?” tanya Cynthia seraya menggedor pelan bilik yang tertutup itu.

“Hmm,” sahut Bubu di dalam sana, membuat Cynthia menghembuskan napas lega. Setidaknya lelaki itu masih sadarkan diri.

“Kamu lama, jadi aku susul ke sini. Takut kamu kenapa-napa.”

“Maaf.” Nada lirih disuarakan Bubu, sarat akan penyesalan. Hal itu berhasil membuat Cynthia yang semula kesal dan hendak mengomelinya mendadak iba.

Tak berselang lama, pintu bilik itu terbuka. Wajah pucat berhiaskan senyum sedikit dipaksakan jadi pemandangan pertama yang tertangkap netra Cynthia. “Mendingan?” tanyanya, Bubu hanya balas mengangguk.

“Ayo pulang sekarang.”

“Enggak mau, Bubu masih kuat,” tolak Bubu.

“Gak usah ngeyel, kita pulang sekarang. Kamu sakit, Bubu.”

“Ini cuma efek naik roller coaster aja, Cin. Sebentar lagi juga sembuh, jangan berlebihan.”

“Jangan berlebihan kamu bilang? Kamu gak tau seberapa khawatirnya aku waktu nunggu kamu yang gak kunjung keluar dari toilet? Aku ngira kamu pingsan sampai nekat nerobos masuk tau gak!”

“Maaf untuk itu, tapi masa pulang secepet ini? Bubu masih mau naik bianglala, komidi putar, jajan gulali, terus ...,” lelaki itu terdiam, berpikir sejenak wahana mana lagi yang sekiranya belum ia coba.

Ia berambisi mencoba semua wahana tanpa terlewat satupun, kapan lagi ia bisa mempunyai waktu menyenangkan bersama gadis kesayangannya? Dalam beberapa minggu kedepan, waktu luang yang ia punya akan terkikis karena sudah memulai masa kuliahnya. Cynthia juga pasti sibuk mengelola toko kue miliknya yang menurut penuturan gadis itu jadi lebih ramai pembeli belakangan ini.

Di sisi lain, Cynthia merasakan emosinya memuncak di detik Bubu melayangkan permintaan-permintaan tersebut. Ia tak habis pikir, mengapa Bubu seolah tidak memiliki rasa lelah dan mengapa lelaki itu senang memancing rasa khawatirnya muncul ke permukaan?

“Emang kita mau selama apa di sini? Mau sampai kamu pingsan dulu? Iya? Kamu bisa gak sih jangan bikin aku khawatir terus?” Tanpa sadar Cynthia menaikkan volume bicaranya hingga sang lawan bicara tertegun.

“Enggak gitu ...,” cicit Bubu, nyalinya ciut seketika.

“Disuruh pulang tuh nurut makanya, ayo!” final Cynthia enggan dibantah.

Tak menyerah, Bubu kembali memberi perlawanan. Ia tak mau menyerah begitu saja. “Aaaaa Ciciiiiin, masa beneran pulaaaang?” rengeknya persis seperti bocah berumur 5 tahun yang tak diberi izin memainkan mainan favoritnya.

“Bubu janji enggak bakalan naik wahana apa-apa lagi, tapi jangan pulang ya? Kita jalan-jalan dulu deh, Bubu pengen beli gulali. Mulut Bubu sepet banget habis muntah, harus makan yang manis-manis. Terus udah itu kita diem di mana deh buat istirahat, asal jangan pulang. Ya? Boleh 'kan? Please ....” Lelaki itu memelas, menampilkan mata bulat berbinar khasnya yang sial seribu sial berhasil melelehkan keteguhan hati Cynthia dalam hitungan detik.

“Hng ... oke. Aku cuma kasih izin beli gulali, habis itu kita cari tempat duduk buat istirahat. Sekali aja kamu ngerengek minta naik wahana ini itu, aku bakal seret kamu pulang detik itu juga!” Cynthia melotot, bermaksud menciptakan aura intimidasi.

Bukannya takut Bubu malah bersorak girang mendengar persetujuan yang lebih terasa seperti ancaman itu. “Yes!” Mengekspresikan rasa terima kasihnya, Bubu bersiap memeluk gadis kesayangannya itu namun segera dicegah.

“Eh eh, kamu mau apa?” selidik Cynthia.

“Mau peluk.”

“Enggak ada peluk-peluk di sini, kalau kepergok orang lain bisa berabe. Nanti dikira pasangan yang mau berbuat tak senonoh lagi, ayo cepetan keluar!”


Dua buah bungkus gulali berukuran sedang tergeletak dibangku kayu yang Bubu dan Cynthia jadikan tempat beristirahat; berperan sebagai pembatas jarak keduanya yang duduk saling bersampimgan. Bubu mengambil satu di antaranya, melepas lilitan tali di bagian atas bungkus permen yang menyerupai kapas itu, dan mencomot isinya. Saat sensasi manis menjalari indra pengecapnya, lelaki berwajah menggemaskan itu refleks mengangguk-anggukan kepala, senyum bahagia pun terbit di wajahnya.

“Gulalinya seenak itu ya sampai bikin kamu mesem-mesem?”

“Hehehe, kamu mau Cin?”

“Boleh?”

“Boleh dong, kan sengaja beli 2 bungkus tuh buat dimakan berdua, cuma dimakannya satu-satu biar romantis, sebungkus berdua gitu lah istilahnya.” Bubu menyengir lebar, Cynthia tak tahan untuk tidak mendaratkan telapak tangannya ke kepala Bubu dan mengusak surai hitam milik lelaki itu.

Bubu menyodorkan sejumput permen itu ke depan mulut gadisnya dan diterima dengan senang hati, kemudian keduanya terdiam cukup lama. Barangkali kehabisan topik pembicaraan.

Selagi Bubu asyik dengan dunianya, pandangan Cynthia berkelana ke seluruh penjuru. Memindai dan menilik satu persatu kegiatan orang-orang sekitar lewat kedua belah matanya. Cukup banyak orang berlalu-lalang, pemandangan yang biasa saja menurutnya. Ia bosan, tiada hal menarik di sini. Sampai kemudian pandangannya berhenti tepat di arah tiga orang yang tampaknya sedang bersitegang.

Seorang pria tampan dan wanita berparas cantik berambut sebahu bergandengan erat, terlihat macam sepasang kekasih. Lalu di hadapan mereka berdiri seorang wanita dengan rambut sepunggung; posisinya menyisi, sedikit membelakangi Cynthia hingga wajahnya tak terlalu jelas terlihat, wanita itu seperti tengah beradu mulut dengan sang pria tampan sementara kekasih pria itu hanya diam tanpa kata.

Wah, sepertinya sedang terjadi keributan di sana, jiwa lambe turah yang bersemayam dalam diri Cynthia mendadak bangkit. Ia sangat penasaran, hingga terus menatap gerak-gerik tiga orang yang berada di kejauhan itu dengan saksama. Di otaknya bermunculan berbagai macam spekulasi, dan prediksi terlogis yang ia simpulkan adalah ketiga manusia itu sepertinya tengah terjebak drama cinta segitiga? Entahlah pendapatnya ini valid atau tidak, persetan, lagipula ia cuma menduga-duga.

Jelas saja Cynthia tak'kan bisa mendengar suara ketiga orang itu, karena jaraknya cukup jauh dari tempatnya berada. Sampai kemudian hal mencengangkan terjadi, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa si wanita berambut sepunggung secara spontan menampar keras pipi si pria tampan tanpa belas kasih.

Cynthia bahkan bisa merasakan rasa sakitnya dari sini. Setelah itu, si wanita berambut sepunggung berbalik dan melenggang pergi menjauh dari kedua sejoli itu seolah ingin menyembunyikan air mata yang sudah tergenang pelupuk matanya. Kini Cynthia bisa melihat jelas bagaimana rupa wanita itu, wajah yang cukup familiar dan ia kenal.

Jiandra Diva Larasati.

Sebuah nama yang sempat menggoyahkan rasa percaya dirinya berbulan lalu, gadis yang dulu ia cap sebagai saingan dalam hal mendapatkan hati Bubu. Meski terhalang jarak, bola mata Cynthia jelas bisa menangkap raut kesedihan di diri wanita itu.

Rasa iba tiba-tiba mencubit bagian terdalam nuraninya, ia harus berbuat apa sekarang? Berlalu dan bersikap seolah tak tahu atau menghampiri gadis itu? Namun akan terasa sangat aneh kalau ia memilih opsi kedua, karena ia dan Jiandra tidak terbilang dekat untuk menanyakan keadaan masing-masing. Dirinya juga tak ingin dinilai sebagai tukang ikut campur.

“Cin lagi liatin apa sih? Fokus gitu.” Lamunan Cynthia buyar, ia menoleh ke samping dan mendapati sang pacar tengah memusatkan atensi padanya dengan tatapan penasaran.

“Aku liat Jiandra, dia ada di sini.”

Mata Bubu membulat, “Hah? Serius? Mana?! Di mana?! Bubu udah lama gak ketemu dia.” Ia tampak sangat bersemangat.

“Itu di sana,” tunjuk Cynthia ke tempat Jiandra berada. “Tapi kayaknya dia lagi nangis deh, soalnya tadi ...,” Penjelasannya terpotong sebab Bubu sudah melangkah cepat menghampiri sang teman. Cynthia menghela napas, ia harap keputusannya memberi tahu Bubu perihal keberadaan Jiandra sudah tepat.

Sementara Bubu, ia berjalan tergesa saat menangkap eksistensi Jiandra dan keadaannya yang terbilang tak baik-baik saja. Mengapa setelah sekian lama tak berjumpa, ia harus bertemu gadis itu di situasi semacam ini?

“Jian?”

Jiandra mendongak ketika namanya disebut, lelehan air mata masih tersisa di sekitar wajahnya. Matanya membulat saat bersirobok dengan manik mata seseorang yang tak ia sangka akan berjumpa di tempat ini.

“Bubu?” Segera ia hapus air mata yang mengaliri pipinya. Merasa malu karena tertangkap basah sedang menangis.

“Jangan dihapus, kalau mau nangis keluarin aja gak perlu ditahan. Buang rasa sesak kamu sampai menguap gak tersisa.”

Jiandra hanya menggeleng, mengisyaratkan penolakan. Bubu mengangguk paham, beberapa orang memang benci terlihat menyedihkan di hadapan orang lain.

“Kamu sendirian?” Jiandra mengubah haluan pembicaraan, menghindari pertanyaan tentang mengapa ia bisa berakhir menangis di tempat ini.

“Enggak, aku kesini bareng Cicin.”

“Ah ...,” Jiandra tersenyum kikuk karena tak menyadari ada orang lain berdiri di samping Bubu. Ia tidak fokus.

Cynthia memasang senyum paksa, merasa sedikit kesal karena Bubu meninggalkannya begitu saja dan tak memperjelas hubungan keduanya di depan Jiandra; memperjelas dalam artian mengclaim dirinya sebagai pacar. Rasa posesif sialan ini entah datang dari mana, padahal biasanya ia selalu santai dan tak pernah berlaku demikian.

“Halo, Kak. Lama enggak ketemu,” sapa Jian.

“Iyaaa, kamu apa kabar Jian?”

Setelahnya obrolan ketiganya mengalir begitu saja, ah tepatnya hanya Bubu dan Jiandra karena Cynthia hanya menimpal sesekali. Kedua anak manusia itu seakan menciptakan dunia sendiri dalam obrolannya. Menjadikan Cynthia merasa ... tersisihkan? Entah, ia benci mengakuinya.

“Bubu, kayaknya aku harus pulang sekarang.” Jiandra berkata demikian usai mengecek arlojinya.

Bubu mengigit belah bibir bawahnya, Jiandra sudah ingin pulang? Padahal baru sebentar mereka berbincang setelah sekian lama tak beradu pandang. “Gitu ya? Kamu pulang naik apa?”

“Taksi online.”

“Udah mesen?”

“Belum, sih, ini mau.”

“Mending pulang bareng kita aja, searah juga 'kan?” Mendengar penuturan polos Bubu, Cynthia membelalakkan mata, mengekspresikan rasa tak terima.

“Aku naik taksi aja deh, gak enak kalau harus ganggu quality time kalian.”

“Eh? Enggak kok, serius mending bareng kita aja, Jian. Iya kan, Cin? Kita sama sekali gak masalah kalau Jian mau pulang bareng kita,” Bubu bersikeras, bukan bermaksud apa-apa ia cuma ada khawatir kalau harus membiarkan temannya itu pulang sendirian setelah ia pergoki menangis.

Karena ia tak berani menanyakan alasan tangis gadis itu tercipta, ia rasa setidaknya harus memastikan Jiandra tidak merasa sendirian di tengah kesedihan yang merundungnya. Bubu ingin berperan jadi teman yang baik, dan mengajak Jiandra pulang bersama adalah keputusan terbaik agar gadis itu tak menangis seorang diri di perjalanan pulangnya.

“Iya enggak apa-apa kalau kamu mau bareng kita.” Menenggelamkan egonya, Cynthia mengangguk setuju walau ia berdecih dalam hati. Siapa yang tadi bersikeras menolak pulang, beralasan ingin sedikit lama bersama dirinya. Dan lihat, kini siapa yang menawari orang lain pulang bersama? Labil sekali bukan pacar kesayangannya ini?

“Tuh denger, Cicin sama sekali gak masalah kamu pulang bareng kita. Jadi gak ada alasan buat nolak.”

“Oke deh, makasih ya.”

“Ya udah ayo pulang sekarang,” ajak Cynthia.

“Tunggu!” Bubu terdiam sebentar, lalu mengambil alih sebungkus gulali yang mulanya berada di tangan Cynthia.

“Nih, gulali buat Jian yang lagi sedih. Katanya makanan manis itu bisa bikin perasaan membaik, jadi jangan ditolak.” Bubu menyodorkan bungkusan itu pada Jiandra yang diterima gadis itu dengan ragu-ragu.

“Sekarang ayo pulaaaang!” ajak Bubu penuh antusias, seraya menggandeng erat telapak tangan Cynthia. Sementara Jiandra mengekori mereka dari belakang, sedikit menjaga jarak.

“Lho Jian kenapa jalan di belakang? Udah kayak bodyguard aja. Sini dong barengan, kalau gitu kayak orang musuhan tau.” Dengan polosnya Bubu menarik tangan Jiandra, menjadikan posisinya diapit kedua wanita di sisi kanan dan kirinya.

Sebetulnya emosi Cynthia sudah memuncak, siap meluap dan meledak-ledak. Sungguh-sungguh jengkel atas segala perlakuan Bubu yang menurutnya sudah melewati batas, ia paham jika Jiandra habis mengalami kejadian tak mengenakkan. Memberikan gulali yang seharusnya mereka nikmati berdua pada Jiandra, masih bisa ditoleransi. Namun dalam kasus ini, di mana lelaki itu begitu santainya menggendeng tangan Jiandra saat ia juga tengah bergandengan tangan dengan dirinya membuat Cynthia benar-benar muak. Empati Bubu benar-benar meruah dan tak terkendali, dan itu menyebalkan.

Cynthia melepaskan tautan jemarinya sepihak, beralasan tidak nyaman karena telapak tangannya basah dan melenggang pergi berjalan lebih dulu menuju lahan parkir. Lebih baik begini 'kan ketimbang harus menegur dan menciptakan keributan?


Written by C