Runaway


Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat tenang di kamar hotelnya saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, pada awalnya ia memang tak sadar tengah diintai oleh seseorang, namun seiring berjalannya waktu hal tersebut terkuak juga pada akhirnya.

Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama kepada toko kue yang ia kelola ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil ia lalui.

Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.

“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi sama dia minta supaya dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju terus pergi dari depan kamar, baru deh aku bakal nyelinap keluar diem-diem.” Cynthia menjelaskan.

“Kalau sampai keciduk gimana?” Theo mengajukan tanya.

“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.

“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”

Yeah, I know. Cuma bukan itu pointnya.”

“Terus apa?”

“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”

“Lalu? Hubungannya merica sama Miguel apa?”

“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”

“Tapi kan ....”

“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, okaaay?”

“Hmm,” respons Theo singkat. “By the way, aku udah sampe depan hotel ya. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”

“Ay ay, captain! Aku siap meluncur ke sana.”

“Teleponnya jangan ditutup.”

“Kenapa?”

“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”

Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya, ia pun berkata. “Ya ... asal kamu jangan nekat nyamperin aja sekalipun aku ada di situasi mendesak, just let me handle it by myself. Deal?

“Deal.”

Good. Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. Wait a little longer.” Cynthia lalu membuka aplikasi chatting di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.

Unknown Sekarang buka pintu kamar lo Let me in Or I'll do it my way

Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.

Cynthia Can you stop bothering me just for tonight? Please, ini udah malem Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue If you want to see me, do it tomorrow Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila

Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.

Unknown As you wish, baby Sleep tight and see you tomorrow

Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.

Terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu kali ini.

“Gimana, Cin?” Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.

Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”

“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,” titah lelaki itu.

Okay, I’ll be right back, handphone-nya mau aku masukin saku.”

“Hati-hati.”

“Heem, kamu stand by ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”

Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara, kemudian memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.

Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia melangkah lebar menuju pintu keluar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya pun dipaksa berbalik. Ia menemukan kehadiran sosok yang paling tidak ingin ditemuinya malam ini, Miguel Dewantara.

“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh.”

“Lepas,” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.

Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”

“Sinting ya lo? Gue bilang lepas, jing. Lo mau gue teriak?”

“Kalau mau teriak ya teriak aja, cuma gue jamin nggak bakal ada seorang pun yang bantu lo di sini. Kenapa? Karena gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari. Percaya deh, akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, maka gue akan perlakuin lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?” Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, tangan besarnya semakin mencengkram pergelangan gadis itu kuat-kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat yang sudah disiapkan tersimpan. Ia pun menerbitkan senyum penuh kemenangan saat berhasil meraihnya.

“Miguel,” panggilnya.

Saat Miguel menoleh, segara Cynthia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.

“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.

Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet seorang lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Ia melangkah masuk secepat mungkin, takut bila Miguel masih berusaha mengejar langkahnya di belakang sana. Saat ia sudah duduk nyaman di seat belakang, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.


“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.

“Hah? Nggak kok, sumpah.”

Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”

“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya kan di lift emang minim sinyal.” Cynthia membela diri.

Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. “Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?”

“Abis ketemu setan.”

“Boong. Kamu ini, coba kalau aku nanya serius jawabnya juga yang serius dong!”

“Lah orang aku serius? Nama setannya Miguel btw.”

Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel?” pekiknya, dibalas anggukan santai oleh sang lawan bicara. “Dan respon kamu sesantai ini?” Lelaki itu menggeleng tak percaya. Apa karena sudah cukup sering berhadapan dengan Miguel, menjadikan Cynthia tak lagi gentar?

“Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.”

“Ya, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... apa dia udah tobat lalu berbaik hati biarin kamu pergi?”

Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau!” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.

“Pasti sakit. Maaf ya? Andai aja sambungan teleponnya nggak keputus, pasti aku udah ke sana untuk bantu kamu ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.

“Jangan minta maaf, karena kamu nggak punya salah apa-apa. Lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus, kamu jadi nggak bisa tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.

“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.

“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.” Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.

“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.”

“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”

“Yakin masih perlu jawaban atas pertanyaan yang udah jelas kamu tau jawabannya?”

“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”

“Cih, dasar.” Theo berdecih, “Jawabannya, iyaaa aku kangen kamu bangeeeet, sampai mau meninggooooy,” ujarnya hiperbolis.

“Real kah?”

“Real dong, Min. Perlu cross check?

“Boleh. Sini biar aku cross check sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.

Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa cross check-nya yang teliti ya? Lama-lamain aja, nggak apa-apa.”

“Siap.”

Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.

***

Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Masa bodoh dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.

Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih cross check tadi. Theo merasa beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun makin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu, mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya.

Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggu saat ini, Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia yang hampir limbung membentur pintu.

“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.

“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.

“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”

Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.

Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun!” titahnya.

Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.”

“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”

“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak berurusan sama dia. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”

“Mas, apa nggak lebih baik kita putar balik saja?” tawar sang supir khawatir.

Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”

“B-baik, Mas.”

“Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini dan kunci pintunya rapat-rapat sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai. Bapak paham, kan?” Theo berpesan panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk tanda paham.

Theo kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Keluar dari dalam taksi, ia lantas melangkah menghampiri Miguel yang mungkin sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.

Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.

“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.

“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,” jawab Theo.

Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.

“Saya pacarnya.”

“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”

“Dia lagi nggak bisa diganggu,” tegas Theo. “Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.” Ia melanjutkan ucapannya.

“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo yang terdengar bagai omong kosong di telinganya. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!” Miguel menunjuk-nunjuk pipinya, menantang Theo. Namun, perbuatannya sama sekali tak Theo gubris. “Kenapa diem? Nggak berani, ya? Takut gue bales, terus lo gue bikin mati?” ujar lelaki itu meremehkan.

Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga. Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.

Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatannya. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, kita pake rame-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, gue nggak masalah kalau harus pake bekasan lo. Gimana?”

Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.

“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.

Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas, ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”

“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan pecundang macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.

Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan, Theo langsung kalah telak ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.

“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan serangan-serangan lain kepada lelaki itu.

Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempaskan dirinya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah. Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine polisi mendekat, lelaki itu menengok ke kanan dan kiri guna memastikan bahwa suara yang ditangkap indera pendengaran benar.

Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, lantas menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa.

Sebelum Miguel sempat membalas, beruntung polisi sudah sampai dan memisahkan pertarungan keduanya. Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu berinisiatif menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.

Di tengah keributan berlangsung, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.

Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”

“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Sengaja mau bikin aku jantungan gara-gara nontonin kamu dipukulin orang gila? Iya?”

“Iya aku sengaja, karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar. Gimana? Kita impas kan sekarang? Tadi kamu juga lakuin hal yang sama.” ujar Theo yang dibalas delikan tajam oleh Cynthia.

Di sisi lain, supir taksi selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.

“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.

Saat hendak di bawa menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari menodongkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target incaran sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya sedang terancam. Cynthia yang justru lebih dulu menyadari. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin ketika mengetahui langkah Miguel semakin dekat, buru-buru mengganti posisi dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi Theo dari serangan Miguel.

Dalam sekejap, Cynthia bisa merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan yang refleks keluar dari celah bibir. Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, namun ia langsung memekik saat menemukan Miguel berada persis di balik tubuh gadisnya sembari menggenggam sebuah pisau yang sudah berlumuran darah. Petugas kepolisian tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu bertindak lebih jauh.

“Cin ... kamu berdarah banyak!” pekik Theo panik, saking paniknya ia sampai menangis. “Tolong, siapapun! Tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!” teriaknya lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan dengan kedua tangan.

Cynthia memandang Theo penuh arti, lalu berucap lirih. “Syukurlah, kamu nggak kenapa-napa.”

Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang seiring dengan tangisan Theo yang bertambah nyaring.


Written by C