Udara segar yang Theo hirup di minggu pagi ini tak mampu menstabilkan perasaan gundahnya sejak semalam. Tanpa alasan yang jelas, ia terus saja memikirkan mimpi buruk yang dialaminya kemarin.
Bagi Theo, mimpi itu terasa sangat nyata. Sampai menyebabkan tangisnya luruh ketika terbangun, dada sesak, disertai seluruh tubuh bergetar hebat. Mimpi di mana hidup Cynthia berakhir seperti Mamanya yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Takut? Jelas. Terlebih hari ini, orang yang menjadi alasan kerisauannya akan pergi ke pulau sebrang, menaiki pesawat, meninggalkan ia untuk jangka waktu yang cukup panjang.
Suara alarm peringatan di palang pintu kereta api tiba-tiba menyeru lantang, lamunan Theo pun buyar. Ia lalu memberhentikan mobil yang dikendarainya pada salah satu space kosong jalanan yang belum ditempati oleh kendaraan lain. Tak berselang lama ponsel Theo berbunyi, pesan dari Cynthia muncul di bilah notifikasi. Segera, ia balas pesan itu tanpa berpikir dua kali.
Usai palang pintu kereta api terbuka, Theo lekas melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju toko kue sang gadis tercinta.
***