cheenoire


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lumayan lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai rasa gengsi sang pacar yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oke oke, jangan ngegas dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi, loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngalir deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kamu jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“UAS mah seminggu juga beres kali.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Gadis itu berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk, mungkin itu telepon dari orang penting? Entahlah, Bubu sama sekali tak bisa mendengar apa hal yang dibicarakan Cynthia bersama sang penelepon itu.

Setelah cukup lama berbincang, kekasihnya itu melangkahkan kaki kembali arahnya. “Siapa?” Bubu bertanya dengan penuh rasa penasaran, sepulang Cynthia ke hadapannya.

Raut Cynthia berubah pilu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Kalau boleh jujur, dirinya juga tak mau berpisah jauh dengan lelaki kesayangannya. Menurut Cynthia, dua minggu adalah waktu yang sangat lama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua tuntutan pekerjaan, ketika ia setuju dan mendatangani kontrak dengan hotel yang menawarkannya kerjasama, tandanya ia setuju dengan segala konsekuensi yang harus di hadapi, termasuk merelakan diri mengikuti perjalanan bisnis di luar kota seperti sekarang ini.

Sadar bahwa tak banyak waktu tersisa, Cynthia meraih koper diikuti Bubu yang beranjak untuk menyamakan posisi dengannya. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang memfokuskan pandangan padanya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Oh okaaay. Tapi kenapa mesti izin segala sih? Padahal langsung aja.” tantangnya.

Usai menelisik pandang ke segala arah guna memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. “Kayak gini,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Ia senang, hatinya merasa menang karena sudah berhasil menggoda sang pacar hingga memperlihatkan raut bingung.

Bubu yang baru mampu mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, ia tersenyum miring, adrenalin dalam dirinya terpacu, dan tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya ingin protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai raga gengsi pacarnya yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kamu jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Gadis itu berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk, mungkin itu telepon dari orang penting? Entahlah, Bubu sama sekali tak bisa mendengar apa hal yang dibicarakan Cynthia bersama sang penelepon itu.

Setelah cukup lama berbincang, kekasihnya itu melangkahkan kaki kembali arahnya. “Siapa?” tanya Bubu penasaran, sepulangnya Cynthia ke hadapannya.

Raut Cynthia berubah sendu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Ia lantas meraih koper diikuti Bubu yang beranjak untuk menyamakan posisi. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Oh okaaay. Kenapa mesti izin segala sih? Padahal langsung aja.” tantangnya.

Usai menelisik pandang ke segala arah guna memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. “Kayak gini,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Ia senang, hatinya merasa menang karena sudah berhasil menggoda sang pacar hingga menampilkan raut kebingungan.

Bubu yang baru saja mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, ia tersenyum miring, adrenalin dalam dirinya terpacu, dan tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya ingin protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai raga gengsi pacarnya yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kami jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing di Bali, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Setelah cukup lama berbincang dengan si penelepon, panggilan itu berakhir.

“Siapa?” tanya Bubu.

Raut Cynthia berubah sendu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Ia lantas beranjak dari duduknya, meraih koper diikuti Bubu yang ikut berdiri. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Kenapa nggak?” tantangnya.

Usai menelisik pandang ke segala arah guna memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. Bubu yang baru saja mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya ingin protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai raga gengsi pacarnya yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kami jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing di Bali, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Setelah cukup lama berbincang dengan si penelepon, panggilan itu berakhir.

“Siapa?” tanya Bubu.

Raut Cynthia berubah sendu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Ia lantas beranjak dari duduknya, meraih koper diikuti Bubu yang ikut berdiri. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Kenapa nggak?” tantangnya.

Usai menelisik pandang ke segala arah guna memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. Bubu yang baru saja mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya ingin protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat gigi-nya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku tadi mau dobrak pintu apart kamu karena takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jemarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu tadi.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengendikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh 25 menit seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara waktu itu sampai di tujuan. Dengan jemari saling bertaut, mereka melangkahkan kaki ke ruang tunggu bandara. Selagi menunggu pemberitahuan soal keberangkatan, Cynthia dan Bubu memutuskan untuk menyantap kudapan siang yang dibeli keduanya di salah satu restoran cepat saji.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah beef burger ukuran sedang, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Bubu menghela nafas, burger di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat ketika ia tiba-tiba teringat, tinggal menghitung menit saja dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sebelahnya.

“Kenapa lesu gitu mukanya?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan suasana hati sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

“Beneran? Padahal tadi udah ngangguk, kirain sedih.” Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat.

“Beneran ish,” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, pacarnya ini sedang gengsi rupanya. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi kenyal itu penuh sayang. Ia pun mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah jelek, kamu kayak mau ditinggal pergi selamanya aja. Sini peluk!” Tangan gadis itu merentang, dan detik berikutnya Bubu langsung menyambut pelukan itu dengan hangat.

Lelaki yang sudah berada di dekapan kekasihnya itu pun bicara. “Kamu jangan ngomong sembarangan, kamu nggak boleh pergi lama-lama.

“Iyaaa.”

“Nggak boleh pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” bisiknya. Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam.

“Aman.”

“Janji nggak bakal kenapa-napa?”

“Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus harus tepatin kata-kata yang pernah kamu bilang di chat soal 'kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun'. Tuh, mohon dipegang omongannya!”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah sampe sana, wajib. Harus pulang tepat waktu, nggak lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu atau susah dikabarin, aku langsung susulin ke sana.”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, pemberitahuan keberangkatan pesawat yang ditumpangi Cynthia terdengar di pengeras suara.

Menyungging senyum sumir, Cynthia berkata. “Waktunya pergi.”

Ia lantas beranjak dari duduknya, meraih koper diikuti Bubu yang ikut berdiri. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

Gadis di depannya tersenyum miring.“Kenapa nggak?” tantangnya.

Sesudah bicara, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu tanpa banyak lama, mencuri start dari pemuda itu. Bubu yang tak mau kalah, mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat gigi-nya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku tadi mau dobrak pintu apart kamu karena takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jemarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu tadi.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengendikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh 25 menit seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara waktu itu sampai di tujuan. Dengan jemari saling bertaut, mereka melangkahkan kaki ke ruang tunggu bandara. Selagi menunggu pemberitahuan soal keberangkatan, Cynthia dan Bubu memutuskan untuk menyantap kudapan siang yang dibeli keduanya di salah satu restoran cepat saji.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah beef burger ukuran sedang, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Bubu menghela nafas, burger di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat ketika ia tiba-tiba teringat, tinggal menghitung menit saja dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sebelahnya.

“Kenapa lesu gitu mukanya?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan suasana hati sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

“Beneran? Padahal tadi udah ngangguk, kirain sedih.” Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat.

“Beneran ish,” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, pacarnya ini sedang gengsi rupanya. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi kenyal itu penuh sayang. Ia pun mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah jelek, kamu kayak mau ditinggal pergi selamanya aja. Sini peluk!” Tangan gadis itu merentang, dan detik berikutnya Bubu langsung menyambut pelukan itu dengan hangat.

Lelaki yang sudah berada di dekapan kekasihnya itu pun bicara. “Kamu jangan ngomong sembarangan, kamu nggak boleh pergi lama-lama.

“Iyaaa.”

“Nggak boleh pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” bisiknya. Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam.

“Aman.”

“Janji nggak bakal kenapa-napa?”

“Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus harus tepatin kata-kata yang pernah kamu bilang di chat soal 'kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun'. Tuh, mohon dipegang omongannya!”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah sampe sana, wajib. Harus pulang tepat waktu, nggak lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu atau susah dikabarin, aku langsung susulin ke sana.”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, pemberitahuan keberangkatan pesawat yang ditumpangi Cynthia terdengar di pengeras suara.

Menyungging senyum sumir, Cynthia berkata. “Waktunya pergi.”

Ia lantas beranjak dari duduknya, meraih koper diikuti Bubu yang ikut berdiri. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

Gadis di depannya tersenyum miring.“Kenapa nggak?” tantangnya.

Sesudah bicara, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu tanpa banyak lama, mencuri start dari pemuda itu. Bubu yang tak mau kalah, mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat gigi-nya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, aku asalnya mau dobrak pintu apart kamu karena takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemennya hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jemarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu tadi.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengendikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”

***

Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh 25 menit seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara waktu itu sampai di tujuan. Dengan jemari saling bertaut, mereka melangkahkan kaki ke ruang tunggu bandara. Selagi menunggu pemberitahuan soal keberangkatan, Cynthia dan Bubu memutuskan untuk menyantap kudapan siang yang dibeli keduanya di salah satu restoran cepat saji.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah beef burger ukuran sedang, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Bubu menghela nafas, burger di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat ketika ia tiba-tiba teringat, tinggal menghitung menit saja dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sebelahnya.

“Kenapa lesu gitu mukanya?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan suasana hati sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

“Beneran? Padahal tadi udah ngangguk, kirain sedih.” Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat.

“Beneran ish,” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, pacarnya ini sedang gengsi rupanya. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi kenyal itu penuh sayang. Ia pun mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah jelek, kamu kayak mau ditinggal pergi selamanya aja. Sini peluk!” Tangan gadis itu merentang, dan detik berikutnya Bubu langsung menyambut pelukan itu dengan hangat.

Lelaki yang sudah berada di dekapan kekasihnya itu pun bicara. “Kamu jangan ngomong sembarangan, kamu nggak boleh pergi lama-lama.

“Iyaaa.”

“Nggak boleh pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” bisiknya. Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam.

“Aman.”

“Janji nggak bakal kenapa-napa?”

“Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus harus tepatin kata-kata yang pernah kamu bilang di chat soal 'kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun'. Tuh, mohon dipegang omongannya!”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah sampe sana, wajib. Harus pulang tepat waktu, nggak lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu atau susah dikabarin, aku langsung susulin ke sana.”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, pemberitahuan keberangkatan pesawat yang ditumpangi Cynthia terdengar di pengeras suara.

Menyungging senyum sumir, Cynthia berkata. “Waktunya pergi.”

Ia lantas beranjak dari duduknya, meraih koper diikuti Bubu yang ikut berdiri. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

Gadis di depannya tersenyum miring.“Kenapa nggak?” tantangnya.

Sesudah bicara, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu tanpa banyak lama, mencuri start dari pemuda itu. Bubu yang tak mau kalah, mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C

Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat gigi-nya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, aku asalnya mau dobrak pintu apart kamu karena takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemennya hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jemarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu tadi.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengendikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”

***

Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh 25 menit seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara waktu itu sampai di tujuan. Dengan jemari saling bertaut, mereka melangkahkan kaki ke ruang tunggu bandara. Selagi menunggu pemberitahuan soal keberangkatan, Cynthia dan Bubu memutuskan untuk menyantap kudapan siang yang dibeli keduanya di salah satu restoran cepat saji.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah beef burger ukuran sedang, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Bubu menghela nafas, burger di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat ketika ia tiba-tiba teringat, tinggal menghitung menit saja dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sebelahnya.

“Kenapa lesu gitu mukanya?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan suasana hati sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

“Beneran? Padahal tadi udah ngangguk, kirain sedih.” Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat.

“Beneran ish,” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, pacarnya ini sedang gengsi rupanya. “Oh oke, jangan ngambek dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngucur deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi kenyal itu penuh sayang. Ia pun mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah jelek, kamu kayak mau ditinggal pergi selamanya aja. Sini peluk!” Tangan gadis itu merentang, dan detik berikutnya Bubu langsung menyambut pelukan itu dengan hangat.

Lelaki yang sudah berada di dekapan kekasihnya itu pun bicara. “Kamu jangan ngomong sembarangan, kamu nggak boleh pergi lama-lama.

“Iyaaa.”

“Nggak boleh pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” bisiknya. Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam.

“Aman.”

“Janji nggak bakal kenapa-napa?”

“Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus harus tepatin kata-kata yang pernah kamu bilang di chat soal 'kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun'. Tuh, mohon dipegang omongannya!”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah sampe sana, wajib. Harus pulang tepat waktu, nggak lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu atau susah dikabarin, aku langsung susulin ke sana.”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“Bodo amat aku tinggal.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, pemberitahuan keberangkatan pesawat yang ditumpangi Cynthia terdengar di pengeras suara.

Menyungging senyum sumir, Cynthia berkata. “Waktunya pergi.”

Ia lantas beranjak dari duduknya, meraih koper diikuti Bubu yang ikut berdiri. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang menatapnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

Gadis di depannya tersenyum miring.“Kenapa nggak?” tantangnya.

Sesudah bicara, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu tanpa banyak lama, mencuri start dari pemuda itu. Bubu yang tak mau kalah, mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat gigi-nya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

“Sumpah ya, aku asalnya mau dobrak pintu apart kamu karena takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemennya hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya. Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia akhirnya angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks menjawil bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Cynthia membuka obrolan sedikit ragu. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Jujur saja, sekarang Cynthia merasa sangat bersalah, terlebih ia mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sementara ia tahu suhu di luar tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya di akhir kalimat.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Ngaco! Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu tadi.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia, kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa kesal tersisa, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan Bubu.

“Ish! Kamu peluk aku sini, biar dinginnya ilang,” ketusnya sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, disertai kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes sang hawa tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengendikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, suruh ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Lakuin sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu akhirnya merenggangkan pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri sakitnya.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat gigi-nya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

“Sumpah ya, aku asalnya mau dobrak pintu apart kamu karena takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemennya hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya. Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia akhirnya angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks menjawil bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Cynthia membuka obrolan sedikit ragu. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Jujur saja, sekarang Cynthia merasa sangat bersalah, terlebih ia mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sementara ia tahu suhu di luar tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya di akhir kalimat.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Ngaco! Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu tadi.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia, kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa kesal tersisa, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan Bubu.

“Ish! Kamu peluk aku sini, biar dinginnya ilang,” ketusnya sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, disertai kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes sang hawa tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengendikkan bahu.

“Ish kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, suruh ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Lakuin sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu akhirnya merenggangkan pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri sakitnya.”

Bubu mengangguk sebagai respon, namun tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia lontarkan.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, serta sedikit raut sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”

***