cheenoire


Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat dengan tenang di kamar hotel saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, meski pada awalnya Cynthia tak menyadari bahwa dirinya tengah diintai oleh seseorang, namun hal tersebut terungkap juga pada akhirnya.

Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama tempatnya berada ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil Cynthia lalui.

Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.

“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi minta dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju dan pergi dari depan kamarku, barulah aku bakal nyelinap keluar secara diem-diem.” Cynthia menjelaskan.

“Kalau sampai keciduk gimana?” Theo mengajukan tanya.

“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.

“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”

“Yeah I know, cuma bukan itu pointnya.”

“Terus apa?”

“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”

“Ya, terus? Hubungannya merica sama Miguel apa?”

“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”

“Tapi kan ....”

“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, for you information aku bisa nendang selangkangan orang tepat sasaran. Jadi jangan khawatir, okaaay?”

“Hmm,” respons Theo singkat. “By the way, aku udah sampe depan hotel nih. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”

“Oke, meluncur!”

“Teleponnya jangan ditutup.”

“Kenapa?”

“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”

Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya ia berkata. “Iya, asal kamu jangan nekat nyamperin aku sekalipun aku ada di situasi mendesak, just let me handle it by myself. Deal?”

“Deal.”

“Good. Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. Wait a little longer.” Cynthia lalu membuka aplikasi chatting di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.

Unknown >Sekarang buka pintu kamar lo > Let me in > Or I'll do it my way

Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.

Cynthia > Can you stop bothering me just for tonight? > Please, ini udah malem > Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue > If you want to see me, do it tomorrow > Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila

Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.

Unknown > As you wish, baby > Sleep tight and see you tomorrow

Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.

Namun, terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu.

“Gimana, Cin?” Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.

Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”

“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,” titah lelaki itu.

“Okay, I’ll be right back, handphone-nya mau aku masukin saku.”

“Hati-hati.”

“Heem, kamu stand by ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”

Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara dan memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.

Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia keluar dengan langkah besar juga senyuman yang tak kalah lebar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya dipaksa berbalik. Lalu ia menemukan wajah seseorang yang paling tidak ingin ia temui, Miguel Dewantara.

“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh kalau itu mau lo.”

“Nggak! Lepasin gue sekarang.” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.

Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”

“Sinting ya lo? Lepas atau gue teriak?”

“Teriak aja, gue jamin nggak ada seorang pun yang bakal bantu lo di sini. Lupa, ya? Gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari dari gue. Karena akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, dan gue bakal memperlakukan lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?” Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, semakin mencengkram pergelangan gadis itu dengan tenaganya yang kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangan lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat tersimpan.

Gadis itu menerbitkan senyum penuh kemenangan setelah berhasil meraih benda itu.

“Miguel,” panggilnya.

Saat Miguel menoleh, ia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.

“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.

Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Cynthia bergegas masuk, takut Miguel keburu menyusulnya. Setelah ia sudah duduk nyaman, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.


“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.

“Hah? Nggak kok, sumpah.”

Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”

“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya di lift emang minim sinyal.” Cynthia membela diri.

Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. “Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?”

“Abis ketemu setan.”

“Serius dong, Cin.”

“Lah orang aku serius, nama setannya Miguel btw.”

Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel, dan respon kamu sesantai ini?”

“Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.”

“Hmm, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... dia tobat kah dan berbaik hati biarin kamu pergi?”

Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau nggak?” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.

“Pasti sakit. Maaf ya? Aku nggak ada di sana untuk bantu kamu. Kalau aja sambungan teleponnya nggak keputus ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.

“Bukan salah kamu kok, lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus. Kamu jadi nggak tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.

“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.

“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.” Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.

“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.”

“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”

“Yakin masih perlu jawaban atas pernahnya yang udah jelas kamu tau jawabannya?”

“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”

“Cih, dasar.” Theo berdecih, “Jawabannya, iyaaa aku kangen kamu bangeeeet, sampai mau meninggooooy,” ujar Theo hiperbolis.

“Hmm, real kah?”

“Real dong, Min. Perlu cross check?”

“Boleh. Sini biar aku cross check sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.

Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa cross check-nya yang teliti ya? Lama juga nggak apa-apa.”

“Siap.”

Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.

***

Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Persetan dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Terlihat begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.

Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih cross check tadi. Theo merasa semakin lama beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun semakin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu dan mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya.

Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggunya saat ini Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia yang hampir limbung membentur pintu.

“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.

“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.

“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”

Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.

Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun lo!”

Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.”

“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”

“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak jadi korban. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”

“Mas, lebih baik kita putar balik saja,” tawar sang supir khawatir.

Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”

“B-baik, Mas.”

“Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai,” pesan Theo panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk sebagai persetujuan.

Ia kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Theo pun melangkah menghampiri Miguel yang sepertinya sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.

Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar melangkah. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.

“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.

“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,” jawab Theo.

Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.

“Saya pacarnya.”

“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”

“Dia lagi nggak bisa diganggu,” ujar Theo, kalimat itu terdengar seperti omong kosong di telinga Miguel. “Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.” Ia melanjutkan ucapannya.

“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo, baginya itu teramat menggelitik. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!” tantang lelaki itu seraya menunjuk-nunjuk pipinya. “Dan kalau lo beneran mukul gue, gue pastiin lo mati,”

Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga. Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.

Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatan dia. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, gue nggak masalah, kita pake rama-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, baru abis itu gue pake bekasan lo. Gimana?”

Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.

“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.

Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”

“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.

Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan Theo langsung kalah tepat ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.

“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan banyak pukulan kepada lelaki itu.

Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempasnya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah. Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine mendekat, lelaki itu mendongak guna lebih menajamkan indera pendengarannya.

Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa. Sebelum Miguel sempat membalas, polisi sampai dan memisahkan pertarungan keduanya.

Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang pun turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu, menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.

Di tengah keributan itu, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.

Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”

“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Sengaja mau bikin aku jantungan gara-gara nontonin kamu dipukulin orang gila? Iya?”

“Iya aku sengaja, karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar. Kita impas kan sekarang?” ujar Theo yang dibalas delikan tajam oleh Cynthia.

Di sisi lain, supir taksi pun selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.

“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.

Saat hendak di bawa menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari mengacungkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya terancam. Cynthia yang justru lebih dulu menyadarinya. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin, mengganti posisi keduanya dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi lelaki itu dari serangan Miguel.

Dalam sekejap, Cynthia merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan refleks keluar dari celah bibirnya. Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, namun ia langsung memekik saat menemukan Miguel berada persis di balik tubuh gadisnya sembari menggenggam sebuah pisau yang telah berlumuran darah. Petugas kepolisian pun tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu tertindak lebih jauh.

“Cin ... kamu berdarah banyak!” pekik Theo panik, saking paniknya ia sampai menangis. “Tolong, siapapun, tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!” teriaknya lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan itu dengan kedua tangan.

Cynthia bertutur lemah, “Bubu, it's okay. Don't cry.”

Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang bersamaan dengan tangisan Theo yang bertambah nyaring.


Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat dengan tenang di kamar hotel saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, meski pada awalnya Cynthia tak menyadari bahwa dirinya tengah diintai oleh seseorang, namun hal tersebut terungkap juga pada akhirnya.

Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama tempatnya berada ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil Cynthia lalui.

Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.

“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi minta dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju dan pergi dari depan kamarku, barulah aku bakal nyelinap keluar secara diem-diem.” Cynthia menjelaskan.

“Kalau sampai keciduk gimana?” Theo mengajukan tanya.

“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.

“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”

“Yeah I know, cuma bukan itu pointnya.”

“Terus apa?”

“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”

“Ya, terus? Hubungannya merica sama Miguel apa?”

“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”

“Tapi kan ....”

“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, for you information aku bisa nendang selangkangan orang tepat sasaran. Jadi jangan khawatir, okaaay?”

“Hmm,” respons Theo singkat. “By the way, aku udah sampe depan hotel nih. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”

“Oke, meluncur!”

“Teleponnya jangan ditutup.”

“Kenapa?”

“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”

Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya ia berkata. “Iya, asal kamu jangan nekat nyamperin aku sekalipun aku ada di situasi mendesak, just let me handle it by myself. Deal?”

“Deal.”

“Good. Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. Wait a little longer.” Cynthia lalu membuka aplikasi chatting di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.

Unknown > Sekarang buka pintu kamar lo > Let me in > Or I'll do it my way

Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.

Cynthia > Can you stop bothering me just for tonight? > Please, ini udah malem > Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue > If you want to see me, do it tomorrow > Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila

Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.

Unknown > As you wish, baby > Sleep tight and see you tomorrow

Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.

Namun, terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu.

“Gimana, Cin?” Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.

Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”

“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,” titah lelaki itu.

“Okay, I’ll be right back, handphone-nya mau aku masukin saku.”

“Hati-hati.”

“Heem, kamu stand by ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”

Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara dan memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.

Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia keluar dengan langkah besar juga senyuman yang tak kalah lebar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya dipaksa berbalik. Lalu ia menemukan wajah seseorang yang paling tidak ingin ia temui, Miguel Dewantara.

“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh kalau itu mau lo.”

“Nggak! Lepasin gue sekarang.” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.

Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”

“Sinting ya lo? Lepas atau gue teriak?”

“Teriak aja, gue jamin nggak ada seorang pun yang bakal bantu lo di sini. Lupa, ya? Gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari dari gue. Karena akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, dan gue bakal memperlakukan lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?” Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, semakin mencengkram pergelangan gadis itu dengan tenaganya yang kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangan lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat tersimpan.

Gadis itu menerbitkan senyum penuh kemenangan setelah berhasil meraih benda itu.

“Miguel,” panggilnya.

Saat Miguel menoleh, ia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.

“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.

Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Cynthia bergegas masuk, takut Miguel keburu menyusulnya. Setelah ia sudah duduk nyaman, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.


“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.

“Hah? Nggak kok, sumpah.”

Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”

“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya di lift emang minim sinyal.” Cynthia membela diri.

Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. “Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?”

“Abis ketemu setan.”

“Serius dong, Cin.”

“Lah orang aku serius, nama setannya Miguel btw.”

Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel, dan respon kamu sesantai ini?”

“Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.”

“Hmm, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... dia tobat kah dan berbaik hati biarin kamu pergi?”

Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau nggak?” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.

“Pasti sakit. Maaf ya? Aku nggak ada di sana untuk bantu kamu. Kalau aja sambungan teleponnya nggak keputus ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.

“Bukan salah kamu kok, lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus. Kamu jadi nggak tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.

“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.

“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.” Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.

“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.”

“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”

“Yakin masih perlu jawaban atas pernahnya yang udah jelas kamu tau jawabannya?”

“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”

“Cih, dasar.” Theo berdecih, “Jawabannya, iyaaa aku kangen kamu bangeeeet, sampai mau meninggooooy,” ujar Theo hiperbolis.

“Hmm, real kah?”

“Real dong, Min. Perlu cross check?”

“Boleh. Sini biar aku cross check sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.

Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa cross check-nya yang teliti ya? Lama juga nggak apa-apa.”

“Siap.”

Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.

***

Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Persetan dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Terlihat begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.

Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih cross check tadi. Theo merasa semakin lama beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun semakin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu dan mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya.

Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggunya saat ini Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia yang hampir limbung membentur pintu.

“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.

“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.

“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”

Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.

Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun lo!”

Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.”

“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”

“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak jadi korban. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”

“Mas, lebih baik kita putar balik saja,” tawar sang supir khawatir.

Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”

“B-baik, Mas.”

“Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai,” pesan Theo panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk sebagai persetujuan.

Ia kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Theo pun melangkah menghampiri Miguel yang sepertinya sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.

Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar melangkah. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.

“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.

“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,” jawab Theo.

Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.

“Saya pacarnya.”

“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”

“Dia lagi nggak bisa diganggu,” ujar Theo, kalimat itu terdengar seperti omong kosong di telinga Miguel. “Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.” Ia melanjutkan ucapannya.

“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo, baginya itu teramat menggelitik. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!” tantang lelaki itu seraya menunjuk-nunjuk pipinya. “Dan kalau lo beneran mukul gue, gue pastiin lo mati,”

Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga. Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.

Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatan dia. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, gue nggak masalah, kita pake rama-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, baru abis itu gue pake bekasan lo. Gimana?”

Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.

“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.

Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”

“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.

Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan Theo langsung kalah tepat ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.

“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan banyak pukulan kepada lelaki itu.

Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempasnya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah. Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine mendekat, lelaki itu mendongak guna lebih menajamkan indera pendengarannya.

Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa. Sebelum Miguel sempat membalas, polisi sampai dan memisahkan pertarungan keduanya.

Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang pun turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu, menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.

Di tengah keributan itu, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.

Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”

“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Sengaja mau bikin aku jantungan gara-gara nontonin kamu dipukulin orang gila? Iya?”

“Iya aku sengaja, karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar. Kita impas kan sekarang?” ujar Theo yang dibalas delikan tajam oleh Cynthia.

Di sisi lain, supir taksi pun selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.

“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.

Saat hendak di bawa menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari mengacungkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya terancam. Cynthia yang justru lebih dulu menyadarinya. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin, mengganti posisi keduanya dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi lelaki itu dari serangan Miguel.

Dalam sekejap, Cynthia merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan refleks keluar dari celah bibirnya. Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, namun ia langsung memekik saat menemukan Miguel berada persis di balik tubuh gadisnya sembari menggenggam sebuah pisau yang telah berlumuran darah. Petugas kepolisian pun tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu tertindak lebih jauh.

“Cin ... kamu berdarah banyak!” pekik Theo panik, saking paniknya ia sampai menangis. “Tolong, siapapun, tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!” teriaknya lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan itu dengan kedua tangan.

Cynthia bertutur lemah, “Bubu, it's okay. Don't cry.”

Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang bersamaan dengan tangisan Theo yang bertambah nyaring.


Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat dengan tenang di kamar hotel saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, meski pada awalnya Cynthia tak menyadari bahwa dirinya tengah diintai oleh seseorang, namun hal tersebut terungkap juga pada akhirnya.

Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama tempatnya berada ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil Cynthia lalui.

Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.

“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi minta dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju dan pergi dari depan kamarku, barulah aku bakal nyelinap keluar secara diem-diem.” Cynthia menjelaskan.

“Kalau sampai keciduk gimana?” Theo mengajukan tanya.

“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.

“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”

“Yeah I know, cuma bukan itu pointnya.”

“Terus apa?”

“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”

“Ya, terus? Hubungannya merica sama Miguel apa?”

“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”

“Tapi kan ....”

“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, for you information aku bisa nendang selangkangan orang tepat sasaran. Jadi jangan khawatir, okaaay?”

“Hmm,” respons Theo singkat. “By the way, aku udah sampe depan hotel nih. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”

“Oke, meluncur!”

“Teleponnya jangan ditutup.”

“Kenapa?”

“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”

Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya ia berkata. “Iya, asal kamu jangan nekat nyamperin aku sekalipun aku ada di situasi mendesak, just let me handle it by myself. Deal?”

“Deal.”

“Good. Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. Wait a little longer.” Cynthia lalu membuka aplikasi chatting di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.

Unknown > Sekarang buka pintu kamar lo > Let me in > Or I'll do it my way

Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.

Cynthia > Can you stop bothering me just for tonight? > Please, ini udah malem > Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue > If you want to see me, do it tomorrow > Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila

Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.

Unknown > As you wish, baby > Sleep tight and see you tomorrow

Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.

Namun, terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu.

“Gimana, Cin?” Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.

Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”

“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,” titah lelaki itu.

“Okay, I’ll be right back, handphone-nya mau aku masukin saku.”

“Hati-hati.”

“Heem, kamu stand by ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”

Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara dan memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.

Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia keluar dengan langkah besar juga senyuman yang tak kalah lebar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya dipaksa berbalik. Lalu ia menemukan wajah seseorang yang paling tidak ingin ia temui, Miguel Dewantara.

“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh kalau itu mau lo.”

“Nggak! Lepasin gue sekarang.” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.

Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”

“Sinting ya lo? Lepas atau gue teriak?”

“Teriak aja, gue jamin nggak ada seorang pun yang bakal bantu lo di sini. Lupa, ya? Gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari dari gue. Karena akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, dan gue bakal memperlakukan lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?” Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, semakin mencengkram pergelangan gadis itu dengan tenaganya yang kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangan lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat tersimpan.

Gadis itu menerbitkan senyum penuh kemenangan setelah berhasil meraih benda itu.

“Miguel,” panggilnya.

Saat Miguel menoleh, ia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.

“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.

Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Cynthia bergegas masuk, takut Miguel keburu menyusulnya. Setelah ia sudah duduk nyaman, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.


“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.

“Hah? Nggak kok, sumpah.”

Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”

“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya di lift emang minim sinyal.” Cynthia membela diri.

Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. “Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?”

“Abis ketemu setan.”

“Serius dong, Cin.”

“Lah orang aku serius, nama setannya Miguel btw.”

Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel, dan respon kamu sesantai ini?”

“Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.”

“Hmm, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... dia tobat kah dan berbaik hati biarin kamu pergi?”

Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau nggak?” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.

“Pasti sakit. Maaf ya? Aku nggak ada di sana untuk bantu kamu. Kalau aja sambungan teleponnya nggak keputus ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.

“Bukan salah kamu kok, lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus. Kamu jadi nggak tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.

“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.

“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.” Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.

“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.”

“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”

“Yakin masih perlu jawaban atas pernahnya yang udah jelas kamu tau jawabannya?”

“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”

“Cih, dasar.” Theo berdecih, “Jawabannya, iyaaa aku kangen kamu bangeeeet, sampai mau meninggooooy,” ujar Theo hiperbolis.

“Hmm, real kah?”

“Real dong, Min. Perlu cross check?”

“Boleh. Sini biar aku cross check sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.

Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa cross check-nya yang teliti ya? Lama juga nggak apa-apa.”

“Siap.”

Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.

***

Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Persetan dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Terlihat begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.

Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih cross check tadi. Theo merasa semakin lama beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun semakin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu dan mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya.

Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggunya saat ini Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia yang hampir limbung membentur pintu.

“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.

“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.

“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”

Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.

Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun lo!”

Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.”

“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”

“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak jadi korban. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”

“Mas, lebih baik kita putar balik saja,” tawar sang supir khawatir.

Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”

“B-baik, Mas.”

“Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai,” pesan Theo panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk sebagai persetujuan.

Ia kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Theo pun melangkah menghampiri Miguel yang sepertinya sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.

Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar melangkah. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.

“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.

“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,” jawab Theo.

Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.

“Saya pacarnya.”

“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”

“Dia lagi nggak bisa diganggu,” ujar Theo, kalimat itu terdengar seperti omong kosong di telinga Miguel. “Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.” Ia melanjutkan ucapannya.

“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo, baginya itu teramat menggelitik. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!” tantang lelaki itu seraya menunjuk-nunjuk pipinya. “Dan kalau lo beneran mukul gue, gue pastiin lo mati,”

Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga. Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.

Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatan dia. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, gue nggak masalah, kita pake rama-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, baru abis itu gue pake bekasan lo. Gimana?”

Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.

“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.

Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”

“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.

Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan Theo langsung kalah tepat ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.

“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan banyak pukulan kepada lelaki itu.

Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempasnya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah. Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine mendekat, lelaki itu mendongak guna lebih menajamkan indera pendengarannya.

Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa. Sebelum Miguel sempat membalas, polisi sampai dan memisahkan pertarungan keduanya.

Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang pun turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu, menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.

Di tengah keributan itu, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.

Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”

“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Sengaja mau bikin aku jantungan gara-gara nontonin kamu dipukulin orang gila? Iya?”

“Iya aku sengaja, karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar. Kita impas kan sekarang?” ujar Theo yang dibalas delikan tajam oleh Cynthia.

Di sisi lain, supir taksi pun selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.

“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.

Saat hendak di bawa menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari mengacungkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya terancam. Cynthia yang justru lebih dulu menyadarinya. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin, mengganti posisi keduanya dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi lelaki itu dari serangan Miguel.

Dalam sekejap, Cynthia merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan refleks keluar dari celah bibirnya. Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, namun ia langsung memekik saat menemukan Miguel berada persis di balik tubuh gadisnya sembari menggenggam sebuah pisau yang telah berlumuran darah. Petugas kepolisian pun tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu tertindak lebih jauh.

“Cin ... kamu berdarah banyak!” pekik Theo panik, saking paniknya ia sampai menangis. “Tolong, siapapun, tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!” teriaknya lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan itu dengan kedua tangan.

Cynthia bertutur lemah, “Bubu, it's okay. Don't cry.”

Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang bersamaan dengan tangisan Theo yang bertambah nyaring.



Pulau Dewata yang menyandang status sebagai destinasi liburan impian, sekarang tak lebih dari sekadar neraka dunia bagi Cynthia. Pupus sudah segala ekspektasi tentang bekerja sembari liburan yang ia idam-idamkan. Jangankan liburan, sekadar beristirahat dengan tenang di kamar hotel saja ia tak bisa. Banyak teror-teror yang ia alami sejak menginjakkan kaki kemari, meski pada awalnya Cynthia tak menyadari bahwa dirinya tengah diintai oleh seseorang, namun hal tersebut terungkap juga pada akhirnya.

Bagai menelan pil pahit, ia mendapati fakta bahwa segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh sebuah hotel ternama tempatnya berada ternyata adalah bagian dari rencana busuk Miguel. Ya, setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya, lelaki itu kembali menampakkan diri. Seperti ledakan bom waktu tersembunyi, kehadirannya sama sekali tak mampu diprediksi setelah hari-hari tenang berhasil Cynthia lalui.

Di sinilah Cynthia sekarang, mengunci diri di kamar hotel yang ia tempati. Bersuara sepelan mungkin, menjelaskan garis besar rencana melarikan diri yang sudah ia susun sedemikian rupa kepada sang kekasih lewat sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut-takut benda itu mendadak terbuka akibat ulah lelaki gila yang mungkin sedang mengincarnya di luar sana.

“Chat dari Miguel tadi belum aku bales kan ya, nah nanti aku bakal negosiasi minta dia temuin aku besok aja. Kalau dia setuju dan pergi dari depan kamarku, barulah aku bakal nyelinap keluar secara diem-diem.” Cynthia menjelaskan.

“Kalau sampai keciduk gimana?” Theo mengajukan tanya.

“Tenang, kemungkinan itu juga udah aku pikirin solusinya,” tutur Cynthia mantap. “Kamu inget nggak waktu aku ngerasa diikutin seseorang di pantai?” sambungnya dengan tanya.

“Inget. Dan itu bukan sekedar perasaan kamu doang, kamu beneran diikutin, Miguel pelakunya.”

“Yeah I know, cuma bukan itu pointnya.”

“Terus apa?”

“Karena aku parno banget waktu itu, akhirnya aku mutusin mampir ke minimarket buat beli merica.”

“Ya, terus? Hubungannya merica sama Miguel apa?”

“Ck.” Cynthia berdecak mendengar pertanyaan polos terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. “Buat aku lemparin ke mukanya lah. Abis itu aku kabur!”

“Tapi kan ....”

“Ssst, aku nggak nerima sanggahan apapun. Pokoknya serahin semua sama aku, for you information aku bisa nendang selangkangan orang tepat sasaran. Jadi jangan khawatir, okaaay?”

“Hmm,” respons Theo singkat. “By the way, aku udah sampe depan hotel nih. Di taksi warna putih, plat nomornya DK 0127 EA.”

“Oke, meluncur!”

“Teleponnya jangan ditutup.”

“Kenapa?”

“Cuma pengen temenin kamu. Oh iya, handphone-nya nggak usah dipegang, cukup taro di saku dan jangan dimute.”

Cynthia mengangguk sebagai persetujuan, namun saat tersadar bahwa Theo tak bisa melihatnya ia berkata. “Iya, asal kamu jangan nekat nyamperin aku sekalipun aku ada di situasi mendesak, just let me handle it by myself. Deal?”

“Deal.”

“Good. Sekarang aku mau chat Miguel, buat minta negosiasi palsu. Wait a little longer.” Cynthia lalu membuka aplikasi chatting di ponselnya, hendak membalas pesan Miguel yang sempat tak ia gubris tadi.

Unknown > Sekarang buka pintu kamar lo > Let me in > Or I'll do it my way

Cynthia berdecak sebal tatkala membaca ulang pesan tersebut, kemudian tanpa berlama-lama lagi ia ketik sebuah balasan untuknya.

Cynthia > Can you stop bothering me just for tonight? > Please, ini udah malem > Biarin gue tidur dengan tenang dan enyah dari depan kamar hotel gue > If you want to see me, do it tomorrow > Tapi lo harus janji untuk gak ngelakuin hal gila

Tak berselang lama pesan itu terkirim, Cynthia langsung mendapat balasan.

Unknown > As you wish, baby > Sleep tight and see you tomorrow

Usai membaca balasan tersebut, Cynthia bergidik. Entah mengapa dua bubble chat itu terlihat sangat menggelikan ketika Miguel yang mengirimnya. Padahal kalau dipikir ulang, Theo bahkan lebih sering mengirim pesan serupa dan tetap terlihat menggemaskan di matanya.

Namun, terlepas dari itu semua, respons Miguel sungguh di luar ekspektasi. Cynthia tak menyangka lelaki itu bisa dengan mudah mengabulkan permintaannya, ia kira akan sulit untuk menipu lelaki itu.

“Gimana, Cin?” Suara Theo yang terdengar samar di ujung telepon sukses membuyarkan lamunan singkat Cynthia. Segera ia tempelkan kembali ponsel itu ke daun telinganya.

Cynthia tersenyum sumringah. “Di luar dugaan, Miguel ternyata gampang diatasi.”

“Good then. Sekarang cek dulu, apa dia masih ada di depan kamar atau beneran udah pergi. Kalau aman, baru kamu cepet-cepet keluar dari sana,” titah lelaki itu.

“Okay, I’ll be right back, handphone-nya mau aku masukin saku.”

“Hati-hati.”

“Heem, kamu stand by ya. Biar nanti kita bisa langsung jalan.”

Memastikan ponselnya masuk saku dengan aman, Cynthia lalu beranjak ke arah pintu keluar, memutar kunci sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara dan memastikan keadaan sekitar. Gadis itu menghela napas lega karena tidak menemukan siapapun di sana, perlahan dirinya melangkahkan kaki memasuki lift di pertengahan lorong.

Begitu menutup pintu lift, ia langsung menekan angka satu. Tak memakan waktu lama, lift pun kembali terbuka di lantai tujuannya. Cynthia keluar dengan langkah besar juga senyuman yang tak kalah lebar, namun pergerakannya terhenti sebab pergelangan tangan kirinya di tarik seseorang, tubuhnya dipaksa berbalik. Lalu ia menemukan wajah seseorang yang paling tidak ingin ia temui, Miguel Dewantara.

“Mau kemana malem-malem gini? Bukannya tadi bilang mau tidur? Oh, atau tidurnya mau di kamar gue? Ayo deh kalau itu mau lo.”

“Nggak! Lepasin gue sekarang.” ucap Cynthia penuh penekanan, mencoba melepas cekalan lelaki itu.

Miguel menatap Cynthia dan mengangguk, “Iya, bakal gue lepas kok. Tapi nanti setelah lo udah ada di kamar gue.”

“Sinting ya lo? Lepas atau gue teriak?”

“Teriak aja, gue jamin nggak ada seorang pun yang bakal bantu lo di sini. Lupa, ya? Gue yang punya hotel ini.” Miguel tersenyum miring. “Udahlah, nggak ada gunanya lo terus-terusan lari dari gue. Karena akan selalu ada cara untuk gue bisa nemuin lo di mana pun. Mending lo nurut, dan gue bakal memperlakukan lo sebaik mungkin. Inget, cewek baik akan diperlakukan baik. Jadi sekarang ikut gue dengan tenang, oke?” Lelaki itu membawa Cynthia mengikuti langkahnya, semakin mencengkram pergelangan gadis itu dengan tenaganya yang kuat. Cynthia tak kehabisan akal begitu saja diperlakukan begitu, sebelah tangan lain ia gunakan untuk menggeledah saku celana tempat senjata darurat tersimpan.

Gadis itu menerbitkan senyum penuh kemenangan setelah berhasil meraih benda itu.

“Miguel,” panggilnya.

Saat Miguel menoleh, ia lemparkan bubuk merica itu tepat ke arah matanya.

“Anjing!” erang Miguel. “Lo ngelempar apa ke mata gue, cewek sialan?” Miguel berteriak lantang. Cengkraman tangannya mengendur, ia sibuk mengucek-ngucek kedua bola mata yang terasa begitu perih. Kesempatan itu tentu tak Cynthia sia-siakan begitu saja, ia langsung melesat menuju pintu keluar seraya bersorak dalam hati.

Di luar hotel, ia langsung bisa menemukan keberadaan taksi dengan ciri-ciri persis sebagaimana yang dijabarkan Theo. Pintu belakangnya terbuka, samar-samar netranya menangkap siluet lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya di dalam sana. Cynthia bergegas masuk, takut Miguel keburu menyusulnya. Setelah ia sudah duduk nyaman, taksi pun melaju membelah jalanan kota Bali yang lenggang dengan kecepatan sedang.


“Teleponnya kenapa dimatiin?” Pertanyaan itu sudah serupa sambutan yang dilontarkan Theo sewaktu Cynthia baru sampai dihadapannya.

“Hah? Nggak kok, sumpah.”

Bola mata bulat kepunyaan Theo memicing, “Jangan pura-pura nggak tau.”

“Serius, astaga. Gara-gara aku naik lift, kali? Biasanya di lift emang minim sinyal.” Cynthia membela diri.

Theo hanya merespons dengan anggukan, tak berselang lama ia kembali memperhatikan gerak-gerik Cynthia. “Sekarang coba jelasin, kenapa kamu ngos-ngosan gini? Habis marathon kah?”

“Abis ketemu setan.”

“Serius dong, Cin.”

“Lah orang aku serius, nama setannya Miguel btw.”

Theo terbelalak, “Kamu ketemu Miguel, dan respon kamu sesantai ini?”

“Aku nggak santai, Bubu. Buktinya tadi aku lari.”

“Hmm, iya juga sih. Tapi kok dia nggak ngejar kamu? Kayak ... dia tobat kah dan berbaik hati biarin kamu pergi?”

Mendengar pertanyaan Theo, Cynthia menautkan kedua alisnya. “Seorang Miguel biarin aku pergi itu sama mustahilnya kayak bersin sambil buka mata, tau nggak?” jawab Cynthia ketus. “Boro-boro dibolehin pergi, yang ada pergelangan tangan aku dicengkram kuat banget sampai jadi merah gini, nih lihat!” Gadis itu menunjukkan hasil perbuatan Miguel pada tangannya. Dan benar, setelah Theo periksa, garis merah tampak melintang di area yang disebutkan Cynthia.

“Pasti sakit. Maaf ya? Aku nggak ada di sana untuk bantu kamu. Kalau aja sambungan teleponnya nggak keputus ...,” lirihnya penuh sesal, ia meraih sebelah tangan sang pacar dan mengusap pelan sumber sakitnya.

“Bukan salah kamu kok, lagian ada untungnya juga sih telepon kita keputus. Kamu jadi nggak tau aku dicegat Miguel. Kalau sampai tau kan gawat, kamu pasti nekat nyusulin aku ke dalem.” Ya, untung saja. Karena apabila kedua lelaki itu bersitatap langsung, Cynthia khawatir Miguel akan benar-benar melakukan hal gila seperti apa yang lelaki itu ancamkan melalui chat.

“Aku bersyukur kamu nggak kenapa-napa.” Theo menatap Cynthia penuh arti.

“Semua berkat kamu juga. Makasih karena bela-belain dateng ke sini, padahal Bandung-Bali jauh loh? Mana kamu sampai repot ambil penerbangan terakhir supaya bisa cepet sampai sini.” Cynthia mengelus puncak kepala Theo penuh sayang sebagai tanda terima kasih.

“Bukan masalah besar kok.” Ucapan Theo terjeda. “Malah aku seneng bisa mastiin keadaan kamu secara langsung.”

“Kamu ke sini cuma buat mastiin keadaan aku doang? Nggak kangen gitu?”

“Yakin masih perlu jawaban atas pernahnya yang udah jelas kamu tau jawabannya?”

“Ya jelas perlulah! Aku butuh validasi.”

“Cih, dasar.” Theo berdecih, “Jawabannya, iyaaa aku kangen kamu bangeeeet, sampai mau meninggooooy,” ujar Theo hiperbolis.

“Hmm, real kah?”

“Real dong, Min. Perlu cross check?”

“Boleh. Sini biar aku cross check sendiri.” Cynthia rentangkan tangannya, bermaksud menawarkan sebuah peluk yang sudah dua pekan tak bisa keduanya nikmati.

Theo menyambut pelukan itu penuh sukacita, “Hehehe anget. Kalau bisa cross check-nya yang teliti ya? Lama juga nggak apa-apa.”

“Siap.”

Dan begitulah cara keduanya melepas rindu, berpelukan sampai lupa bahwa di dalam taksi yang mereka tumpangi masih ada supir yang tengah mengemudi.

***

Entah sudah berapa lama taksi ini berjalan, dan entah sudah berapa banyak nominal angka yang tertera di argometer. Theo tidak tahu pasti, juga tak ingin menaruh peduli. Persetan dengan semua, ia hanya ingin lebih lama memerhatikan wajah Cynthia yang berkali lipat lebih lucu saat tertidur pulas. Terlihat begitu polos, seperti anak kecil yang tak perlu banyak usaha untuk mendapat kasih sayang.

Sekilas informasi, saat acara pelukan berdalih cross check tadi. Theo merasa semakin lama beban tumpuannya semakin lama semakin bertambah, kedua lengan Cynthia yang melingkar di perutnya pun semakin mengendur. Dengan rasa inisiatif penuh, ia pun memeriksa keadaan gadis itu dan mendapati Cynthia sudah tertidur pulas dalam dekapannya.

Di tengah gempuran rasa kantuk yang membelenggunya saat ini Theo tetap berusaha membuka mata demi memastikan tidur Cynthia terjaga. Ia terlalu fokus pada dunianya sendiri, sampai tak mampu bersiap di saat taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti. Untung saja sebelah tangannya berhasil menahan kepala Cynthia yang hampir limbung membentur pintu.

“Aduh maaf, Mas, saya ngerem mendadak. Itu ada motor nyalip dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti halangi jalan kita,” jelas sang supir taksi.

“Nggak apa-apa, pak. Klakson aja suruh minggir, biar kita bisa cepet sampai,” pinta Theo, lalu kembali membetulkan posisi Cynthia.

“Anu, Mas, tapi orangnya malah jalan ke sini.”

Mendengar nada kekhawatiran dari ucapan pak supir, Theo refleks mendongak. Kedua matanya mencari seseorang yang dimaksudkan, sampai ia menemukan sosok Miguel di sana, tepat di depan taksi yang ia tumpangi.

Lelaki itu mengetuk kaca depan. “Turun lo!”

Melihat bapak supir bersiap turun, Theo segera mencegahnya. “Pak, biar saya aja yang turun. Bapak diem di sini dan tolong jaga pacar saya.”

“Tapi, Mas, bagaimana kalau orang itu punya niatan jahat?”

“Justru itu, karena saya tau dia orang jahat saya nggak mau bapak jadi korban. Dia mengincar saya, Pak. Jadi alangkah lebih baik, saya yang langsung berhadapan dengan dia.”

“Mas, lebih baik kita putar balik saja,” tawar sang supir khawatir.

Theo menggeleng, “Nggak perlu, Pak, percuma, dia tetap bakal kejar saya kemanapun saya pergi,” tolaknya, ia tahu betul tabiat Miguel, maka dari itu ia merasa harus menghadapinya sekarang. “Kalau bapak memang khawatir, bisa tolong hubungi polisi selagi saya bicara dengan orang itu?”

“B-baik, Mas.”

“Satu lagi, Pak. Apapun yang terjadi dengan saya nanti, jangan pernah keluar dari sini sampai polisi datang. Sekali pun pacar saya bangun dan maksa-maksa bapak buat buka pintunya, cukup tebalkan telinga dan jangan ikuti maunya dia. Atau kalau bapak merasa sudah ada dalam situasi terancam, mending langsung tancap gas aja cari tempat ramai,” pesan Theo panjang lebar, sementara bapak supir hanya mengangguk sebagai persetujuan.

Ia kemudian membaringkan Cynthia perlahan ketika sudah mendapat persetujuan dari bapak supir. Theo pun melangkah menghampiri Miguel yang sepertinya sudah menunggu kehadiran dirinya di luar sana.

Suasana jalanan begitu sepi, barangkali karena waktu sudah memasuki dini hari. Kendati demikian, Theo tak gentar melangkah. Jikapun harus terlibat perkelahian dengan Miguel, ia pastikan, kali ini tak akan kalah.

“Mana Cynthia? Lo bawa kabur kan? Suruh dia keluar.” Tanpa salam pembuka, Miguel langsung melempar tanya.

“Bicara sama saya aja, jangan ganggu dia,” jawab Theo.

Miguel tampak tak senang mendengar jawaban tersebut. “Lah, orang gue cuma punya kepentingan sama dia, lo ngapain ikut campur?” ucapnya sinis.

“Saya pacarnya.”

“Persetan! Mau lo pacarnya, abangnya, adeknya, atau peliharaannya sekali pun, gue nggak peduli. Gue cuma mau minta perhitungan sama dia. Enak aja setelah bikin mata gue hampir buta karena dilempar merica, dia malah kabur gitu aja.”

“Dia lagi nggak bisa diganggu,” ujar Theo, kalimat itu terdengar seperti omong kosong di telinga Miguel. “Mending sekarang kamu pergi, sebelum kesabaran saya habis.” Ia melanjutkan ucapannya.

“Woaah.” Miguel bertepuk tangan mendengar ancaman dari mulut Theo, baginya itu teramat menggelitik. “Emang kalau kesabaran lo habis, lo mau apa? Mau pukulin gue? Pukul, nih! Pukul!” tantang lelaki itu seraya menunjuk-nunjuk pipinya. “Dan kalau lo beneran mukul gue, gue pastiin lo mati,”

Miguel hendak melangkahkan kaki ke arah taksi, namun segera di hadang Theo. “Minggir.” Ia mendorong tubuh Theo sekuat tenaga. Namun Theo justru menarik baju belakang Miguel, mencegah lelaki itu agar tak melangkah lebih jauh lagi.

Yang ditahan berdecak, “Gue udah nyuruh lo minggir kan? Dia nggak bakal gue apa-apain, palingan juga gue perkosa sampai nangis sebagai hukuman perbuatan dia. Jalang nggak tau diri kayak dia emang sekali-kali perlu dikasih pelajaran biar nggak sok jual mahal lagi. Oh, atau lo mau ikut nyicip? Ayo deh, gue nggak masalah, kita pake rama-rame. Nanti biar lo yang pake duluan, baru abis itu gue pake bekasan lo. Gimana?”

Amarah Theo memuncak ketika Miguel beserta mulut kotornya begitu gamblang melecehkan gadis yang selama ini sangat ingin ia jaga kehormatannya, dan dengan kekuatan penuh, ia daratkan tinju ke wajah lelaki itu.

“Jaga mulut kamu, brengsek!” Theo benar-benar mengibarkan bendera perang sesaat setelah ia berucap demikian. Kedua matanya mengkilat, aura membunuh sangat mendominasi dirinya. Tak puas hanya memberi satu pukulan, ia kembali menghujani Miguel dengan serangan bertubi-tubi.

Miguel jelas tak terima, ia lantas mengirim serangan balik. Tak kalah ganas ia gencarkan beberapa tinju ke wajah Theo sembari berkata, “Lo ngambil keputusan salah, Theo. Lo bakal mati karena berani nantang gue, dan lo tau apa yang terjadi setelah lo mati? Cewek lo, bakal gue jadiin lacur pribadi gue.”

“Kita lihat siapa yang bakal mati, saya atau bajingan macam kamu.” Theo menendang kedua kaki Miguel, hingga lelaki itu tersungkur ke tanah. Setelahnya, ia kembali menyerang secara konstan. Pergerakannya yang begitu lincah, cukup membuat sang lawan kewalahan menepis serangannya.

Sungguh di luar dugaan Miguel, kemampuan bertarung Theo ternyata meningkat pesat. Ia sama sekali tak mampu memprediksi hal tersebut, karena terakhir kali mereka berhadapan Theo langsung kalah tepat ketika dirinya melancarkan serangan balik. Kini Miguel terpojok, wajahnya sudah berhiaskan luka lebam, lebih parah dari kepunyaan Theo yang semula ia remehkan.

“Sialan.” Hanya itu yang mampu Miguel lontarkan, sambil masih berusaha mengalahkan Theo dengan mengarahkan banyak pukulan kepada lelaki itu.

Perkelahian keduanya semakin sengit, Theo daratkan bogeman mentah di rahang bawah Miguel, dibalas Miguel yang menjambak rambutnya brutal, lalu menghempasnya ke tanah. Hal itu membuat pelipis Theo terbentur pada bemper taksi, tubuhnya pun mendarat dengan tak selamat ke tanah. Miguel mulanya hendak meninju kembali, namun fokusnya terpecah saat mendengar suara sirine mendekat, lelaki itu mendongak guna lebih menajamkan indera pendengarannya.

Kesempatan itu Theo manfaatkan sebaik mungkin, tanpa mempedulikan denyutan sakit di pelipisnya, ia bangkit, menendang perut Miguel sekeras yang ia bisa. Sebelum Miguel sempat membalas, polisi sampai dan memisahkan pertarungan keduanya.

Supir taksi yang diminta Theo untuk tetap mengunci rapat taksinya sampai pihak kepolisian datang pun turut hadir menampakkan eksistensi. Pria paruh baya itu, menjelaskan kesaksiannya sedetail mungkin kepada pihak berwajib.

Di tengah keributan itu, Theo menemukan presensi Cynthia. Gadis itu berada di samping pintu belakang taksi yang terbuka, berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

“Pelipis kamu berdarah, Bubu.” Cynthia berkata pelan. Bisa Theo dengar nada suaranya bergetar, seperti tengah menahan tangis.

Theo refleks memegang pelipisnya, “Emang iya? Aku nggak sadar.”

“Kenapa nggak bangunin aku sih? Dan kenapa kamu minta bapak supirnya ngunciin aku di dalem sementara kamu berantem di luar? Sengaja mau bikin aku jantungan gara-gara nontonin kamu dipukulin orang gila? Iya?”

“Iya aku sengaja, karena aku tau kalau kamu bangun dan nemuin aku berantem sama Miguel, kamu bakalan nekat keluar. Kita impas kan sekarang?” ujar Theo yang dibalas delikan tajam oleh Cynthia.

Di sisi lain, supir taksi pun selesai memberi kesaksiannya sebagai pelapor. Akhirnya pihak kepolisian menjadikan Miguel tersangka utama, dan memutuskan untuk membawanya ke kantor polisi agar bisa dimintai keterangan lebih lanjut.

Tak terima karena merasa dikambinghitamkan, Miguel mengajukan protes. “Tapi brengsek itu duluan yang mukul saya, Pak!” bentaknya tak ingin kalah.

“Saudara bisa menjelaskan detailnya lebih lanjut di kantor polisi, saat ini kami memohon agar saudara bersedia ikut kami tanpa perlawanan,” pinta salah seorang petugas kepolisian berkumis tebal.

Saat hendak di bawa menuju mobil polisi, Miguel memberontak. Ia berlari ke arah Theo sembari mengacungkan sebilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. Pergerakan Miguel terlalu cepat, bahkan Theo yang menjadi target sama sekali tak sadar bahwa keselamatannya terancam. Cynthia yang justru lebih dulu menyadarinya. Ia refleks mendekap tubuh Theo seerat mungkin, mengganti posisi keduanya dengan menjadikan tubuh bagian belakangnya tameng guna melindungi lelaki itu dari serangan Miguel.

Dalam sekejap, Cynthia merasakan benda tajam mengoyak punggung sebelah kirinya, badannya terdorong ke depan disusul ringisan tertahan refleks keluar dari celah bibirnya. Theo pada awalnya bingung mendapat pelukan secara tiba-tiba, namun ia langsung memekik saat menemukan Miguel berada persis di balik tubuh gadisnya sembari menggenggam sebuah pisau yang telah berlumuran darah. Petugas kepolisian pun tak tinggal diam melihat kejadian itu, mereka segera meringkus Miguel sebelum lelaki itu tertindak lebih jauh.

“Cin ... kamu berdarah banyak!” pekik Theo panik, saking paniknya ia sampai menangis. “Tolong, siapapun, tolong hubungi ambulans! Pacar saya luka, dia kehilangan banyak darah!” teriaknya lagi seraya berusaha mengentikan pendarahan itu dengan kedua tangan.

Cynthia bertutur lemah, “Bubu, it's okay. Don't cry.”

Usai berkata demikian, pandangan gadis itu memburam. Kesadarannya menghilang bersamaan dengan tangisan Theo yang bertambah nyaring.


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lumayan lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai rasa gengsi sang pacar yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oke oke, jangan ngegas dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi, loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngalir deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kamu jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“UAS mah seminggu juga beres kali.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Gadis itu berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk, mungkin itu telepon dari orang penting? Entahlah, Bubu sama sekali tak bisa mendengar apa hal yang dibicarakan Cynthia bersama sang penelepon itu.

Setelah cukup lama berbincang, kekasihnya itu melangkahkan kaki kembali arahnya. “Siapa?” Bubu bertanya dengan penuh rasa penasaran, sepulang Cynthia ke hadapannya.

Raut Cynthia berubah pilu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Kalau boleh jujur, dirinya juga enggan berpisah jauh dengan lelaki kesayangannya. Bagi Cynthia, dua minggu adalah waktu yang sangat lama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua tuntutan pekerjaan, ketika ia setuju dan mendatangani kontrak dengan hotel yang menawarkannya kerjasama, tandanya ia juga setuju dengan segala konsekuensi yang harus di hadapi, termasuk merelakan diri mengikuti perjalanan bisnis di luar kota seperti sekarang ini.

Sadar bahwa tak banyak waktu tersisa, Cynthia meraih koper diikuti Bubu yang beranjak untuk menyamakan posisi dengan kekasihnya. Pemuda itu menatap Cynthia yang juga sedang memfokuskan pandangan ke arahnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Oh okaaay. Tapi kenapa mesti izin segala sih? Padahal langsung aja—” kalimatnya terputus, selanjutnya ia menelisik pandang ke segala arah.

Usai memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. “—kayak gini,” ujarnya melanjutkan kalimat rumpang tadi sambil tersenyum lebar. Ia senang, hatinya merasa menang karena sudah berhasil menggoda sang pacar hingga lelaki itu kebingungan.

Bubu yang baru mampu mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, ia tersenyum miring, adrenalin dalam dirinya terpacu, dan tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya hendak protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Nah kan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.

“Kamu sakit. Nggak usah pergi, ya? Aku punya firasat buruk soal ini.” Bubu berujar pelan.

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, nanti kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di sana. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja. Jangan mikir yang aneh-aneh terus, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Nah kan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.

“Kamu sakit. Nggak usah pergi, ya? Aku punya firasat buruk soal ini.” Bubu berujar pelan.

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, nanti kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di sana. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja. Jangan mikir yang aneh-aneh terus, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”

Nggak Usah Pergi, Ya?


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Nah kan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.

“Kamu sakit. Nggak usah pergi, ya? Aku punya firasat buruk soal ini.” Bubu berujar pelan.

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, nanti kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di sana. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja. Jangan mikir yang aneh-aneh terus, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lumayan lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai rasa gengsi sang pacar yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oke oke, jangan ngegas dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi, loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngalir deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kamu jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“UAS mah seminggu juga beres kali.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Gadis itu berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk, mungkin itu telepon dari orang penting? Entahlah, Bubu sama sekali tak bisa mendengar apa hal yang dibicarakan Cynthia bersama sang penelepon itu.

Setelah cukup lama berbincang, kekasihnya itu melangkahkan kaki kembali arahnya. “Siapa?” Bubu bertanya dengan penuh rasa penasaran, sepulang Cynthia ke hadapannya.

Raut Cynthia berubah pilu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Kalau boleh jujur, dirinya juga enggan berpisah jauh dengan lelaki kesayangannya. Bagi Cynthia, dua minggu adalah waktu yang sangat lama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua tuntutan pekerjaan, ketika ia setuju dan mendatangani kontrak dengan hotel yang menawarkannya kerjasama, tandanya ia juga setuju dengan segala konsekuensi yang harus di hadapi, termasuk merelakan diri mengikuti perjalanan bisnis di luar kota seperti sekarang ini.

Sadar bahwa tak banyak waktu tersisa, Cynthia meraih koper diikuti Bubu yang beranjak untuk menyamakan posisi dengan kekasihnya. Pemuda itu menatap Cynthia yang juga sedang memfokuskan pandangan ke arahnya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Oh okaaay. Tapi kenapa mesti izin segala sih? Padahal langsung aja—” kalimatnya terputus, selanjutnya ia menelisik pandang ke segala arah.

Usai memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. “—kayak gini,” ujarnya melanjutkan kalimat rumpang tadi sambil tersenyum lebar. Ia senang, hatinya merasa menang karena sudah berhasil menggoda sang pacar hingga lelaki itu kebingungan.

Bubu yang baru mampu mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, ia tersenyum miring, adrenalin dalam dirinya terpacu, dan tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya hendak protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.


Usai mendapat pesan dari Bubu yang sudah berada di depan unit apartemennya, Cynthia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sebisa mungkin bergerak cepat menuntaskan urusan cuci muka dan sikat giginya agar sang pacar tak menunggu lama. Tapi, ketika hampir selesai, Cynthia tiba-tiba merasakan sakit di area bawah perutnya. Bukan jenis mulas ingin buang air ataupun maag. Ia jelas tahu betul, ini rasa sakit jenis apa.

Segera ia cek, dan ternyata dugaannya benar. Tamu bulanannya datang pagi ini. Pantas saja, sejak terbangun secara spontan karena bunyi bel rumah disertai dering panggilan tak terjawab dari Bubu, Cynthia merasakan badannya pegal dan linu. Belum lagi, mood-nya mendadak buruk tanpa alasan jelas. Cynthia menghela napas gusar, ia terpaksa mendekam sedikit lama di dalam bilik toilet. Tolong ingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Bubu karena membuat lelaki itu lebih lama menunggu.

“Maaf lama.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Cynthia sesaat setelah dirinya membukakan pintu apartemen untuk Bubu. Bukan menampakkan raut bersalah, gadis itu malah menampakkan cengiran lebar seolah kata maaf hanya digunakan sebagai ajang basa-basi saja.

Alis Bubu menukik tajam. “Sumpah ya, rasanya aku mau dobrak pintu apart aja tadi saking takut kamu pingsan di dalem.”

“Lebay deh, orang aku gapapa.”

“Kamu tuh ya, orang khawatir malah dikatain lebay.” Bubu cemberut, melayangkan protes lengkap dengan bibir yang mengerucut. “Aku bilang juga apa, bukain pintu dulu, bukain pintu dulu, tapi kamu nggak mau gubris. Kalau aku udah masuk mah kamu mau ngapain juga terserah. Masalahnya di luar tuh dingin banget! Lihat nih, bulu kuduk aku hampir berdiri semua karena kedinginan.” sambungnya lalu kembali bergidik saat sentuhan udara dingin menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cuaca di kota tempatnya tinggal memang cukup ekstrim belakangan ini, hujan tak pernah absen turun semalaman, ditambah letak geografis kota ini berada di wilayah dataran tinggi. Sungguh perpaduan yang membayangkannya saja mampu mengundang rasa ingin buang air kecil datang. Teganya Cynthia yang lebih memilih menuntaskan rutinitas pagi tanpa membiarkan Bubu masuk ke apartemen hangatnya terlebih dulu, alasannya karena tak ingin Bubu melihat penampilan khas bangun tidur gadis itu yang acak-acakan.

Cynthia memandang lelaki di hadapannya tanpa kata, pun tak berniat menyanggah ocehan yang dilontarkan Bubu. Karena bagaimanapun ini memang salahnya.

Memastikan pemuda itu tak'kan lagi berbicara, Cynthia pun angkat suara. “Kalau dingin cepetan masuk dong sayang, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di sini?” ujarnya menahan gemas, berusaha menahan diri untuk tidak refleks meraup bibir merah muda yang tengah membentuk kerucut itu dengan kelima jarinya.

Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, Cynthia pun berinisiatif menuntun lelaki itu menuju ruang tamu. Bahkan saat keduanya sudah duduk saling berhadapan, tak ada satu patah kata pun terlontar di antara mereka.

Ingin mengusir hening sekaligus memohon maaf, Cynthia membuka obrolan disertai perasaan bersalah. “Bubu maafin aku.” Ada rasa sesal yang turut terselip disela ucapannya.

“Untuk?”

“Bikin kamu nunggu lama, padahal di luar dingin.” Memang salahnya tidak membiarkan Bubu masuk, tapi lelaki itu juga salah karena hanya mengenakan pakaian tipis tanpa rangkapan sweater atau jaket. Sudah tahu suhu di luar apartemen tadi sangat dingin. “Kamu juga aneh sih, udah tau cuacanya lagi nggak bagus kenapa cuma kaosan doang?” omelnya mengekspresikan kekesalan.

“Jaketnya ketinggalan di mobil,” jawabnya singkat.

Cynthia menggeleng tak habis pikir. “Kebiasaan dasar pelupa.”

“Kamu juga kenapa lama? Bangun candi dulu kah?”

“Aku mens, baru hari pertama, jadi mesti bersih-bersih dulu.” Bubu hanya ber-oh ria.

Hatinya melunak sesudah menerima penjelasan dari Cynthia. Kasian juga, pikirnya. Walau ada sedikit rasa dongkol, namun sekarang rasa khawatir lebih mendominasi. Yang Bubu tahu, hari pertama menstruasi adalah neraka dunia bagi semua wanita.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang muncul di benak Bubu. “Kamu mau dimaafin, kan?”

“Mau,” angguk Cynthia.

Dengan senyum tipis menghias wajah rupawannya, lelaki bermata bulat itu mengajukan syarat. “Peluk.”

“Apa?” Mata Cynthia mengedip berkali-kali, berusaha mencerna maksud kalimat yang dikatakan lawan bicaranya.

“Ish! Kamu peluk aku sini, tanggung jawab ilangin dinginnya,” ketus Bubu sembari menghela napas.

Sadar akan maksud lelaki di hadapannya, Cynthia tersenyum miring. “Oh, ini modus varian baru, ya?” Ia menatap Bubu, kedua alis yang sengaja dinaik-turunkan.

Merespon ejekan sang pacar, Bubu berujar santai. “Aku nggak maksa sih. Kalau nggak mau dimaafin ya udah, terserah.”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya. Diiringi senyuman lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati.

“Gimana? Anget?” Cynthia mendongak, menanti jawaban.

“Belum, harus yang lama.” pinta Bubu tanpa tahu malu. Kenapa pula ia harus malu? Tak ada salahnya kan berbagi pelukan dengan pacar sendiri?

“Mau selama apa?”

“Selama-lamanya.”

“Dih maruk.”

Bubu berpikir sejenak. “Hm, selama kamu nelantarin aku di luar aja kali ya? Berapa menit sih tadi?”

“Terus aja diungkit, aku kan udah minta maaf,” protes gadis itu tak terima.

“Aku nggak bilang udah maafin tuh.” Bubu mengedikkan bahu.

“Kok gitu.”

Melepas rengkuhan sekejap, Bubu meraih kedua pipi gadisnya. “Kalau mau dimaafin, ininya diem.” Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. “Biar aku isi baterai dulu sebelum kamu tinggal lama.” Bubu menatap kedua iris mata gadisnya lembut, seolah sengaja ingin menenggelamkan diri ke dalamnya.

Salah tingkah ditatap terlalu lamat, Cynthia menundukan pandangannya sebab malu. “Sesuka hati kamu aja deh.”

“Oke, kalau kamu maunya begitu.” Bubu menyeringai jahil kemudian semakin mengeratkan pelukan, sehingga wajah sang gadis kesayangan tenggelam pada dada bidangnya.

Merasa sesak akibat didekap terlalu erat, Cynthia langsung melayangkan protes. “Engap woy, kamu sengaja mau bikin aku sesak napas terus mati ya? Lepaaas, demi Tuhan ini sesak,” ujarnya dengan suara teredam, ia menepuk-nepuk punggung Bubu sedikit keras guna melepaskan diri dari kungkungan lelaki yang tengah mendekapnya erat.

Cynthia heran sekali, mengapa Bubu selalu jadi oknum perusak suasana romantis nan intim yang terjalin antara mereka berdua? Padahal ia sudah melebur akibat tatapan Bubu yang seolah mengajaknya terbang mengelilingi angkasa.

Karena kasihan, Bubu melepas pelukan. Ia tersenyum lebar, lantas mendaratkan kedua tangan pada masing-masing sisi bahu Cynthia.

“Kram nggak?” tanyanya tanpa konteks yang jelas.

“Hah? Apa yang kram?”

Pandangan Bubu tertuju ke arah perut rata Cynthia, “Perut kamu. Biasanya cewek yang lagi PMS perutnya suka sakit, terlebih waktu hari pertama dapet kayak kamu sekarang ini.”

Tuhkan, sikapnya berubah lagi, batin Cynthia menilai. Ia heran, apa kekasihnya ini punya semacam kepribadian ganda? Mengapa bisa secepat itu berubah dari mode menyebalkan ke mode perhatian, sih?

“Sakit, tapi nggak terlalu parah kok.”

Dalam sekejap, raut muka Bubu berubah khawatir. “Mau aku beliin obat pereda nyeri?”

“Aku nggak pernah minum gituan,” tolak Cynthia.

“Biasanya diapain supaya sakitnya ilang?”

“Didiemin aja, nanti juga reda sendiri.”

Bubu mengangguk ragu sebagai respon, tampaknya ia masih tidak puas dengan jawaban yang Cynthia beri.

“Kamu nggak usah pergi aja ya? Kamu sakit.”

“Jangan mulai lagi deh. Aku cuma kram gara-gara mens, bukan sakit keras. Paling agak siangan dikit juga sembuh.”

“Aku kan cuma khawatir. Gimana kalau di sana kamu sakit terus nggak ada yang ngurusin?”

“Ya Tuhan, nggak ada yang perlu dikhawatirin, serius. Aku bisa urus diriku sendiri, kamu pun jangan terlalu mikirin kondisi aku selama di Bali nanti. Cukup fokus sama ujian akhir kamu dan dapetin hasil terbaik aja, okay?”

“Hm, okay.” Bubu mengangguk lucu dengan mata bulat berbinar, rautnya sedikit sendu.

Cynthia mengusap puncak kepala Bubu penuh sayang. “Good boy, ini baru pacarku yang paling keren sedunia.”


Perjalanan menuju bandara terbilang lancar, mobil SUV yang dikendarai Bubu melaju apik membelah jalanan kota. Bagai di dukung alam semesta, mereka tak pernah berhenti akibat lampu merah di persimpangan jalan yang dilalui.

Waktu tempuh dari kediaman Cynthia menuju bandara seakan berlalu secepat kedipan mata, dan kini sepasang kekasih yang akan terpisah jarak untuk sementara itu sedang duduk santai di salah satu gerai yang menyediakan roti sebagai menu utamanya. Cynthia dan Bubu memutuskan untuk membeli beberapa buah roti dan duduk di meja yang tersedia, menyantap roti bersama selagi waktu keberangkatan masih lumayan lama.

Mulut Bubu penuh karena mengunyah roti beraroma kopi, sementara pandangan lelaki itu menjelajah ke seluruh penjuru bandar udara. Seperti bandara pada umumnya, suasana di sini ramai. Ada yang datang untuk pergi, ada yang baru kembali setelah menempuh perjalanan jauh, ada yang menyambut kepulangan dengan penuh haru, dan ada yang harus melepas orang terkasih dengan lapang hati.

Lelaki itu menghela nafas, roti di genggaman tangannya mendadak tak terasa nikmat saat ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus berpisah dengan gadis yang tengah duduk manis di sampingnya.

“Kenapa lesu gitu? Rotinya nggak enak? Atau kamu nggak suka?” tanya Cynthia yang cukup peka terhadap perubahan ekspresi sang pacar.

Bubu menggeleng. “Gapapa, aku cuma agak kenyang.” Ia melirih.

“Agak sedih juga ya karena mau aku tinggal pergi?”

Bubu mengangguk spontan, lalu ketika sadar akan respon egoisnya ia langsung menggeleng keras. “Nggak kok. Ngapain sedih? Kamu kan pergi untuk kerja bukan untuk liburan.”

Tersenyum miring sembari mengecek jam di ponselnya, Cynthia menghadap samping, menatap sosok Bubu lamat-lamat. “Lima belas menit lagi aku harus udah check-in loh. Kita juga mesti pisah karena kamu nggak boleh nganter aku sampai dalem, beneran nggak sedih emang?”

“Beneran ish!” ketus Bubu.

Cynthia terkekeh, menertawai rasa gengsi sang pacar yang masih lelaki itu pertahankan tinggi-tinggi. “Oke oke, jangan ngegas dong, santai.” Ia menusuk pipi pemuda di sampingnya sebab gemas. “Selama aku pergi, kamu mesti fokus sama ujian akhir. Nggak boleh lakuin hal yang aneh-aneh, jangan bolos, belajar yang bener. Tapi, kalau capek jangan diforsir juga, istirahat yang cukup, makan harus tepat waktu. Dan yang terpenting, kamu jangan berani deket-deket Jiandra lagi, loh! Awas aja kalau bandel, aku punya banyak mata-mata di sekeliling kamu!” ujar gadis itu panjang lebar.

Tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia ajak bicara, Cynthia kembali bersuara. “Kok diem sih? Aku ngomong tuh jawab, kamu—KAMU NANGIS?!” ucap gadis itu seraya membalik tubuh yang semula membelakanginya.

“NGGAK!” sangkal Bubu.

“Halaaah, orang ngalir deres gitu air matanya,” ejek Cynthia seraya menyikut Bubu. “Ngaku aja kali, jangan gengsi. Ayo ngaku aja kamu pasti nangis gara-gara sedih mau aku tinggal kan? Iya kan? Iya kan?”

“Ck, emang kenapa kalau sedih? Dan aku nggak nangis ya, air matanya aja yang keluar sendiri!” Bubu menunjuk bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.

Tanpa banyak kata, Cynthia mengusap kedua pipi itu penuh sayang, menghapus air mata Bubu, lantas mendaratkan bibirnya ke sisi bagian kiri dan kanan pipi lelaki itu secara bergantian. “Nangisnya udahan ah, jelek, sini peluk. Kamu nih kayak mau ditinggal pergi selamanya aja.” Gadis itu tergerak untuk mendekap raga kekasihnya, menyalurkan perasaan hangat.

Bubu yang berada di dekapan Cynthia melayangkan protes, tidak suka dengan kalimat terakhir yang gadis itu lontarkan. “Aku nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu, nggak ada yang boleh pergi lama-lama.”

“Iyaaa.”

“Kamu jangan berani-beraninya pergi ninggalin aku kayak di mimpi,” Ternyata Bubu masih dibayangi mimpi buruk yang dialaminya semalam, hingga candaan dari Cynthia membuat ia tak senang.

“Aman.”

“Janji dulu, untuk nggak bakal kenapa-napa.”

“Iya, Ya Tuhan, janjiiii. Udah jangan bawel, peluk aja aku yang anteng, yang lama.” Cynthia mengusap kepala belakang kekasihnya pelan.

Tak lama, Bubu melepas pelukan sepihak, bersiap untuk mengeluarkan amunisi kata-katanya. “Kamu juga selama di Bali nanti jangan macem-macem! Jangan telat makan, jangan capek-capek, istirahat yang cukup, jangan lirik cowok lain. Terus ditepati juga tuh kata-kata yang pernah kamu bilang di chat tempo hari soal kamu bukan tipe orang yang ngabarin aku di waktu luang, tapi bakal luangin waktu untuk ngabarin aku bahkan di waktu tersibuk sekalipun.”

“Siap kapten. Ada lagi?”

“Kabarin kalau udah landing, wajib. Kamu juga harus pulang ke sini tepat waktu, nggak boleh lebih dari dua minggu! Kalau lebih dari dua minggu, aku susul kamu ke sana!”

“Dih main nyusul-nyusul aja, UAS kamu gimanaaa?”

“UAS mah seminggu juga beres kali.”

Sebelum sempat menjawab ucapan Bubu, ponsel Cynthia berdering. Ia memberi isyarat kepada Bubu untuk tidak mengajaknya berbicara dulu. Gadis itu berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk, mungkin itu telepon dari orang penting? Entahlah, Bubu sama sekali tak bisa mendengar apa hal yang dibicarakan Cynthia bersama sang penelepon itu.

Setelah cukup lama berbincang, kekasihnya itu melangkahkan kaki kembali arahnya. “Siapa?” Bubu bertanya dengan penuh rasa penasaran, sepulang Cynthia ke hadapannya.

Raut Cynthia berubah pilu. “Mbak Kintan, orang dari hotel yang ngajak aku kerjasama. Dia nanya apa aku udah sampai bandara atau belum, aku bilang udah. Terus dia nyuruh aku check-in sekarang, soalnya dia dan team udah ada di waiting room,” jelasnya.

“Waktunya pergi, ya?” tanya Bubu.

“Iya.” Cynthia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

Kalau boleh jujur, dirinya juga tak mau berpisah jauh dengan lelaki kesayangannya. Menurut Cynthia, dua minggu adalah waktu yang sangat lama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua tuntutan pekerjaan, ketika ia setuju dan mendatangani kontrak dengan hotel yang menawarkannya kerjasama, tandanya ia setuju dengan segala konsekuensi yang harus di hadapi, termasuk merelakan diri mengikuti perjalanan bisnis di luar kota seperti sekarang ini.

Sadar bahwa tak banyak waktu tersisa, Cynthia meraih koper diikuti Bubu yang beranjak untuk menyamakan posisi dengannya. Lelaki itu menatap Cynthia yang juga sedang memfokuskan pandangan padanya.

“Aku boleh dapet ciuman sebelum kamu pergi, nggak?” tanya Bubu ragu-ragu.

“Ciuman selamat tinggal, maksudnya?”

“No, namanya ciuman sampai jumpa. Aku nggak mau nyebut itu ciuman selamat tinggal.”

Gadis di depannya tersenyum miring. “Oh okaaay. Tapi kenapa mesti izin segala sih? Padahal langsung aja.” tantangnya.

Usai menelisik pandang ke segala arah guna memastikan tiada orang yang melihat, Cynthia langsung mendaratkan kecupan singkat di permukaan bibir Bubu, mencuri start dari pemuda itu. “Kayak gini,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Ia senang, hatinya merasa menang karena sudah berhasil menggoda sang pacar hingga memperlihatkan raut bingung.

Bubu yang baru mampu mencerna aksi mendadak Cynthia pun tak mau kalah, ia tersenyum miring, adrenalin dalam dirinya terpacu, dan tanpa berpikir panjang ia mempersempit jarak antara mereka, melanjutkan ciuman itu dengan tempo waktu yang sedikit lama.

Cynthia yang mulanya ingin protes karena takut dipergoki orang lain pada akhirnya mengurungkan niat, mengingat hanya ini kesempatan mereka bisa saling mencurahkan afeksi. Dua insan itu seolah tak peduli jikapun ada orang yang menonton sesi ciuman mereka.

“Hati-hati di Jalan, sayang. Jangan lupa sama janjinya, kamu harus selamat sampai tujuan,” ucap Bubu dengan penekanan di kata 'harus'.

Kalimat manis yang dituturkan lelaki itu jadi penutup perjumpaan mereka pada hari itu, sampai dua minggu berikutnya.


Written by C.