cheenoire


Udara kota Bandung di pagi hari memang jadi musuh terbesar bagi siapa saja yang membenci dingin, termasuk Cynthia. Kedua bola matanya memang sudah membuka sejak tiga puluh menit lalu, namun tubuhnya seolah enggan beranjak sedikit pun dari ranjang hangat yang semalaman ia tiduri.

Padahal hari ini merupakan hari keberangkatannya ke Bali, tapi bukannya menyiapkan banyak hal, atau sekadar mengecek ulang barang bawaan takut-takut ada yang tertinggal. Ia justru makin mengeratkan selimut tebal yang membalut hampir sekujur tubuhnya, tiada satupun pergerakan yang menandakan ia akan segera beranjak dari tempat itu.

Cynthia menatap langit-langit kamarnya, hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sampai suara yang ia kenali sebagai nada dering ponselnya berbunyi keras, nama Bubu terpampang jelas sebagai penelepon. Tanpa menunggu lama, ia pun segera mengangkat panggilan dari lelaki itu.

“Halo? Ada apa nelpon aku subuh-subuh gini?”

“Morning cantik, kamu udah sarapan?”

“Belumlah, rajin amat sarapan jam segini. Matahari aja belum nongol, Bub.”

“Oh bagus kalau gitu. Sekarang bukain pintu dong, aku ada di depan.”

“Hah? Di depan mana? Kamu ngelindur kah?”

“Nggak, Cicin. Aku sadar seratus persen, beneran ada di depan apart kamu dan bawa sarapan buat kita makan sama-sama. Buruan buka pintu, di luar dingin banget sumpah aku takut beku terus jadi fosil kayak di film Ice Age,” tutur lelaki itu hiperbola.

“Heh, ini masih jam 5. Kamu mau ngapain dateng sepagi ini? Mana nggak bilang dulu lagi. Aku 'kan baru bangun, belum ngapa-ngapain,” protes Cynthia. “Aku mau cuci muka dulu, baru entar bukain pintu buat kamu.”

Mendengar itu, Bubu lantas merengek. “Cin … masa kamu tega sih lebih mentingin cuci muka daripada bukain pintu dulu buat aku? Dingin nih.”

“Lebaaay, lagian salah sendiri kenapa ke sininya nggak bilang dulu, main dateng-dateng aja.”

“Aku niatnya kepengen kasih surprise tau.” lirih Bubu di sebrang sana. Cynthia yakin, pasti bibir lelaki itu tengah mencebik sekarang.

Membayangkannya saja sudah membuat dirinya terkekeh kecil, apalagi jika ia dihadapkan langsung dengan pemandangan itu. Ia lalu berkata, “Whatever kamu niatnya gimana, pokoknya aku tetep mau cuci muka dulu karena muka aku jelek banget sekarang. Kamu tunggu di situ, okeee? Aku nggak akan lama kok.”

“Kasih tau password apart-nya aja sini, biar aku buka sendiri pintunya.” Bubu berusaha mencari jalan tengah, mungkin agar ia bisa segera masuk dan menghangatkan diri di dalam.

No, that's privacy. Teleponnya aku tutup ya, bye!”

“Ish, Cin tung—”

Tanpa berniat mendengar ocehan sang pacar lebih lama, Cynthia memutuskan sambungan telepon kemudian beranjak menuju toilet.


“Jahat.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Bubu, sesaat setelah Cynthia membukakan pintu apartemen untuknya, bukan menampakkan raut bersalah gadis itu malah memberi sambutan berupa cengiran lebar seolah tak merasa berdosa.

“Kok gitu? Aku udah berbaik hati ngorbanin waktu rebahan aku yang berharga itu demi bukain pintu buat kamu loh. Harusnya kamu bilang apa?”

“Iyaaa makasih,” hatur Bubu sedikit terpaksa. “Tapi tetep aja ya kamu jahat! Kamu nggak lihat nih semua bulu kuduk aku berdiri karena kelamaan nunggu? Sebentar-sebentar apaan yang sampai 10 menit? Kamu semedi dulu ya di toilet?” Bubu begidik saat sentuhan udara dingin kembali menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cynthia berkacak pinggang tanpa berniat menanggapi protesan lelaki dihadapannya lebih lanjut. “Kalau dingin ya cepetan masuk, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di pintu?” ia malah mengomel balik.

Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ruang tamu, dan mendudukan diri di sofa yang terletak di sana. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar di antara mereka, karena itu Cynthia pun berinisiatif membuka suara.

“Maafin aku ya Bubu.”

“Maaf untuk?”

“Bikin kamu nunggu lebih lama, padahal di luar hawanya lagi dingin.” Jujur, sedikit banyaknya Cynthia merasa bersalah ketika mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis saat ia membukakan pintu tadi. “Aku nggak tau, kalau kamu cuma pakai kaos tanpa jaket.”

“Kamu mau dimaafin?

“Mau.”

“Peluk.”

“Apa?”

“Peluk aku, bantu ilangin rasa dinginnya.”

“Oh, ini modus varian baru, ya?”

“Udah jangan banyak tanya, kamu mau dimaafin nggak?”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya.

Diiringi cengiran lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati. “Hehehe makasih, Cicintaku.”

“Geliii, jangan panggil aku kayak gitu.”

“Biarin. Cicintakuuuu.”

“Ngeyel banget.”

“I love you.”

“I love me too.”

“Ish, masa jawabnya gitu?”

Cynthia tergelak lantang, “Hahahaha, I love you too Bubuku sayang yang kelakuannya super manja kayak anak kecil.” Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Bubu, yang dibalas rengkuhan yang sama erat.

Usai cukup lama berbagi kehangatan lewat rengkuhan, keduanya pun saling melepaskan diri.

“Tadi katanya kamu bawa sarapan?”

“Iya, aku bawa bubur ayam.”

“Subuh-subuh gini udah ada yang jual emang?”

“Adaaa, di depan komplek rumah. Cuma pas mau beli, abang tukang jualnya masih beres-beres.”

“Kamu sih kepagian.”

“Sengaja, biar aku bisa ngabisin waktu sama kamu lebih lama. Jadwal flight kamu jam 8, 'kan?”

“Hooh.”

“Tuh, kalau aku dateng lebih siang dari ini waktunya bakalan nggak kerasa.”

Bubu dan isi kepalanya yang tak terduga, Cynthia hanya mengangguk sebagai respon. “Eh, aku ambil mangkok dulu ya buat wadah buburnya.”

“Aku ikut.”

“Oh ya udah, kita sekalian makan di pantry aja. Tolong sekalian bawain buburnya.”

Habis mendapat anggukan setuju dari Bubu, Cynthia melenggang pergi menuju pantry. Bubu tentu mengikuti dari belakang, persis seperti anak ayam yang mengekori induknya.

Sesampainya di pantry, Cynthia menitahkan kekasihnya itu agar duduk terlebih dulu selagi dirinya mengambil alat makan yang tersimpan di rak.

Menyadari sesuatu, Bubu menopang dagunya dan bertanya, “Eh, ngomong-ngomong, kok aku nggak lihat Shitta, ya? Dia nggak ada, ya? Atau emang nggak keluar kamar?”

“Shitta lagi nggak di sini, kemarin dia balik ke rumah orang tuanya,” jelas Cynthia.

“Kamu sendirian dong? Kasiannyaaaa. Tau gitu aku nginep di sini buat nemenin kamu.”

“Maunya kamu itumah.”

“Emaaaang, kamu emangnya nggak mau?”

“Nggak.”

“Dasar kejam.” Bubu beranjak untuk mengacak rambut Cynthia cukup kencang.”

“Ih kamu apaan sih ngeberantakin rambut segala, kusut 'kan jadinya.” Diperlakukan begitu membuat Cynthia lantas mengomel, matanya mendelik tajam ke arah Bubu yang justru malah cengengesan di tempatnya duduk.

“Gapapa tau, kamu lucu kayak singa.”

“Udahan ah bercandanya, mending kamu makan tuh bubur kamu. Nanti kalau keburu dingin, rasanya bakal kurang enak,” ujar gadis itu seraya merapikan anak rambutnya yang berantakan. Bermaksud menengahi situasi sarapan agar kondusif dan tenang.

“Suapin dong aaaaa.” Seolah belum puas mengusili sang pacar, Bubu kembali berulah.

“Makan sekarang atau aku lempar sendok?”

“Takut banget, belum nikah udah diancam tindakan KDRT.”

Cynthia menghela nafas panjang akibat ulah Bubu. “Sayang, diem. Mulutnya dipake buat makan, bukan buat ngoceh,” tegurnya dengan nada galak.

“Iya iyaaa, ini aku makan sayang. Jangan galak-galak yaaa.”

Lelaki itu pun melahap bubur yang suhunya tidak lagi panas, sembari menahan tawa supaya tidak menyembur karena melihat wajah Cynthia yang tampak kesal akibat ulahnya. Pada akhirnya, sepasang kekasih itu pun melahap sarapannya dengan tenang, sambil sesekali bercakap hal-hal random.


Written by C


Udara kota Bandung di pagi hari memang jadi musuh terbesar bagi siapa saja yang membenci dingin, termasuk Cynthia. Kedua bola matanya memang sudah membuka sejak tiga puluh menit lalu, namun tubuhnya seolah enggan beranjak sedikit pun dari ranjang hangat yang semalaman ia tiduri.

Padahal hari ini merupakan hari keberangkatannya ke Bali, tapi bukannya menyiapkan banyak hal, atau sekadar mengecek ulang barang bawaan takut-takut ada yang tertinggal. Ia justru makin mengeratkan selimut tebal yang membalut hampir sekujur tubuhnya, tiada satupun pergerakan yang menandakan ia akan segera beranjak dari tempat itu.

Cynthia menatap langit-langit kamarnya, hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sampai suara yang ia kenali sebagai nada dering ponselnya berbunyi keras, nama Bubu terpampang jelas sebagai penelepon. Tanpa menunggu lama, ia pun segera mengangkat panggilan dari lelaki itu.

“Halo? Ada apa nelpon aku subuh-subuh gini?”

“Morning cantik, kamu udah sarapan?”

“Belumlah, rajin amat sarapan jam segini. Matahari aja belum nongol, Bub.”

“Oh bagus kalau gitu. Sekarang bukain pintu dong, aku ada di depan.”

“Hah? Di depan mana? Kamu ngelindur kah?”

“Nggak, Cicin. Aku sadar seratus persen, beneran ada di depan apart kamu dan bawa sarapan buat kita makan sama-sama. Buruan buka pintu, di luar dingin banget sumpah aku takut beku terus jadi fosil kayak di film Ice Age,” tutur lelaki itu hiperbola.

“Heh, ini masih jam 5. Kamu mau ngapain dateng sepagi ini? Mana nggak bilang dulu lagi. Aku 'kan baru bangun, belum ngapa-ngapain,” protes Cynthia. “Aku mau cuci muka dulu, baru entar bukain pintu buat kamu.”

Mendengar itu, Bubu lantas merengek. “Cin … masa kamu tega sih lebih mentingin cuci muka daripada bukain pintu dulu buat aku? Dingin nih.”

“Lebaaay, lagian salah sendiri kenapa ke sininya nggak bilang dulu, main dateng-dateng aja.”

“Aku niatnya kepengen kasih surprise tau.” lirih Bubu di sebrang sana. Cynthia yakin, pasti bibir lelaki itu tengah mencebik sekarang.

Membayangkannya saja sudah membuat Cynthia terkekeh kecil, apalagi jika melihat langsung pemandangan itu. Ia lalu berkata, “Whatever kamu niatnya gimana, pokoknya aku tetep mau cuci muka dulu karena muka aku jelek banget sekarang. Kamu tunggu di situ, okeee? Aku nggak akan lama kok.”

“Kasih tau password apart-nya aja sini, biar aku buka sendiri pintunya.” Bubu berusaha mencari jalan tengah, mungkin agar ia bisa segera masuk dan menghangatkan diri di dalam.

No, that's privacy. Teleponnya aku tutup ya, bye!”

“Ish, Cin tung—”

Tanpa berniat mendengar ocehan sang pacar lebih lama, Cynthia memutuskan sambungan telepon kemudian beranjak menuju toilet.


“Jahat.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Bubu, sesaat setelah Cynthia membukakan pintu apartemen untuknya, bukan menampakkan raut bersalah gadis itu malah memberi sambutan berupa cengiran lebar seolah tak merasa berdosa.

“Ih kok gitu? Aku udah berbaik hati ngorbanin waktu rebahan aku demi bukain pintu buat kamu. Harusnya kamu bilang apa?”

“Iyaaa makasih,” hatur Bubu sedikit terpaksa. “Tapi tetep aja ya kamu jahat! Kamu nggak lihat nih semua bulu kuduk aku berdiri karena kelamaan nunggu? Sebentar-sebentar apaan yang sampai 10 menit? Kamu semedi dulu ya di toilet?” Bubu begidik saat sentuhan udara dingin kembali menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cynthia berkacak pinggang, tanpa berniat menanggapi protesan Bubu lebih lanjut. “Kalau dingin ya cepetan masuk, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di pintu?” gadis itu malah mengomel balik.

Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ruang tamu, dan mendudukan diri di sofa yang terletak di sana. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar di antara mereka, Cynthia pun berinisiatif membuka suara.

“Maafin aku ya Bubu.”

“Maaf untuk?”

“Bikin kamu nunggu lebih lama di luar padahal hawanya lagi dingin.” Jujur, sedikit banyaknya Cynthia merasa bersalah ketika mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis saat ia membukakan pintu tadi. “Aku nggak tau, kalau kamu cuma pakai kaos tanpa jaket.”

“Kamu mau dimaafin?

“Mau.”

“Peluk.”

“Apa?”

“Peluk aku, bantu ilangin rasa dinginnya.”

“Oh, ini modus varian baru, ya?”

“Jangan banyak tanya, mau dimaafin nggak?”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya.

Diiringi cengiran lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati. “Hehehe makasih, Cicintaku.”

“Geliii, jangan panggil aku kayak gitu.”

“Biarin. Cicintakuuuu.”

“Ngeyel banget.”

“I love you.”

“I love me too.”

“Ish, masa jawabnya gitu?”

Cynthia tergelak lantang, “Hahahaha, I love you too Bubuku sayang yang manja banget kayak anak kecil.”

Usai cukup lama berbagi kehangatan lewat rengkuhan, keduanya pun saling melepaskan diri. “Kamu bawa apa?”

“Bubur ayam.”

“Subuh-subuh gini ada yang jual emang?”

“Adaaa, di depan komplek rumah. Cuma pas mau beli, abang tukang jualnya masih beres-beres.”

“Kamu sih kepagian.”

“Sengaja, biar aku bisa ngabisin waktu sama kamu lebih lama. Jadwal flight kamu jam 8, 'kan?”

“Hooh.”

“Tuh, kalau aku dateng lebih siang dari ini waktunya nggak akan kerasa.”

Bubu dan isi kepalanya yang tak terduga, Cynthia hanya mengangguk sebagai respon. “Eh, aku ambil mangkok dulu ya buat wadah buburnya.”

“Aku ikut.”

“Oh ya udah, kita sekalian makan di pantry aja. Tolong sekalian bawain buburnya.”

Habis mendapat anggukan setuju dari Bubu, Cynthia melenggang pergi menuju pantry. Bubu tentu mengikuti dari belakang, persis seperti anak ayam yang mengekori induknya. Sesampainya di pantry, Cynthia menitahkan kekasihnya itu agar duduk terlebih dulu selagi dirinya mengambil alat makan yang tersimpan di rak.

Menyadari sesuatu, Bubu menopang dagunya dan bertanya, “Eh, ngomong-ngomong, kok aku nggak ada lihat Shitta, ya? Dia nggak ada ya? Atau emang nggak keluar kamar?”

“Shitta lagi nggak di sini, kemarin dia balik ke rumah orang tuanya,” jelas Cynthia.

“Kamu sendirian dong? Kasiannya. Tau gitu aku nginep buat nemenin kamu.”

“Maunya kamu itumah.”

“Emaaaang, kamu emangnya nggak mau?”

“Nggak.”

“Dasar kejam.” Bubu beranjak dan mengacak rambut Cynthia cukup kencang.”

“Ih kamu apaan sih ngeberantakin rambut segala, jadi kusut 'kan.” Diperlakukan begitu membuat Cynthia lantas mengomel, matanya mendelik tajam ke arah Bubu yang justru malah cengengesan di tempatnya duduk.

“Gapapa tau, kamu lucu kayak singa.”

“Udahan ah bercandanya, mending kamu makan tuh bubur kamu. Nanti kalau keburu dingin, rasanya bakal kurang enak,” ujar gadis itu seraya merapikan anak rambutnya yang berantakan. Bermaksud menengahi situasi sarapan agar kondusif dan tenang.

“Suapin dong aaaaa.” Seolah belum puas mengusili sang pacar, Bubu kembali berulah.

“Makan sekarang atau aku lempar sendok?”

“Takut banget, belum nikah udah diancam tindakan KDRT.”

Cynthia dibuat menghela nafas akibat ulah Bubu. “Sayang, diem. Mulutnya dipake buat makan, bukan buat ngoceh,” tegurnya dengan nada galak.

“Iya iyaaa, ini aku makan sayang. Jangan galak-galak yaaa.”

Lelaki itu pun melahap bubur yang suhunya tidak lagi panas, sembari menahan tawa supaya tidak menyembur karena melihat wajah Cynthia yang tampak kesal dibuatnya. Akhirnya, sepasang kekasih itu pun melahap sarapannya dengan tenang, sambil sesekali bercakap hal-hal random.


Written by C


Udara kota Bandung di pagi hari memang jadi musuh terbesar bagi siapa saja yang membenci dingin, termasuk Cynthia. Kedua bola matanya memang sudah membuka sejak tiga puluh menit lalu, namun tubuhnya seolah enggan beranjak sedikit pun dari ranjang hangat yang semalaman ia tiduri.

Padahal hari ini merupakan hari keberangkatannya ke Bali, tapi bukannya menyiapkan banyak hal, atau sekadar mengecek ulang barang bawaan takut-takut ada yang tertinggal. Ia justru makin mengeratkan selimut tebal yang membalut hampir sekujur tubuhnya, tiada satupun pergerakan yang menandakan ia akan segera beranjak dari tempat itu.

Cynthia menatap langit-langit kamarnya, hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sampai suara yang ia kenali sebagai nada dering ponselnya berbunyi keras, nama Bubu terpampang jelas sebagai penelepon. Tanpa menunggu lama, ia pun segera mengangkat panggilan dari lelaki itu.

“Halo? Ada apa nelpon aku subuh-subuh gini?”

“Morning cantik, kamu udah sarapan?”

“Belumlah, rajin amat sarapan jam segini. Matahari aja belum nongol, Bub.”

“Oh bagus kalau gitu. Sekarang bukain pintu dong, aku ada di depan.”

“Hah? Di depan mana? Kamu ngelindur kah?”

“Nggak, Cicin. Aku sadar seratus persen, beneran ada di depan apart kamu dan bawa sarapan buat kita makan sama-sama. Buruan buka pintu, di luar dingin banget sumpah aku takut beku terus jadi fosil kayak di film Ice Age,” tutur lelaki itu hiperbola.

“Heh, ini masih jam 5. Kamu mau ngapain dateng sepagi ini? Mana nggak bilang dulu lagi. Aku 'kan baru bangun, belum ngapa-ngapain,” protes Cynthia. “Aku mau cuci muka dulu, baru entar bukain pintu buat kamu.”

Mendengar itu, Bubu lantas merengek. “Cin … masa kamu tega sih lebih mentingin cuci muka daripada bukain pintu dulu buat aku? Dingin nih.”

“Lebaaay, lagian salah sendiri kenapa ke sininya nggak bilang dulu, main dateng-dateng aja.”

“Aku niatnya kepengen kasih surprise tau.” lirih Bubu di sebrang sana. Cynthia yakin, pasti bibir lelaki itu tengah mencebik sekarang.

Membayangkannya saja sudah membuat Cynthia terkekeh kecil, apalagi jika melihat langsung pemandangan itu. Ia lalu berkata, “Whatever kamu niatnya gimana, pokoknya aku tetep mau cuci muka dulu karena muka aku jelek banget sekarang. Kamu tunggu di situ, aku nggak akan lama kok.”

“Kasih tau password apart-nya aja sini, biar aku buka sendiri pintunya.” Bubu berusaha mencari jalan tengah, mungkin agar ia bisa segera masuk dan menghangatkan diri di dalam.

No, that's privacy. Teleponnya aku tutup ya, bye!”

“Ish, Cin tung—”

Tanpa berniat mendengar ocehan sang pacar lebih lama, Cynthia memutuskan sambungan telepon kemudian beranjak menuju toilet.


“Jahat.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Bubu, sesaat setelah Cynthia membukakan pintu apartemen untuknya, bukan menampakkan raut bersalah gadis itu malah memberi sambutan berupa cengiran lebar seolah tak merasa berdosa.

“Ih kok gitu? Aku udah berbaik hati ngorbanin waktu rebahan aku demi bukain pintu buat kamu. Harusnya kamu bilang apa?”

“Iyaaa makasih,” hatur Bubu sedikit terpaksa. “Tapi tetep aja ya kamu jahat! Kamu nggak lihat nih semua bulu kuduk aku berdiri karena kelamaan nunggu? Sebentar-sebentar apaan yang sampai 10 menit? Kamu semedi dulu ya di toilet?” Bubu begidik saat sentuhan udara dingin kembali menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cynthia berkacak pinggang, tanpa berniat menanggapi protesan Bubu lebih lanjut. “Kalau dingin ya cepetan masuk, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di pintu?” gadis itu malah mengomel balik.

Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ruang tamu, dan mendudukan diri di sofa yang terletak di sana. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar di antara mereka, Cynthia pun berinisiatif membuka suara.

“Maafin aku ya Bubu.”

“Maaf untuk?”

“Bikin kamu nunggu lebih lama di luar padahal hawanya lagi dingin.” Jujur, sedikit banyaknya Cynthia merasa bersalah ketika mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis saat ia membukakan pintu tadi. “Aku nggak tau, kalau kamu cuma pakai kaos tanpa jaket.”

“Kamu mau dimaafin?

“Mau.”

“Peluk.”

“Apa?”

“Peluk aku, bantu ilangin rasa dinginnya.”

“Oh, ini modus varian baru, ya?”

“Jangan banyak tanya, mau dimaafin nggak?”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya.

Diiringi cengiran lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati. “Hehehe makasih, Cicintaku.”

“Geliii, jangan panggil aku kayak gitu.”

“Biarin. Cicintakuuuu.”

“Ngeyel banget.”

“I love you.”

“I love me too.”

“Ish, masa jawabnya gitu?”

Cynthia tergelak lantang, “Hahahaha, I love you too Bubuku sayang yang manja banget kayak anak kecil.”

Usai cukup lama berbagi kehangatan lewat rengkuhan, keduanya pun saling melepaskan diri. “Kamu bawa apa?”

“Bubur ayam.”

“Subuh-subuh gini ada yang jual emang?”

“Adaaa, di depan komplek rumah. Cuma pas mau beli, abang tukang jualnya masih beres-beres.”

“Kamu sih kepagian.”

“Sengaja, biar aku bisa ngabisin waktu sama kamu lebih lama. Jadwal flight kamu jam 8, 'kan?”

“Hooh.”

“Tuh, kalau aku dateng lebih siang dari ini waktunya nggak akan kerasa.”

Bubu dan isi kepalanya yang tak terduga, Cynthia hanya mengangguk sebagai respon. “Eh, aku ambil mangkok dulu ya buat wadah buburnya.”

“Aku ikut.”

“Oh ya udah, kita sekalian makan di pantry aja. Tolong sekalian bawain buburnya.”

Habis mendapat anggukan setuju dari Bubu, Cynthia melenggang pergi menuju pantry. Bubu tentu mengikuti dari belakang, persis seperti anak ayam yang mengekori induknya. Sesampainya di pantry, Cynthia menitahkan kekasihnya itu agar duduk terlebih dulu selagi dirinya mengambil alat makan yang tersimpan di rak.

Menyadari sesuatu, Bubu menopang dagunya dan bertanya, “Eh, ngomong-ngomong, kok aku nggak ada lihat Shitta, ya? Dia nggak ada ya? Atau emang nggak keluar kamar?”

“Shitta lagi nggak di sini, kemarin dia balik ke rumah orang tuanya,” jelas Cynthia.

“Kamu sendirian dong? Kasiannya. Tau gitu aku nginep buat nemenin kamu.”

“Maunya kamu itumah.”

“Emaaaang, kamu emangnya nggak mau?”

“Nggak.”

“Dasar kejam.” Bubu beranjak dan mengacak rambut Cynthia cukup kencang.”

“Ih kamu apaan sih ngeberantakin rambut segala, jadi kusut 'kan.” Diperlakukan begitu membuat Cynthia lantas mengomel, matanya mendelik tajam ke arah Bubu yang justru malah cengengesan di tempatnya duduk.

“Gapapa tau, kamu lucu kayak singa.”

“Udahan ah bercandanya, mending kamu makan tuh bubur kamu. Nanti kalau keburu dingin, rasanya bakal kurang enak,” ujar gadis itu seraya merapikan anak rambutnya yang berantakan. Bermaksud menengahi situasi sarapan agar kondusif dan tenang.

“Suapin dong aaaaa.” Seolah belum puas mengusili sang pacar, Bubu kembali berulah.

“Makan sekarang atau aku lempar sendok?”

“Takut banget, belum nikah udah diancam tindakan KDRT.”

Cynthia dibuat menghela nafas akibat ulah Bubu. “Sayang, diem. Mulutnya dipake buat makan, bukan buat ngoceh,” tegurnya dengan nada galak.

“Iya iyaaa, ini aku makan sayang. Jangan galak-galak yaaa.”

Lelaki itu pun melahap bubur yang suhunya tidak lagi panas, sembari menahan tawa supaya tidak menyembur karena melihat wajah Cynthia yang tampak kesal dibuatnya. Akhirnya, sepasang kekasih itu pun melahap sarapannya dengan tenang, sambil sesekali bercakap hal-hal random.


Written by C


Udara kota Bandung di pagi hari memang jadi musuh terbesar bagi siapa saja yang membenci dingin, termasuk Cynthia. Kedua bola matanya memang sudah membuka sejak tiga puluh menit lalu, namun tubuhnya seolah enggan beranjak sedikit pun dari ranjang hangat yang semalaman ia tiduri.

Padahal hari ini merupakan hari keberangkatannya ke Bali, tapi bukannya menyiapkan banyak hal, atau sekadar mengecek ulang barang bawaan takut-takut ada yang tertinggal. Ia justru makin mengeratkan selimut tebal yang membalut hampir sekujur tubuhnya, tiada satupun pergerakan yang menandakan ia akan segera beranjak dari tempat itu.

Cynthia menatap langit-langit kamarnya, hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sampai suara yang ia kenali sebagai nada dering ponselnya berbunyi keras, nama Bubu terpampang jelas sebagai penelepon. Tanpa menunggu lama, ia pun segera mengangkat panggilan dari lelaki itu.

“Halo? Ada apa nelpon aku subuh-subuh gini?”

“Morning cantik, kamu udah sarapan?”

“Belumlah, rajin amat sarapan jam segini. Matahari aja belum nongol, Bub.”

“Oh bagus kalau gitu. Sekarang bukain pintu dong, aku ada di depan.”

“Hah? Di depan mana? Kamu ngelindur kah?”

“Nggak, Cicin. Aku sadar seratus persen, beneran ada di depan apart kamu dan bawa sarapan buat kita makan sama-sama. Buruan buka pintu, di luar dingin banget sumpah aku takut beku terus jadi fosil kayak di film Ice Age,” tutur lelaki itu hiperbola.

“Heh, ini masih jam 5. Kamu mau ngapain dateng sepagi ini? Mana nggak bilang dulu lagi. Aku 'kan baru bangun, belum ngapa-ngapain,” protes Cynthia. “Aku mau cuci muka dulu, baru entar bukain pintu buat kamu.”

Mendengar itu, Bubu lantas merengek. “Cin … masa kamu tega sih lebih mentingin cuci muka daripada bukain pintu dulu buat aku? Dingin nih.”

“Lebaaay, lagian salah sendiri kenapa ke sininya nggak bilang dulu, main dateng-dateng aja.”

“Aku niatnya kepengen kasih surprise tau.” lirih Bubu di sebrang sana. Cynthia yakin, pasti bibir lelaki itu tengah mencebik sekarang.

Membayangkannya saja sudah membuat Cynthia terkekeh kecil, apalagi jika melihat langsung pemandangan itu. Ia lalu berkata, “Whatever kamu niatnya gimana, pokoknya aku tetep mau cuci muka dulu karena muka aku jelek banget sekarang. Kamu tunggu di situ, aku nggak akan lama kok.”

“Kasih tau password apart-nya aja sini, biar aku buka sendiri pintunya.” Bubu berusaha mencari jalan tengah, mungkin agar ia bisa segera masuk dan menghangatkan diri di dalam.

No, that's privacy. Teleponnya aku tutup ya, bye!”

“Ish, Cin tung—”

Tanpa berniat mendengar ocehan sang pacar lebih lama, Cynthia memutuskan sambungan telepon kemudian beranjak menuju toilet.


“Jahat.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari belah bibir Bubu, sesaat setelah Cynthia membukakan pintu apartemen untuknya, bukan menampakkan raut bersalah gadis itu malah memberi sambutan berupa cengiran lebar seolah tak merasa berdosa.

“Ih kok gitu? Aku udah berbaik hati ngorbanin waktu rebahan aku demi bukain pintu buat kamu. Harusnya kamu bilang apa?”

“Iyaaa makasih,” hatur Bubu sedikit terpaksa. “Tapi tetep aja ya kamu jahat! Kamu nggak lihat nih semua bulu kuduk aku berdiri karena kelamaan nunggu? Sebentar-sebentar apaan yang sampai 10 menit? Kamu semedi dulu ya di toilet?” Bubu begidik saat sentuhan udara dingin kembali menerpa kulitnya untuk kesekian kali.

Cynthia berkacak pinggang, tanpa berniat menanggapi protesan Bubu lebih lanjut. “Kalau dingin ya cepetan masuk, kenapa kamu malah ngomel-ngomel di pintu?” gadis itu malah mengomel balik.

Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ruang tamu, dan mendudukan diri di sofa yang terletak di sana. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar di antara mereka, Cynthia pun berinisiatif membuka suara.

“Maafin aku ya Bubu.”

“Maaf untuk?”

“Bikin kamu nunggu lebih lama di luar padahal hawanya lagi dingin.” Jujur, sedikit banyaknya Cynthia merasa bersalah ketika mendapati Bubu hanya mengenakan pakaian tipis saat ia membukakan pintu tadi. “Aku nggak tau, kalau kamu cuma pakai kaos tanpa jaket.”

“Kamu mau dimaafin?

“Mau.”

“Peluk.”

“Apa?”

“Peluk aku, bantu ilangin rasa dinginnya.”

“Oh, ini modus varian baru, ya?”

“Jangan banyak tanya, mau dimaafin nggak?”

“Ck, ya udah sini!” Cynthia merentangkan kedua tangannya, mengundang Bubu untuk segera masuk ke dalam dekap hangat kepunyaannya.

Diiringi cengiran lebar, Bubu menerima pelukan itu dengan senang hati. “Hehehe makasih, Cicintaku.”

“Geliii, jangan panggil aku kayak gitu.”

“Biarin. Cicintakuuuu.”

“Ngeyel banget.”

“I love you.”

“I love me too.”

“Ish, masa jawabnya gitu?”

Cynthia tergelak lantang, “Hahahaha, I love you too Bubuku sayang yang manja banget kayak anak kecil.”

Usai cukup lama berbagi kehangatan lewat rengkuhan, keduanya pun saling melepaskan diri. “Kamu bawa apa?”

“Bubur ayam.”

“Subuh-subuh gini ada yang jual emang?”

“Adaaa, di depan komplek rumah. Cuma pas mau beli, abang tukang jualnya masih beres-beres.”

“Kamu sih kepagian.”

“Sengaja, biar aku bisa ngabisin waktu sama kamu lebih lama. Jadwal flight kamu jam 8, 'kan?”

“Hooh.”

“Tuh, kalau aku dateng lebih siang dari ini waktunya nggak akan kerasa.”

Bubu dan isi kepalanya yang tak terduga, Cynthia hanya mengangguk sebagai respon. “Eh, aku ambil mangkok dulu ya buat wadah buburnya.”

“Aku ikut.”

“Oh ya udah, kita sekalian makan di pantry aja. Tolong sekalian bawain buburnya.”

Habis mendapat anggukan setuju dari Bubu, Cynthia melenggang pergi menuju pantry. Bubu tentu mengikuti dari belakang, persis seperti anak ayam yang mengekori induknya. Sesampainya di pantry, Cynthia menitahkan kekasihnya itu agar duduk terlebih dulu selagi dirinya mengambil alat makan yang tersimpan di rak.

Menyadari sesuatu, Bubu menopang dagunya dan bertanya, “Eh, ngomong-ngomong, kok aku nggak ada lihat Shitta, ya? Dia nggak ada ya? Atau emang nggak keluar kamar?”

“Shitta lagi nggak di sini, kemarin dia balik ke rumah orang tuanya,” jelas Cynthia.

“Kamu sendirian dong? Kasiannya. Tau gitu aku nginep buat nemenin kamu.”

“Maunya kamu itumah.”

“Emaaaang, kamu emangnya nggak mau?”

“Nggak.”

“Dasar kejam.” Bubu beranjak dan mengacak rambut Cynthia cukup kencang.”

“Ih kamu apaan sih ngeberantakin rambut segala, jadi kusut 'kan.” Diperlakukan begitu membuat Cynthia lantas mengomel, matanya mendelik tajam ke arah Bubu yang justru malah cengengesan di tempatnya duduk.

“Gapapa tau, kamu lucu kayak singa.”

“Udahan ah bercandanya, mending kamu makan tuh bubur kamu. Nanti kalau keburu dingin, rasanya bakal kurang enak,” ujar gadis itu seraya merapikan anak rambutnya yang berantakan. Bermaksud menengahi situasi sarapan agar kondusif dan tenang.

“Suapin dong aaaaa.” Seolah belum puas mengusili sang pacar, Bubu kembali berulah.

“Makan sekarang atau aku lempar sendok?”

“Takut banget, belum nikah udah diancam tindakan KDRT.”

Cynthia dibuat menghela nafas akibat ulah Bubu. “Sayang, diem. Mulutnya dipake buat makan, bukan buat ngoceh,” tegurnya dengan nada galak.

“Iya iyaaa, ini aku makan sayang. Jangan galak-galak yaaa.”

Lelaki itu pun melahap bubur yang suhunya tidak lagi panas, sembari menahan tawa supaya tidak menyembur karena melihat wajah Cynthia yang tampak kesal dibuatnya. Akhirnya, sepasang kekasih itu pun melahap sarapannya dengan tenang, sambil sesekali bercakap hal-hal random.


Written by C

Udara segar yang Theo hirup di minggu pagi ini tak mampu menstabilkan perasaan gundahnya sejak semalam. Tanpa alasan yang jelas, ia terus saja memikirkan mimpi buruk yang dialaminya kemarin.

Bagi Theo, mimpi itu terasa sangat nyata. Sampai menyebabkan tangisnya luruh ketika terbangun, dada sesak, disertai seluruh tubuh bergetar hebat. Mimpi di mana hidup Cynthia berakhir seperti Mamanya yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Takut? Jelas. Terlebih hari ini, orang yang menjadi alasan kerisauannya akan pergi ke pulau sebrang, menaiki pesawat—transportasi yang pernah merenggut orang tersayangnya bertahun lalu, meninggalkan ia untuk jangka waktu yang cukup panjang.

Suara alarm peringatan di palang pintu kereta api tiba-tiba menyeru lantang, lamunan Theo pun buyar. Ia lalu memberhentikan mobil yang dikendarainya pada salah satu space kosong jalanan yang belum ditempati oleh kendaraan lain. Tak berselang lama ponsel Theo berbunyi, pesan dari Cynthia muncul di bilah notifikasi. Segera, ia balas pesan itu tanpa berpikir dua kali.

Cosmic radiation

Cosmic radiation

Usai palang pintu kereta api terbuka, Theo lekas melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju toko kue sang gadis tercinta.

***

Udara segar yang Theo hirup di minggu pagi ini tak mampu menstabilkan perasaan gundahnya sejak semalam. Tanpa alasan yang jelas, ia terus saja memikirkan mimpi buruk yang dialaminya kemarin.

Bagi Theo, mimpi itu terasa sangat nyata. Sampai menyebabkan tangisnya luruh ketika terbangun, dada sesak, disertai seluruh tubuh bergetar hebat. Mimpi di mana hidup Cynthia berakhir seperti Mamanya yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Takut? Jelas. Terlebih hari ini, orang yang menjadi alasan kerisauannya akan pergi ke pulau sebrang, menaiki pesawat, meninggalkan ia untuk jangka waktu yang cukup panjang.

Suara alarm peringatan di palang pintu kereta api tiba-tiba menyeru lantang, lamunan Theo pun buyar. Ia lalu memberhentikan mobil yang dikendarainya pada salah satu space kosong jalanan yang belum ditempati oleh kendaraan lain. Tak berselang lama ponsel Theo berbunyi, pesan dari Cynthia muncul di bilah notifikasi. Segera, ia balas pesan itu tanpa berpikir dua kali.

Usai palang pintu kereta api terbuka, Theo lekas melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju toko kue sang gadis tercinta.

***

akuuu


Hati ini pernah hancur lebur, menjelma kepingan yang kerusakannya tak lagi bisa terukur. Penyebab kehancuran itu tak lain adalah seorang brengsek yang tak sudi kusebut namanya lagi. Perasaanku bergelantung di ambang sekarat, hampir mati terjerembab ke dalam jurang nestapa yang bergejolak atas ulah si keparat.

Tepat sebelum aku mengumandangkan elegi atas kematian hatiku sendiri, seorang lelaki berhidung bangir hadir diiringi rekahan senyum yang terpatri di bibir. Bak seorang tabib, ia obati segala luka lara yang sudah tertanam dan mengakar hingga benar-benar sembuh. Menarikku dari kegelapan, dan menuntunku ke tempat yang didominasi oleh keindahan.

Lelaki itu bernama Tio yang dalam bahasa Afrika berarti hadiah dari Tuhan. Makna yang tersemat di sela namanya itu kurasa terwujud nyata, sebab kehadirannya adalah hadiah terindah yang pernah aku terima sepanjang hidup di dunia. Kak Tio –begitu ia kusapa, usia kami terpaut cukup jauh– berkepribadian lembut, sangat sederhana dan tak pernah menuntut, membuatku tak hentinya bersyukur sudah dipertemukan dengan orang sebaik dia.

Tak peduli seberapa cacat jiwaku, sebanyak apapun kurangku, dan seburuk apapun tempramenku, ia tidak pernah sekalipun berbalik pergi. Senantiasa berdiri di sampingku sembari menggenggam jari-jemari ini. Merapal kata demi kata penyejuk jiwa, manakala perasaanku tengah ditikam gundah-gulana. Selalu memastikanku terjaga, agar tak lagi ditumbangkan nelangsa.

Lelaki yang mempunyai bola mata bulat sehitam jelaga itu tak pernah menjanjikan sebuah hubungan berpondasi utuh, sebab ia rasa, badai akan selalu punya cara menjadikannya runtuh. Ia hanya berjanji merengkuh erat bagian diriku yang bermukim di salah satu sudut hatinya, dan memunguti kepingan-kepingan perasaan yang sempat gugur itu untuk direkatkan kembali saat pelangi datang menyapa.

Tiada kebahagiaan yang abadi, katanya. Pasang-surut, siang-malam, cerah-mendung, itu merupakan hal lumrah, tiada bisa dipungkiri oleh satu makhluk pun di muka bumi. Karena segala hal di jagat raya ini saling berotasi.

Kak Tio bilang, selama perputaran itu berlangsung, kita hanya perlu menjunjung sebuah bentuk percaya bernama komitmen tinggi-tinggi, dan bisa dipastikan semua akan berjalan baik-baik saja. Seberat apapun halang rintang menghadang, jantungnya akan tetap menyuarakan namaku di setiap detak dengan lantang.

najags


Rasa cemas mendera Cynthia, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Bubu yang mengeluh mual pasca menaiki sebuah wahana; roller coaster di taman hiburan yang keduanya kunjungi. Kini dirinya sedang mondar-mandir tak jelas di depan pintu toilet khusus pria, sesekali menggigiti kuku, mengerang dan mengacak rambut frustasi.

Tak peduli tentang bagaimana tanggapan orang atas sikap anehnya, perasaan Cynthia benar-benar campur aduk sekarang; antara kesal, cemas dan bingung. Kesal apabila mengingat sikap bebal sang pacar yang bersikeras ingin menaiki wahana padahal baru saja selesai makan, merasa cemas karena setelah menunggu cukup lama Bubu tak kunjung keluar.

Di kepalanya tercipta beberapa spekulasi negatif, satu dan yang paling menggangunya adalah praduga bahwa alasan Bubu belum memunculkan batang hidungnya dikarenakan lelaki itu pingsan.

Menghela nafas dalam, Cynthia sedikit berteriak masih dengan raut muram. “Bubu kamu oke, ‘kan?”

Tak ada jawaban.

Sial, apakah Bubu benar-benar pingsan? Cynthia bingung, haruskah ia menerobos masuk guna memastikan keadaan lelaki itu atau tetap bertahan di sini dengan segala rasa kalut yang bercokol di dada?

“Bubu? Aku masuk ya?” Lagi-lagi, tidak ada sahutan di dalam sana. “Oke aku masuk.”

Persetan, kalau nanti Cynthia dicap sebagai wanita cabul yang sembarangan masuk ke toilet pria, dipikirannya kini hanya dipenuhi pertanyaan seputar keadaan sang pacar. Ia berjalan cepat, mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Tempat ini kosong, sebuah keuntungan baginya. Tapi ia jelas mendengar rintihan di bilik paling ujung dan sudah dipastikan itu adalah suara Bubu. Lantas ia pun berjalan ke arah sana.

“Bubu, kamu di sini?” tanya Cynthia seraya menggedor pelan bilik yang tertutup itu.

“Hmm,” sahut Bubu di dalam sana, membuat Cynthia menghembuskan napas lega. Setidaknya lelaki itu masih sadarkan diri.

“Kamu lama, jadi aku susul ke sini. Takut kamu kenapa-napa.”

“Maaf.” Nada lirih disuarakan Bubu, sarat akan penyesalan. Hal itu berhasil membuat Cynthia yang semula kesal dan hendak mengomelinya mendadak iba.

Tak berselang lama, pintu bilik itu terbuka. Wajah pucat berhiaskan senyum sedikit dipaksakan jadi pemandangan pertama yang tertangkap netra Cynthia. “Mendingan?” tanyanya, Bubu hanya balas mengangguk.

“Ayo pulang sekarang.”

“Enggak mau, Bubu masih kuat,” tolak Bubu.

“Gak usah ngeyel, kita pulang sekarang. Kamu sakit, Bubu.”

“Ini cuma efek naik roller coaster aja, Cin. Sebentar lagi juga sembuh, jangan berlebihan.”

“Jangan berlebihan kamu bilang? Kamu gak tau seberapa khawatirnya aku waktu nunggu kamu yang gak kunjung keluar dari toilet? Aku ngira kamu pingsan sampai nekat nerobos masuk tau gak!”

“Maaf untuk itu, tapi masa pulang secepet ini? Bubu masih mau naik bianglala, komidi putar, jajan gulali, terus ...,” lelaki itu terdiam, berpikir sejenak wahana mana lagi yang sekiranya belum ia coba.

Ia berambisi mencoba semua wahana tanpa terlewat satupun, kapan lagi ia bisa mempunyai waktu menyenangkan bersama gadis kesayangannya? Dalam beberapa minggu kedepan, waktu luang yang ia punya akan terkikis karena sudah memulai masa kuliahnya. Cynthia juga pasti sibuk mengelola toko kue miliknya yang menurut penuturan gadis itu jadi lebih ramai pembeli belakangan ini.

Di sisi lain, Cynthia merasakan emosinya memuncak di detik Bubu melayangkan permintaan-permintaan tersebut. Ia tak habis pikir, mengapa Bubu seolah tidak memiliki rasa lelah dan mengapa lelaki itu senang memancing rasa khawatirnya muncul ke permukaan?

“Emang kita mau selama apa di sini? Mau sampai kamu pingsan dulu? Iya? Kamu bisa gak sih jangan bikin aku khawatir terus?” Tanpa sadar Cynthia menaikkan volume bicaranya hingga sang lawan bicara tertegun.

“Enggak gitu ...,” cicit Bubu, nyalinya ciut seketika.

“Disuruh pulang tuh nurut makanya, ayo!” final Cynthia enggan dibantah.

Tak menyerah, Bubu kembali memberi perlawanan. Ia tak mau menyerah begitu saja. “Aaaaa Ciciiiiin, masa beneran pulaaaang?” rengeknya persis seperti bocah berumur 5 tahun yang tak diberi izin memainkan mainan favoritnya.

“Bubu janji enggak bakalan naik wahana apa-apa lagi, tapi jangan pulang ya? Kita jalan-jalan dulu deh, Bubu pengen beli gulali. Mulut Bubu sepet banget habis muntah, harus makan yang manis-manis. Terus udah itu kita diem di mana deh buat istirahat, asal jangan pulang. Ya? Boleh 'kan? Please ....” Lelaki itu memelas, menampilkan mata bulat berbinar khasnya yang sial seribu sial berhasil melelehkan keteguhan hati Cynthia dalam hitungan detik.

“Hng ... oke. Aku cuma kasih izin beli gulali, habis itu kita cari tempat duduk buat istirahat. Sekali aja kamu ngerengek minta naik wahana ini itu, aku bakal seret kamu pulang detik itu juga!” Cynthia melotot, bermaksud menciptakan aura intimidasi.

Bukannya takut Bubu malah bersorak girang mendengar persetujuan yang lebih terasa seperti ancaman itu. “Yes!” Mengekspresikan rasa terima kasihnya, Bubu bersiap memeluk gadis kesayangannya itu namun segera dicegah.

“Eh eh, kamu mau apa?” selidik Cynthia.

“Mau peluk.”

“Enggak ada peluk-peluk di sini, kalau kepergok orang lain bisa berabe. Nanti dikira pasangan yang mau berbuat tak senonoh lagi, ayo cepetan keluar!”


Dua buah bungkus gulali berukuran sedang tergeletak dibangku kayu yang Bubu dan Cynthia jadikan tempat beristirahat; berperan sebagai pembatas jarak keduanya yang duduk saling bersampimgan. Bubu mengambil satu di antaranya, melepas lilitan tali di bagian atas bungkus permen yang menyerupai kapas itu, dan mencomot isinya. Saat sensasi manis menjalari indra pengecapnya, lelaki berwajah menggemaskan itu refleks mengangguk-anggukan kepala, senyum bahagia pun terbit di wajahnya.

“Gulalinya seenak itu ya sampai bikin kamu mesem-mesem?”

“Hehehe, kamu mau Cin?”

“Boleh?”

“Boleh dong, kan sengaja beli 2 bungkus tuh buat dimakan berdua, cuma dimakannya satu-satu biar romantis, sebungkus berdua gitu lah istilahnya.” Bubu menyengir lebar, Cynthia tak tahan untuk tidak mendaratkan telapak tangannya ke kepala Bubu dan mengusak surai hitam milik lelaki itu.

Bubu menyodorkan sejumput permen itu ke depan mulut gadisnya dan diterima dengan senang hati, kemudian keduanya terdiam cukup lama. Barangkali kehabisan topik pembicaraan.

Selagi Bubu asyik dengan dunianya, pandangan Cynthia berkelana ke seluruh penjuru. Memindai dan menilik satu persatu kegiatan orang-orang sekitar lewat kedua belah matanya. Cukup banyak orang berlalu-lalang, pemandangan yang biasa saja menurutnya. Ia bosan, tiada hal menarik di sini. Sampai kemudian pandangannya berhenti tepat di arah tiga orang yang tampaknya sedang bersitegang.

Seorang pria tampan dan wanita berparas cantik berambut sebahu bergandengan erat, terlihat macam sepasang kekasih. Lalu di hadapan mereka berdiri seorang wanita dengan rambut sepunggung; posisinya menyisi, sedikit membelakangi Cynthia hingga wajahnya tak terlalu jelas terlihat, wanita itu seperti tengah beradu mulut dengan sang pria tampan sementara kekasih pria itu hanya diam tanpa kata.

Wah, sepertinya sedang terjadi keributan di sana, jiwa lambe turah yang bersemayam dalam diri Cynthia mendadak bangkit. Ia sangat penasaran, hingga terus menatap gerak-gerik tiga orang yang berada di kejauhan itu dengan saksama. Di otaknya bermunculan berbagai macam spekulasi, dan prediksi terlogis yang ia simpulkan adalah ketiga manusia itu sepertinya tengah terjebak drama cinta segitiga? Entahlah pendapatnya ini valid atau tidak, persetan, lagipula ia cuma menduga-duga.

Jelas saja Cynthia tak'kan bisa mendengar suara ketiga orang itu, karena jaraknya cukup jauh dari tempatnya berada. Sampai kemudian hal mencengangkan terjadi, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa si wanita berambut sepunggung secara spontan menampar keras pipi si pria tampan tanpa belas kasih.

Cynthia bahkan bisa merasakan rasa sakitnya dari sini. Setelah itu, si wanita berambut sepunggung berbalik dan melenggang pergi menjauh dari kedua sejoli itu seolah ingin menyembunyikan air mata yang sudah tergenang pelupuk matanya. Kini Cynthia bisa melihat jelas bagaimana rupa wanita itu, wajah yang cukup familiar dan ia kenal.

Jiandra Diva Larasati.

Sebuah nama yang sempat menggoyahkan rasa percaya dirinya berbulan lalu, gadis yang dulu ia cap sebagai saingan dalam hal mendapatkan hati Bubu. Meski terhalang jarak, bola mata Cynthia jelas bisa menangkap raut kesedihan di diri wanita itu.

Rasa iba tiba-tiba mencubit bagian terdalam nuraninya, ia harus berbuat apa sekarang? Berlalu dan bersikap seolah tak tahu atau menghampiri gadis itu? Namun akan terasa sangat aneh kalau ia memilih opsi kedua, karena ia dan Jiandra tidak terbilang dekat untuk menanyakan keadaan masing-masing. Dirinya juga tak ingin dinilai sebagai tukang ikut campur.

“Cin lagi liatin apa sih? Fokus gitu.” Lamunan Cynthia buyar, ia menoleh ke samping dan mendapati sang pacar tengah memusatkan atensi padanya dengan tatapan penasaran.

“Aku liat Jiandra, dia ada di sini.”

Mata Bubu membulat, “Hah? Serius? Mana?! Di mana?! Bubu udah lama gak ketemu dia.” Ia tampak sangat bersemangat.

“Itu di sana,” tunjuk Cynthia ke tempat Jiandra berada. “Tapi kayaknya dia lagi nangis deh, soalnya tadi ...,” Penjelasannya terpotong sebab Bubu sudah melangkah cepat menghampiri sang teman. Cynthia menghela napas, ia harap keputusannya memberi tahu Bubu perihal keberadaan Jiandra sudah tepat.

Sementara Bubu, ia berjalan tergesa saat menangkap eksistensi Jiandra dan keadaannya yang terbilang tak baik-baik saja. Mengapa setelah sekian lama tak berjumpa, ia harus bertemu gadis itu di situasi semacam ini?

“Jian?”

Jiandra mendongak ketika namanya disebut, lelehan air mata masih tersisa di sekitar wajahnya. Matanya membulat saat bersirobok dengan manik mata seseorang yang tak ia sangka akan berjumpa di tempat ini.

“Bubu?” Segera ia hapus air mata yang mengaliri pipinya. Merasa malu karena tertangkap basah sedang menangis.

“Jangan dihapus, kalau mau nangis keluarin aja gak perlu ditahan. Buang rasa sesak kamu sampai menguap gak tersisa.”

Jiandra hanya menggeleng, mengisyaratkan penolakan. Bubu mengangguk paham, beberapa orang memang benci terlihat menyedihkan di hadapan orang lain.

“Kamu sendirian?” Jiandra mengubah haluan pembicaraan, menghindari pertanyaan tentang mengapa ia bisa berakhir menangis di tempat ini.

“Enggak, aku kesini bareng Cicin.”

“Ah ...,” Jiandra tersenyum kikuk karena tak menyadari ada orang lain berdiri di samping Bubu. Ia tidak fokus.

Cynthia memasang senyum paksa, merasa sedikit kesal karena Bubu meninggalkannya begitu saja dan tak memperjelas hubungan keduanya di depan Jiandra; memperjelas dalam artian mengclaim dirinya sebagai pacar. Rasa posesif sialan ini entah datang dari mana, padahal biasanya ia selalu santai dan tak pernah berlaku demikian.

“Halo, Kak. Lama enggak ketemu,” sapa Jian.

“Iyaaa, kamu apa kabar Jian?”

Setelahnya obrolan ketiganya mengalir begitu saja, ah tepatnya hanya Bubu dan Jiandra karena Cynthia hanya menimpal sesekali. Kedua anak manusia itu seakan menciptakan dunia sendiri dalam obrolannya. Menjadikan Cynthia merasa ... tersisihkan? Entah, ia benci mengakuinya.

“Bubu, kayaknya aku harus pulang sekarang.” Jiandra berkata demikian usai mengecek arlojinya.

Bubu mengigit belah bibir bawahnya, Jiandra sudah ingin pulang? Padahal baru sebentar mereka berbincang setelah sekian lama tak beradu pandang. “Gitu ya? Kamu pulang naik apa?”

“Taksi online.”

“Udah mesen?”

“Belum, sih, ini mau.”

“Mending pulang bareng kita aja, searah juga 'kan?” Mendengar penuturan polos Bubu, Cynthia membelalakkan mata, mengekspresikan rasa tak terima.

“Aku naik taksi aja deh, gak enak kalau harus ganggu quality time kalian.”

“Eh? Enggak kok, serius mending bareng kita aja, Jian. Iya kan, Cin? Kita sama sekali gak masalah kalau Jian mau pulang bareng kita,” Bubu bersikeras, bukan bermaksud apa-apa ia cuma ada khawatir kalau harus membiarkan temannya itu pulang sendirian setelah ia pergoki menangis.

Karena ia tak berani menanyakan alasan tangis gadis itu tercipta, ia rasa setidaknya harus memastikan Jiandra tidak merasa sendirian di tengah kesedihan yang merundungnya. Bubu ingin berperan jadi teman yang baik, dan mengajak Jiandra pulang bersama adalah keputusan terbaik agar gadis itu tak menangis seorang diri di perjalanan pulangnya.

“Iya enggak apa-apa kalau kamu mau bareng kita.” Menenggelamkan egonya, Cynthia mengangguk setuju walau ia berdecih dalam hati. Siapa yang tadi bersikeras menolak pulang, beralasan ingin sedikit lama bersama dirinya. Dan lihat, kini siapa yang menawari orang lain pulang bersama? Labil sekali bukan pacar kesayangannya ini?

“Tuh denger, Cicin sama sekali gak masalah kamu pulang bareng kita. Jadi gak ada alasan buat nolak.”

“Oke deh, makasih ya.”

“Ya udah ayo pulang sekarang,” ajak Cynthia.

“Tunggu!” Bubu terdiam sebentar, lalu mengambil alih sebungkus gulali yang mulanya berada di tangan Cynthia.

“Nih, gulali buat Jian yang lagi sedih. Katanya makanan manis itu bisa bikin perasaan membaik, jadi jangan ditolak.” Bubu menyodorkan bungkusan itu pada Jiandra yang diterima gadis itu dengan ragu-ragu.

“Sekarang ayo pulaaaang!” ajak Bubu penuh antusias, seraya menggandeng erat telapak tangan Cynthia. Sementara Jiandra mengekori mereka dari belakang, sedikit menjaga jarak.

“Lho Jian kenapa jalan di belakang? Udah kayak bodyguard aja. Sini dong barengan, kalau gitu kayak orang musuhan tau.” Dengan polosnya Bubu menarik tangan Jiandra, menjadikan posisinya diapit kedua wanita di sisi kanan dan kirinya.

Sebetulnya emosi Cynthia sudah memuncak, siap meluap dan meledak-ledak. Sungguh-sungguh jengkel atas segala perlakuan Bubu yang menurutnya sudah melewati batas, ia paham jika Jiandra habis mengalami kejadian tak mengenakkan. Memberikan gulali yang seharusnya mereka nikmati berdua pada Jiandra, masih bisa ditoleransi. Namun dalam kasus ini, di mana lelaki itu begitu santainya menggendeng tangan Jiandra saat ia juga tengah bergandengan tangan dengan dirinya membuat Cynthia benar-benar muak. Empati Bubu benar-benar meruah dan tak terkendali, dan itu menyebalkan.

Cynthia melepaskan tautan jemarinya sepihak, beralasan tidak nyaman karena telapak tangannya basah dan melenggang pergi berjalan lebih dulu menuju lahan parkir. Lebih baik begini 'kan ketimbang harus menegur dan menciptakan keributan?


Written by C